Pembebasan Ba'asyir dan Potensi Munculnya Kembali Serangan Teroris

Reporter: Felix Nathaniel - 23 Jan 2019 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Jika Abu Bakar Ba’asyir bebas, apakah sel teroris bangkit? Mungkin iya, tapi potensinya kecil mengingat pengaruhnya sudah sangat berkurang.
tirto.id - Abu Bakar Ba’asyir punya tempat khusus dalam sejarah terorisme Indonesia. Dia dikenal dekat dengan pelaku Bom Bali I tahun 2002 seperti Ali Gufron alias Mukhlas dan Amrozi.

Salah satu pelaku lainnya, Ali Imron, yang juga saudara Amrozi dan Mukhlas, pun mengenal Ba’asyir. Namun Imron mengatakan bahwa Ba’asyir tak ikut serta, apalagi merestui aksi Bom Bali I. Namun fakta bahwa Amrozi dan Mukhlas sering bertemu Ba’asyir benar adanya.

Pada 2007, Ba’asyir bahkan menyempatkan diri bertemu dengan Amrozi di Nusakambangan. Saat itu Amrozi sudah divonis hukuman mati. Baik Amrozi, Ali Gufron, maupun pelaku lainnya yakni Imam Samudra mendapat nasihat dari Ba’asyir.

Ba’asyir juga ikut hadir saat pemakaman Amrozi dan Ali Gufron pada November 2008.

Nama Ba’asyir lekat dengan Jamaah Islamiyah (JI)—bertanggung jawab terhadap puluhan teror bom, termasuk Bom Bali—kelompok yang menginduk pada al-Qaeda. Ba’asyir kerap disebut sebagai pemimpin spiritual kelompok klandestin ini. Belakangan dominasi JI hilang dan diganti Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ba’asyir keluar dari JI lalu mendirikan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada September 2008. Tahun 2012, organisasi ini dimasukkan sebagai ke daftar organisasi teroris asing (FTO) oleh Departemen Luar Negeri AS.

Tak Lagi Signifikan


Nama Abu Bakar Ba’asyir kembali ramai dibicarakan setelah Joko Widodo berencana membebaskannya tanpa syarat, lalu kemudian ditunda oleh Wiranto.


Mengingat sepak terjangnya selama ini, apakah jika bebas Ba’asyir bisa memicu kembali aksi-aksi teror di Indonesia? Bagi pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, jawabannya negatif. Pembebasan Ba’asyir tak bakal serta merta memicu pergerakan kelompok teror.

"Ada kemungkinan hal itu bakal terjadi [memicu sel teroris] karena radikalisme Abu Bakar Ba’asyir itu masih ada, tapi sudah kecil semenjak dia meninggalkan ISIS," kata Chaidar kepada reporter Tirto, Senin (21/1/2019) lalu.

Ba’asyir bahkan tak kenal dengan kelompok teroris yang masih aktif, yakni Jamaah Anshar Daulah (JAD), kata Chaidar. JAD—yang terkait dengan Bom Thamrin, serangan di Mako Brimob Depok, dan bom bunuh diri di Surabaya—telah dilarang oleh PN Jaksel.

"Kalau untuk yang dari JAD sama sekali sudah terputus karena Abu Bakar Ba’asyir menyatakan keluar dari ISIS [JAD terafiliasi dengan ISIS]. Jadi kalau Ustaz Abu keluar, kecil kemungkinan dia akan didatangi [pengikut JAD]," kata Chaidar lagi.

Kelompok ISIS dan al-Qaeda di luar negeri pun sulit mendekati Ba’asyir. Al Chaidar menganggap kelompok ini akan bertahan di daerahnya masing-masing agar tetap tak terdeteksi. "Mereka, kan, berusaha tidak terpantau. Kalau bertemu Ustaz Abu, mereka bisa terpantau dan itu malah yang mereka takutkan."

Hal serupa diutarakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. Mu’ti mengatakan Ba’asyir, yang kini berusia 82 tahun, bukan lagi figur sentral dan berpengaruh dalam organisasi teroris mana pun di Indonesia. Lagipula, katanya, jaringan Ba’asyir yang dulu sudah rontok.

"Gerakan JI, Al-Qaeda, dan JAT, yang selama ini dikaitkan dengan Ustaz Abu Bakar sudah sangat lemah. Terorisme di Indonesia merupakan jaringan baru," kata dia.


Infografik CI Abu Bakar ba'asyir
Infografik CI Abu Bakar ba'asyir


Diproteksi


Agar Ba’asyir tak lagi kembali jadi figur sentral, mantan teroris dari JI Sofyan Tsauri mengatakan keluarga harus punya peran besar, misalnya, memfilter siapa yang bisa bertemu dengan dia. Sebab, meski kemungkinannya kecil, sisa kelompok JAD ataupun JI bisa saja meminta wejangan lagi kepada Ba’asyir.

"Sekarang tinggal proteksi keluarganya, jangan sampai dia jadi icon lagi," kata Sofyan kepada reporter Tirto.

Tim Pengacara Muslim (TPM), kuasa hukum Ba’asyir, mengatakan apa yang diperingatkan Sofyan memang telah diantisipasi.

"Kami tahu banyak orang datang [menemui Ba’asyir], cari apa yang disampaikan ustaz, kemudian akan diputarbalikkan. Ini yang akan kami jaga,” kata salah satu pengacara TPM Achmad Michdan di Fatmawati, Jakarta Selatan. "Kami tahu banyak orang yang akan memanfaatkan, memanipulasi, dan akan membuat teror [setelah menemui Ba’asyir]."

Michdan menyatakan yang akan melakukan proteksi itu adalah keluarga. Jika bebas rencananya Ba’asyir akan tinggal sementara bersama anaknya, Abdul Rochim, di Solo.

Baca juga artikel terkait ABU BAKAR BAASYIR atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino

DarkLight