Papua, Nat King Cole dan Billie Holiday yang Melawan Rasisme

Oleh: Alexander Haryanto - 28 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Papua, Nat King Cole dan Billie Holiday dalam pusaran rasisme.
tirto.id - Dorlince Iyowau dan 42 mahasiswa Papua ikut digelandang ke Mapolrestabes Surabaya, kejadian itu tepat di saat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan. Sebelumnya, polisi sempat menembakkan gas air mata dan menjebol pintu pagar asrama mereka.

Penyebabnya, menurut Dorli, karena tuduhan bendera merah putih yang terpasang di depan asrama, tiba-tiba saja berada di dalam saluran air. "Karena kami tidak tahu soal itu [bendera merah putih] di dalam got. Kami minta bernegosiasi. Tapi TNI menolak," ujar Dorli.

Sembari mendobrak pintu, Dorli juga mengungkap perlakuan rasisme yang dilakukan aparat, salah satunya dengan meneriaki mereka monyet.

Tindakan rasisme di Jawa Timur itu berubah menjadi lautan massa di sejumlah wilayah Papua dan Papua Barat. Senin (19/8/2019) pagi situasi mencekam menyelimuti Manokwari.

Sejumlah jalan protokol diblokir mahasiswa dan masyarakat. “Massa cenderung beringas, sehingga kami tak bisa mendekat, Gedung DPRD provinsi sudah dibakar,” kata Wakil Gubernur Papua Barat Muhammad Lakotani dalam program Breaking News KompasTV, Senin pagi.

Kemarahan ini sebagai bentuk dari akumulasi, Ambrosius Mulait (23), mahasiswa asal Papua ingat betul perlakuan rasis harus dia terima bahkan saat baru menginjakkan kaki di Jakarta.

Ambrosius bercerita bagaimana dia dan kawan-kawan Papua lain kesulitan mencari kontrakan karena menolak kamarnya dihuni mahasiswa asal Papua.

"Mereka sebut kami pemabuk, suka berkumpul banyak. Stigma kami sudah buruk," katanya.


Nat King Cole dan Billie Holiday Melawan Rasisme

Tidak hanya Ambrosius dan hanya mahasiswa Papua lainnya yang pernah mengalami tindakan rasisme. Berpuluh tahun lalu, penyanyi Afrika-Amerika Nat King Cole juga pernah mengalami peristiwa serupa.

Cole dan keluarganya bahkan harus mengalami teror rasisme dari para tetangganya di lingkungan ekslusif Hancock Park, Los Angeles, Amerika Serikat. Ketika itu ia memutuskan untuk pindah sekitar tahun 1948 ke pinggiran kota yang kaya.

Nat King Cole merupakan salah satu keluarga Afrika-Amerika pertama yang tinggal di kawasan itu. Bahkan, para tetangganya mencegah untuk membeli rumah dengan menempuh jalur hukum.

Namun, putusan Mahkamah Agung AS melarang perjanjian properti yang membatasi ras sehingga keluarga Cole tetap bisa tetap tinggal di sana. Namun demikian, Cole harus mengalami serangkaian kejadian pahit lainnya, seperti anjingnya diracun, hingga membakar semak-semak pekarangan rumahnya.

Tetangga Cole, seperti diungkap penerbit musik Ivan Mogull: "tidak ingin orang kulit hitam di lingkungan itu dan mereka melakukan segalanya untuk membuatnya tidak nyaman," kata Ivan, seperti dikutip dari Independent.

Tak berhenti sampai di sana, pada tahun 1956, Nat King Cole bahkan pernah membatalkan tiga penampilannya di Amerika Serikat Selatan usai diserang orang kulit putih ketika sedang bernyanyi di Birmingham, Alabama. Akibatnya, Cole mengalami cedera punggung, seperti dikutip The Guardian.

Polisi melaporkan lebih dari seratus orang kulit putih telah berencana untuk menyerang Cole. Masih menurut polisi, mereka datang sebuah mobil yang di dalamnya ditemukan beberapa senapan. Saat itu, Cole adalah penyanyi yang sukses dan kerap menyuarakan persamaan hak untuk orang-orang Afrika-Amerika.

Lagu-lagunya seperti "Straighten Up and Fly Right," dan "The Christmas Song," menjadi kendaraannya untuk tampil di film-film Hollywood, radio nasional, bahkan memiliki acara TV sendiri, sebuah hal yang jarang dilakukan oleh orang-orang Afrika-Amerika saat itu.

Dalam kisah lain di tahun 1944, penyanyi jazz Billie Holiday bahkan pernah memecahkan botol bir dan menghajar seorang perwira angkatan laut karena memanggilnya negro.

Tapi Holiday membuat sebuah hal yang berani. Di saat rasisme di Amerika memuncak, ia melahirkan lagu Strange Fruit, yang ditulis oleh seorang guru Yahudi sekaligus anggota Partai Komunis, Abel Meeropol. .

Seakan hidup di pikiran banyak orang, Strange Fruit berhasil menjadi magnet dan ikon pergerakan karena mampu membangkitkan kesadaran politik bagi banyak kalangan, baik itu artis, musisi, aktor serta siswa dan kaum intelektual mengecam rasisme.

Seorang wartawan, David Margolick, dalam bukunya yang berjudul “Strange Fruit: Billie Holiday, Café Society and an Early Cry for Civil Rights” mengatakan lagu protes ini dapat mengartikulasikan kesadaran dan kemarahan dalam membangkitkan gerakan hak-hak sipil di tahun 1950 dan 1960-an.

Kendati demikian, rasisme di Amerika belum sepenuhnya hilang. Saat seorang teman melihat Holiday berkeliaran di jalan, ia bertanya: "apa kabarmu Lady Day?"

"Yah, kau tahu, aku masih negro." jawab Holiday.


Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight