Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Harga Tekstil di Pasar Tanah Abang

Oleh: Hendra Friana - 5 September 2018
Dibaca Normal 1 menit
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak mempengaruhi harga pakaian di pasar Tanah Abang Jakarta.
tirto.id -
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejauh ini tidak mempengaruhi harga tekstil di pasar Tanah Abang Jakarta.

Beberapa pedagang pakaian di Tanah Abang bahkan mengaku belum menaikkan harga jual meski sebagian besar dagangan mereka merupakan barang impor. Harga pakaian seperti kemeja dan celana jeans belum mengalami kenaikan.

Ikhsan Al-Khotbi, salah satu penjual pakaian muslim di lantai 1 Blok A Tanah Abang, mengatakan, kebanyakan baran dagangan di Tanah Abang diimpor dari Cina dan India. "Mungkin karena itu kali ya, jadi enggak ada kenaikan. Kan dolar yang naik. Kalau bahan, mah, dari dulu, begini-begini aja," aku pemilik toko Sulfina ini kepada Tirto, Rabu (5/9/2018).

Di Tanah Abang Metro, beberapa toko yang menjual pakaian-pakaian impor juga belum menaikkan harga jual. Aditya Saputra (32), penjual kemeja yang tokonya berada di lantai 3, mengaku belum mengetahui apakah harga barang impor yang biasa ia beli sudah mengalami kenaikan.

"Soalnya saya belum belanja lagi. Kalau ini masih (barang) lama, sih. Tapi biasanya enggak naik," tuturnya saat ditemui Tirto di depan toko Cotton Art miliknya.

Biasanya, kata Adit, ia menjual kemeja dengan kisaran harga Rp50-100 ribu. Biasanya, harga-harga bahan juga tidak mengalami kenaikan drastis meski harga dolar mengalami kenaikan.

Hal ini telah lama ia alami, termasuk ketika dolar tembus Rp.14 ribu pada Mei lalu. "Normal aja harganya. Malah yang naik terus yang dari lokal. Bandung," imbuhnya.

Pakaian-pakaian impor memang membanjiri hampir semua kios di Tanah Abang. Rata-rata baju tersebut berasal dari Cina, namun ada pula yang berasal dari India.

Dari penelusuran Tirto, barang-barang impor itu paling banyak dijajakan di lantai 6 Pasar Metro Tanah Abang. Irfan, salah satu pedagang di lantai tersebut mengatakan, tokonya menjual pakaian wanita dengan harga Rp. 100-150 ribu rupiah.

Harga ini relatif tidak berubah sejak tahun 2014, ketika ia pertama kali membuka tokonya. "Yang lokal ini justru naikin harga. Mungkin karena kalah saing. Semakin mahal," katanya.

Selain barang impor yang berupa, ia juga membeli bahan untuk dijahit sendiri di tokonya. "Kalau ini bahannya beda, dari Cina juga. Dari importir lain saya ngambilnya. Tapi belum ada tanda-tanda kenaikan harga," imbuhnya.

Nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal 2018. Tekanan dolar terhadap rupiah terus berlanjut hingga akhirnya menembus Rp14.000 per dolar AS pada 7 Mei 2018. Padahal per 2 Januari 2018, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih tercatat Rp13.542 per dolar AS.

Puncaknya, pada penutupan perdagangan Jumat kemarin (31/8/2018), rupiah berada di level Rp14.829 per dolar AS. Pada Selasa (4/9/2018) sore, rupiah bahkan sempat menyentuh angka Rp 15.000 per dolar AS.


Baca juga artikel terkait NILAI RUPIAH atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Agung DH