Nusrat Fateh Ali Khan: Pakistan Juga Berarti Keindahan

Penyanyi Pakistan Nusrat Fateh Ali Khan tampil di acara 'Pakistan 4 U', sebuah konser di kota pelabuhan Karachi (4/5/17). Popularitas Khan telah menyebar ke Barat di mana ia bermain bersama raksasa rock seperti Pearl Jam. Konser diadakan di bawah pengamanan ketat setelah ancaman dari beberapa partai agama Islam yang menentang tarian dan musik. FOTO/REUTERS
Oleh: M Faisal - 15 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Nusrat Fateh Ali Khan adalah bukti bahwa kabar dari Pakistan tidak melulu seputar terorisme, kekerasan terhadap minoritas, dan konflik sektarian, tapi juga tentang kedamaian.
tirto.id - Di sebuah aula yang minim penerangan, ia duduk bersila. Tubuhnya tambun dan rambutnya yang sedikit gondrong terurai ke belakang. Ia mengenakan baju warna putih, mirip gamis, dengan setelan rompi cokelat muda yang nampak pas dipandang.

Di sampingnya duduk beberapa orang dengan alat musik yang bersiap dimainkan. Ada tabla sampai perkusi. Tak lama kemudian, alunan nada mulai keluar dari perkakas tersebut. Bunyinya saling bertautan dan membentuk irama Timur yang syahdu lagi menyayat.

Bunyi-bunyian itu lantas disambut dengan vokal yang kuat, mantap, serta mampu menjangkau nada-nada tinggi. Selama hampir setengah jam lagu berjalan, lelaki mirip Slamet Gundono ini menyajikan penampilan memukau. Tak sebatas teknik, tapi juga secara emosional.

Kala akhir pertunjukan tiba, para penonton yang kebanyakan orang-orang bule pun langsung memberikan standing ovation, tanda penghormatan setinggi-tingginya bagi sang penampil.

Ilustrasi di atas adalah penampilan Nusrat Fateh Ali Khan, penyanyi besar yang dianggap berjasa mengenalkan musik Timur, tepatnya Pakistan, kepada pendengar dunia, saat membawakan “Mere Rashk-e-Qamar” di Birmingham, Inggris, pada 1994 atau tiga tahun sebelum kematiannya.

Nusrat lahir pada 13 Oktober 1948 di Lyallpur (sekarang Faisalabad), Provinsi Punjab, Pakistan. Ia tumbuh di keluarga yang secara turun temurun mendalami qawwali. Ayahnya, Fateh Ali Khan, dan kedua pamannya, Salamat serta Mubarak Ali Khan, merupakan penyanyi qawwali yang punya reputasi.

Meski hari-hari Nusrat lekat dengan qawwali, oleh sang ayah ia justru diarahkan untuk jadi dokter agar tidak jatuh miskin seperti musisi Pakistan kebanyakan. Akan tetapi, hasrat Nusrat mendalami qawwali tidak bisa dihilangkan. Saat ayahnya berlatih, ia selalu mencuri kesempatan untuk ikut. Dari situlah, Nusrat mengasah kemampuannya menyanyi qawwali.


Musik qawwali sendiri berarti “ucapan bijak” atau “filosofis.” Qawwali merupakan ragam musik yang didasarkan pada puisi Sufisme—ilmu menyucikan jiwa dalam Islam untuk memperoleh kebahagiaan abadi—serta kerap berbicara tentang mabuk cinta kepada kekuatan ilahi.

Puisi Sufisme, seperti ditulis Anuradha Bhattacharjee dan Shadab Alam dalam “The Origin and Journey of Qawwali: From Sacred Ritual to Entertainment?” (2014), telah berkembang ke dalam banyak bahasa; dari Arab sampai Turki yang kemudian terintegrasi dengan budaya musik lokal di berbagai belahan dunia.

Javed Haier Syed dalam “Folk Music of Pakistan: Socio-Cultural Influence of Qawwali” (2017, PDF) yang terbit di Journal of Historical Studies menjelaskan, qawwali adalah ragam musik yang populer di Asia Selatan sejak abad 13. Lagu-lagu qawwali ditulis dengan bahasa Urdu, Hindi, Persia Punjabi, dan Sindhi.

