Orang-Orang Armenia di Nusantara

Oleh: Tony Firman - 11 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Hubungan bilateral Indonesia - Armenia sudah berlangsung selama 24 tahun. Volume perdagangan antarkedua negara pernah mencapai 6,42 juta dolar. Tidak terlalu besar. Padahal sejarah keberadaan orang-orang Armenia di Indonesia sudah cukup panjang. Sejak abad-17, orang Armenia telah menginjakkan kaki di Indonesia. Kartu pos yang dikirim sesama orang Armenia menjadi saksi mata.
tirto.id - Awal November, Indonesia dan Armenia telah bertemu dalam bingkai hubungan bilateral. Menteri Luar Negeri Armenia Edward Nalbandian datang ke Indonesia dan diterima Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Indonesia.

Dalam rilis resmi Kemenlu RI, keduanya membahas berbagai upaya untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang ekonomi. Pertemuan bilateral juga membahas kemungkinan kerja sama lebih dalam dengan konteks Eurasian Economic Union (EEU).

Selama lima tahun terakhir, volume perdagangan Indonesia-Armenia mengalami naik turun. Pada 2011 menjadi tahun dengan nilai perdagangan tertinggi dan terbesar, mencapai angka 6,42 juta dolar. Pada 2012 turun menyentuh angka 3.62 juta dolar. Sedangkan pada 2013 naik sedikit menjadi 3,70 juta dolar. Pada 2014 melesat lagi hingga 4,24 juta dolar. Tetapi tahun lalu nilai perdagangan merosot ke titik terendah di angka 2,66 juta dolar.

Ekspor utama Indonesia ke Armenia adalah kopi, teh, dan rempah-rempah. Dilanjutkan dengan paper & paperboard, karet alam dan produk turunannya, alat-alat optik dan animal & vegetable fats and oils, barang pecah belah, furniture, lampu, tepung kanji, produk buah, plastik dan turunannya.

Penurunan nilai perdagangan pada 2014 ke 2015 ini, menurut laporan resmi Kemenlu, terutama disebabkan instabilitas ekonomi Rusia yang menjadi sumber remitansi terbesar Armenia sekaligus mitra dagang utama Armenia. Selain itu juga dipengaruhi belum pulihnya keadaan ekonomi dunia, turunnya harga komoditas di pasar dunia, dan pengaruh perubahan strategic environment akibat krisis Ukraina.

Selain ekonomi, kedua Menlu juga membahas kerja sama bilateral di bidang budaya, pendidikan serta pariwisata. Tidak lupa juga membahas isu global yang menjadi perhatian kedua pihak.

Kedua Menlu sepakat menandatangani persetujuan bebas visa bagi para pemegang paspor diplomatik atau paspor dinas. Keduanya juga sepakat masih banyak ruang yang dapat digali lebih jauh dalam berbagai bidang kerja sama.

Infografik Hubungan Bilateral Armenia Indonesia


Hubungan bilateral Indonesia Armenia secara resmi sudah berlangsung selama 24 tahun, dimulai sejak 22 September 1992. Bagi Indonesia, Armenia merupakan mitra dagang RI ke-21 di Eropa Tengah dan Timur.

Namun, cerita hubungan Armenia dan Indonesia sudah jauh lebih lama. Jika dinapaktilasi, jejaknya merentang hingga zaman pra-kemerdekaan. Kolonialisme Belanda memungkinkan bangsa-bangsa lain berdatangan ke wilayah Hindia Belanda. Tidak terkecuali bangsa Armenia, bangsa yang berada di Asia Barat, berbatasan dengan Turki, Georgia, Iran dan Azerbaijan.

Interaksi orang-orang Armenia dengan orang Belanda sendiri diyakini telah dimulai sejak abad ke 13 dan 14, saat para pedagang Belanda tiba di Kilikia. Orang-orang Armenia membawa berbagai barang-barang seperti karpet, pewarna, kapas, dan rempah-rempah ke Belanda dan sekitarnya. Dari sanalah kemudian bangsa Armenia mulai berinteraksi dengan Indonesia. Dari pelayaran Amsterdam ke Asia Tenggara, banyak orang-orang Armenia yang ikut belayar dengan motif berdagang.

