Pandemi Corona Bikin Restoran 'Turun ke Jalan'

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 19 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Corona buat hotel dan restoran putar otak tetap dapat untung. Salah satu upayanya adalah menjajakan dagangan di pinggir jalan.
tirto.id - Pada suatu siang, dengan seragam abu-abu khas, para pegawai Pizza Hut tampak menjajakan dagangan di pinggir jalan. Piza disimpan di dalam boks khusus yang dipasang di bagian belakang sepeda motor. Di lain tempat mereka pakai mobil. Untuk menarik perhatian, dipasanglah spanduk berdiri.

Hadian Iswara, CFO PT Sriboga Raturaya, pemilik jaringan waralaba restoran Pizza Hut, mengatakan menjajakan dagangan di pinggir jalan adalah salah satu strategi agar tetap bertahan dari gempuran COVID-19. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari pemerintah membuat pusat-pusat perbelanjaan ditutup, padahal di sanalah mereka biasa membuka gerai.

"Untuk mendorong [penjualan]. Kan dulu [selama PSBB] enggak boleh buka," ujar Hadian kepada reporter Tirto, Selasa (14/7/2020). "Kalau enggak ada delivery, enggak ada jualan di pinggir jalan, bisa lebih [rugi] lagi."

Gerai 'dadakan' dibuka dengan sejumlah ketentuan. "Ada batasannya, ada ketentuannya. Enggak semua produk dijajakan, misalnya pan pizza [saja]. Dan berapa jauh dari outlet-nya, misalnya satu kilometer."

Hadian berharap dengan cara ini perusahaan tak perlu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawan, sebagaimana yang terjadi di banyak sektor industri lain. "Yang penting sekarang [uang] muter dulu, kami bisa bayar karyawan meski marginnya kami korbankan dengan promo," katanya.


Hal serupa dilakukan beberapa hotel. Meski selama PSBB hotel tetap diperbolehkan beroperasi, tapi tingkat huniannya anjlok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hotel klasifikasi bintang di Indonesia saja tingkat huniannya per Mei lalu kurang dari 15 persen. Mereka lantas berinisiatif mengerahkan para koki dan pekerja di dapur untuk membuka gerai di pinggir jalan.

Wakil Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan "apa pun polanya, ini adalah strategi mereka untuk memperkecil kerugian dari Maret (awal Corona masuk Indonesia) sampai sekarang."

Selain membuat 'dapur turun ke jalan', ia juga mengatakan ada pula hotel yang mengaktifkan dapurnya "buat katering." "Karena mereka punya dapur, punya bahan, daripada enggak ada aktivitas," katanya kepada reporter Tirto.

Bisa Caplok Pasar UMKM

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan umumnya strategi yang mereka terapkan adalah membuat margin sangat tipis. "Yang penting ada untung sedikit tapi market share-nya bisa diperluas," katanya kepada reporter Tirto.

Strategi ini bukan tanpa efek samping. Selain pendapatan yang belum tentu sebesar operasional biasa, dari kacamata yang lebih luas, aksi ini berisiko menggerus pasar kuliner kelas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), apalagi jika mereka membanting harga sampai pada level terendah. "Kalau ambil kelas menengah ke bawah, pasti akan terjadi kanibalisme. Market share yang menengah ke bawah mungkin akan diambil juga oleh restoran yang elite."


Meski demikian, ia percaya para pelaku usaha restoran dan hotel tak akan sampai sejauh itu menurunkan harga. Alasan paling utama adalah apa yang mereka jual "kelasnya beda" dengan yang dijajakan UMKM.

Tapi bukan berarti kondisi ini dapat dibiarkan begitu saja. Bila dibiarkan, bukan tidak mungkin kekhawatiran pebisnis restoran menggerus pasar UMKM bisa benar-benar terjadi. Untuk itu ia menyarankan sejumlah langkah agar pemerintah menyelamatkan pelaku industri di sektor hotel dan restoran. "Kurangi beban operasional seperti listrik dan air supaya pengusaha kelas atas tetap di menengah dan tidak mengambil pasar di bawah," katanya.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) M. Faisal juga menyampaikan saran serupa. Pemerintah harus mengambil tindakan agar kondisi ini tak berkepanjangan dan malah menimbulkan efek berantai ke sektor lain.

"Jadi semestinya semuanya dikasih stimulus," kata dia kepada reporter Tirto. Namun jika ada yang perlu diprioritaskan, itu adalah pelaku UMKM yang modalnya terbatas. "Harus jeli lihat skala prioritas. Kalau tujuannya adalah untuk mempercepat recover, menekan dampak wabah ke ekonomi, UMKM yang seharusnya ditambah stimulusnya. UMKM kan mendominasi di Indonesia," tandas dia.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino
DarkLight