Dalam prosesnya, qawwali dimainkan dengan alat musik harmonium, dholak (kendang Pakistan), tabla, perkusi, serta tepukan tangan. Lagu-lagu qawwali dibuka dengan bunyi harmonium, sebelum masuk syair pengantar yang dinyanyikan tanpa perkusi. Saat sudah memasuki lagu utama, perkusi dan tepukan tangan dimainkan secara bersamaan.

Sebagaimana dicatat BBC, musik qawwali biasanya dibawakan delapan sampai sembilan pemain yang tergabung dalam satu grup. Rata-rata lagu qawwali panjangnya sekitar 15 sampai 30 menit. Bahkan, ada lagu yang durasinya bisa mencapai dua jam penuh.

Penampilan perdana Nusrat memainkan musik qawwali tidak terjadi di panggung pementasan, melainkan ketika pemakaman ayahnya yang berlangsung pada 1964, di usianya yang masih menginjak 16 tahun.

Dalam sebuah wawancara tahun 1996, keputusan Nusrat melantunkan qawwali di upacara kematian ayahnya didorong oleh mimpinya bersama sang ayah. Di mimpi tersebut, sang ayah meletakkan tangannya di tenggorokan Nusrat dan kemudian membangkitkan suaranya.

“Aku bermimpi saat ayahku mengajak pergi ke suatu tempat dan memintaku bernyanyi bersamanya,” ujar Nusrat dalam film dokumenter Nusrat Fateh Ali Khan, the Last Prophet (1996).


Selepas kepergian sang ayah, Nusrat kian getol mendalami qawwali. Ia dibimbing kedua pamannya, Salamat serta Mubarak. Ketiganya mulai tampil rutin di berbagai pertunjukan sepanjang 1966.

Lima tahun berselang, Mubarak meninggal dunia. Ditinggal dua sosok yang berpengaruh besar dalam kreativitasnya, Nusrat pun terpukul. Tapi ia menolak menyerah. Nusrat cepat bangkit dan mengambil alih kepemimpinan grup qawwali keluarganya.

Pada 1973, ia merekam debut album di Pakistan. Di tangannya, qawwali terdengar berbeda. Nusrat sedikit memodifikasi musik qawwali—salah satunya dibuktikan dengan mengubah tempo lagu lebih cepat yang disusun berlandaskan perkakas harmonium, perkusi, paduan suara, serta tepukan tangan secara teratur.

Perubahan tersebut seketika menempatkan qawwali dalam dimensi baru. The New York Times mencatat apa yang dilakukan Nusrat—dengan memodifikasi qawwali sesuai gayanya—telah menarik pendengar ke dalam musik qawwali yang penuh semangat dan improvisasi.

“Aku membuat gayaku sendiri,” Nusrat berkata pada satu kesempatan. “Kami terus memperbaharui musik qawwali seiring waktu.”

Semenjak saat itu, Nusrat perlahan menancapkan reputasinya sebagai penyanyi qawwali yang bernas. Dalam rentang akhir 1970an sampai 1990an, total, Nusrat sudah mengeluarkan puluhan sampai ratusan album seperti Shahen-Shah, Shahbaaz, Magic Touch, sampai Parchaiyyan dengan nomor-nomor andalan macam “Halka Halka,” “Sochta Houn,” “Mazaa Aa Gaya,” serta “Sajna Tere Bina.”

Dalam kariernya yang terbentang panjang itu, medio 1980an dianggap jadi masa keemasan Nusrat. Pada masa ini, tepatnya pada 1985, ia mulai merambah pasar Eropa yang diawali dengan tampil di WOMAD (World of Music, Arts and Dance) Festival sebelum akhirnya berkelana hingga Perancis serta melangsungkan tur Amerika pada 1989.