Sayangnya belum terlalu banyak catatan sejarah tentang kedatangan bangsa Armenia ke Hindia. Ellias Hyrapiet Elliasian, yang pada 1962 menerbitkan manuskrip berjudul Concise History of the Armenians in Indonesian, juga mengakui sulitnya mengendus jejak lama interaksi bangsa Armenia dan Indonesia.

“Tampaknya para pemukim awal Armenia di Indonesia sangat serius dan terserap dalam kegiatan komersial sehingga mereka tak meninggalkan catatan tertulis dari kegiatan komersial mereka atau peristiwa penting dalam kehidupan keagamaan, sosial, atau budaya masyarakat yang punya nilai sejarah,” tulis E.H Ellis.

Ellis yang lahir pada 1889 di New Julfa, Isfahan, pernah tinggal di Indonesia dan meninggal dunia di Surabaya pada 1963 lalu. Dalam catatannya, Ellias merujuk peristiwa kedatangan orang Armenia bernama Codja Solima pada 1659 yang berdagang di Makasar. Ellis sendiri merujuk tulisan Gasper Paulus berjudul Short history of the Armenian community in Netherlands Indies.

Dari sana diketahui bahwa orang Armenia sudah menginjakkan kaki di Amsterdam pada abad ke 16. Diperkirakan bahwa baru seabad kemudian, pada abad ke-17, orang-orang Armenia mulai berlayar ke Hindia Belanda. Mereka berangkat dari Amsterdam yang kala itu memiliki komunitas perdagangan bangsa Armenia terbesar.

Komunitas Armenia di Madrash, India, pada paruh abad ke 18 disebutkan juga mulai mendatangi pulau Jawa. Komunitas di Madrash tiba di Jawa melalui Manila sebelum akhirnya tiba di Jawa.

Salah satu nama Armenia di Hindia Belanda yang tercatat adalah Harouthion Zakaria atau Arathoon Zakara. Ia pedagang yang meninggal dunia dan dimakamkan di Batavia pada 1801. Makamnya menjadi makam tertua orang Armenia di Batavia.

Tokoh Armenia lainnya yang juga meninggal di Batavia ialah Gavork atau George Manuk. Ia lahir di New Julfa, Isfahan, pada 1767 dan meninggal di Batavia pada 1827. Menurut Alle G. Hoekema, dalam sebuah artikel berjudul “Orang Kristen Armenia: Suatu Minoritas Kecil di Indonesia yang Sudah Punah”, Gavork adalah pedagang sukses yang tak pernah menikah dan meninggal dunia sebagai seorang milyuner. Hartanya banyak diwariskan kepada Armenian Philanthropic Academy di Kolkata, sekolah Armenia di Madras dan kepada gereja di Echmiadzin.

Sebagian lain warisan Gavork digunakan adik-adik perempuannya, Mariam Arathoon dan Takouhi, untuk membangun suatu gereja di Batavia. Menurut sumber-sumber lain, Mariam Arathoon membayar hampir 90% dari ongkos-ongkos yang dibutuhkan untuk menghidupkan komunitas Armenia di Hindia-Belanda.

Laporan lain terkait jejak komunitas Armenia di Indonesia juga dapat dilacak dari aktivitas berkirim kartu pos dengan relasi dari New Julfa, Isfahan, yang sekarang berada di Iran, ke berbagai kota besar di Hindia Belanda. Buku The Armenian Minority in the Dutch East Indies yang disusun Han T. Siem, banyak memberikan wawasan soal rute pos antara Persia dan Hindia Belanda pada pergantian abad ke-20. Relasi lewat pos ini tentu saja terkait erat dengan eksistensi komunitas Armenia di Hindia Belanda.

Persebaran orang Armenia di Asia Tenggara berlangsung hampir bersamaan dengan perluasan perusahaan dagang dari Inggris dan Belanda. Di setiap kota utama, agen perusahaan dari Armenia juga berdiri sebagai perwakilan. Ini juga yang terjadi di Batavia sebagai pusat aktivitas perdagangan dan pemerintahan Belanda.

Jejak dari keberadaan komunitas Armenia di Hindia Belanda adalah bangunan gereja yang dibangun Hakob Haroutyounian, seorang pedagang Armenia di Batavia. Pada 1841, ia memiliki sebuah kapel kayu yang dibangun dengan biaya sendiri yang didedikasikan untuk St Hripsime. Pada 1857, bangunan gereja yang telah selesai dibangun di sudut barat daya Medan Merdeka sekarang.

Paruh kedua abad 19, pusat komunitas Armenia di Hindia Belanda secara bertahap berpindah ke Surabaya. Pada 1900an, Surabaya telah menjadi kota yang paling penting bagi orang Armenia di Hindia Belanda. Rute para pendatang dari Armenia menjadi lebih jauh. Dalam catatan tersebut dijelaskan, mereka berjalan dari Isfahan ke Basra kemudian dilanjutkan menggunakan kapal ke Madras dan menumpang di gereja Armenia setempat. Tahap berikutnya mereka ke Kalkuta dan Singapura. Dari sana mereka melanjutkan pelayaran ke Surabaya.

Di Bali, kehadiran komunitas Armenia terendus jejaknya melalui kartu pos dari Singaraja yang dikirimkan ke Gereja Armenia di Kalkuta. Sama seperti berbagai kartu pos yang berasal dari Hindia Belanda, keluarga mereka saling sapa dan melepas rindu melalui tulisan yang memaparkan keadaan mereka di Hindia Belanda. Di sana terlihat kop surat Zorab, Mesrope & Co yang merujuk perusahaan milik orang-orang Armenia.

Korespondensi keluarga Armenia di Persia dengan komunitas Armenia di Hindia Belanda juga memperlihatkan bahwa Makasar juga dihuni oleh orang Armenia. Rute kartu pos ini cukup panjang dan memakan waktu yang lama. Dikirim dan diberangkatkan dari Julfa ke pelabuhan Boushir di Persia. Lalu Diangkut hingga ke Singapura, berlanjut ke Surabaya. Dari sana barulah dikapalkan ke Makasar. Butuh waktu sekitar 44 hari bagi surat-surat itu untuk sampai ke Makasar.

Perusahaan perdagangan orang Armenia di Makasar kala itu adalah Michael, Stephens & Co yang didirikan pada 1870-an oleh Minas Stephens dan John Marcar Michaels. Mereka memiliki kantor pusat di Makasar dan memiliki cabang di Singaraja dan Ampenan, Bali.

Tinjauan ringkas tentang jejak bangsa Armenia di atas sedikit banyak memperlihatkan betapa mereka adalah bangsa yang berani pergi merantau. Berekspansi ke banyak penjuru dunia dengan berdagang. Salah satu penyebabnya tentu saja posisi yang terjepit di antara dua kekuasaan besar dan paling berpengaruh yaitu dinasti Safawiyah di Iran dan kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Situasi pelik yang, pada awal abad-20, berakhir tragis dengan pembantaian bangsa Armenia oleh Turki di sekitar Perang Dunia I.

Para pedagang Armenia silih berganti datang dan pergi di Nusantara, beberapa memilih menetap dan mungkin kini masih meninggalkan jejak keturunan yang telah berbaur dengan orang Indonesia. Namun secara ikatan, komunitas Armenia yang tergolong minoritas itu kini telah punah.

Akan tetapi, pada masanya, terlihat benar betapa mereka merawat dengan baik ikatan primordial di antara sesamanya. Hilir mudik kartu pos di antara sesama orang Armenia di berbagai wilayah Asia memperlihatkan betapa mereka tak pernah melupakan puaknya, asal usulnya.

Setelah Armenia berdiri sebagai negara yang berdaulat dan modern, kontak dengan Indonesia masih terus terjadi. Kali ini bukan semata kontak antar saudagar, namun melibatkan dua pemerintahan yang berdaulat. Untuk huhbungan bilateral ini, Indonesia-Armenia telah bekerjasama selama 24 tahun. Usia yang masih pendek dibanding usia kartu pos yang dikirim dari dan ke Isfahan.

Baca juga artikel terkait INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Zen RS