Penampilan-penampilan dengan intensitas cukup masif tersebut menuntun Nusrat pada dua agenda: dikontrak Real Worlds Records dan OSA Birmingham yang dikenal sebagai label yang fokus pada musik-musik non-Barat (dan world music) serta bekerjasama dengan musisi dunia dalam beberapa proyek.

Untuk poin kerjasama dengan musisi dunia lainnya, Nusrat tercatat pernah menjalin relasi dengan Peter Gabriel, Bruce Springsteen, hingga Eddie Vedder. Bersama Peter Gabriel, Nusrat membuat Mustt Mustt yang direkam studio milik Gabriel di Inggris pada 1990.

Dalam proyek itu, ada juga nama Michael Brook, komposer asal Kanada, yang turut serta. Album Mustt Mustt yang dibuatnya bersama Gabriel dan Brook menyajikan perpaduan musik Barat dan Timur yang eksotis. Di tangan keduanya, qawwali terdengar sangat modern dengan masuknya instrumentasi khas Gabriel yang rapi dan konseptual. Ibarat kata, seperti mendengarkan Genesis dengan posisi vokal diisi oleh Nusrat.

“Nusrat adalah salah satu penyanyi terbesar di zaman kita,” ungkap Gabriel. “Ketika ia menyanyi, suaranya memancarkan jiwa yang dalam dan sisi spiritual yang tak terkira.”


Tak sebatas Mustt Mustt, mereka berkolaborasi dalam soundtrack film besutan Martin Scorsese, The Last Temptation of Christ pada 1988. Nama lain yang bekerjasama dengan Nusrat ialah Eddie Vedder, vokalis grup Pearl Jam. Dengan Vedder, Nusrat membuat album pengiring Dead Man Walking (1995).

Proyek yang dijalani Nusrat tak semuanya berakhir memuaskan. Seperti halnya saat ia membantu Oliver Stone menciptakan scoring pada film Natural Born Killers (1994). Proyek itu, aku Nusrat, telah membuatnya tidak senang, karena lagu yang disusunnya digunakan sebagai latar “kerusuhan penjara.”

“Ketika seseorang menggunakan sesuatu yang religius dengan cara seperti itu,” tutur Nusrat, “mau tidak mau telah berandil dan membuat reputasiku jadi buruk.”



Sepak terjang lain yang bakal diingat publik terhadap sosok Nusrat ialah kala ia memutuskan menggarap beberapa lagu untuk film India. Di tengah relasi, sentimen, dan tensi politik yang kerap memanas antara India dan Pakistan, sikap Nusrat bisa dibilang terhitung berani. Salah satu lagu ciptaannya untuk film India yakni “Iss Shaan-E-Karam Ka Kya Kehna” yang termaktub dalam Kachche Dhaage (1999).

Ihwal ini, Nusrat mengatakan kepada Herald Dawn: “Seniman tak punya permusuhan dengan siapa pun. Seniman tak suka perang dan perang tidak baik untuk negara mana pun. Kita harus memiliki jiwa kompetisi intelektual dengan seniman India, seperti halnya pertarungan kriket di antara kedua negara ini. Meski kami tidak punya program pertukaran budaya, tapi kami harus tetap bersaing dengan India.”

Ia menambahkan bahwa musiknya disambut dengan hangat oleh masyarakat India yang dibuktikan dengan banyaknya undangan untuk mendatangkan dirinya.


Memasuki 1990an, kesehatan Nusrat memburuk akibat penyakit liver dan obesitas yang dideritanya. Meski demikian, ia masih tampil total seperti saat menghentak Radio City Music Hall di New York pada 1996.

Di tahun-tahun itu pula ia diganjar pelbagai penghargaan internasional, mulai dari masuk nominasi Grammy untuk kategori Album Folk Tradisional Terbaik (Intoxicated Spirit) dan Album Musik Dunia Terbaik (Night Song) hingga diakui Unesco sebagai “Musisi Terhebat” pada 1995. Tapi, jalan Nusrat tak panjang. Dua tahun berselang, tepatnya pada 16 Agustus 1997, ia meninggal dunia di London.

Meski telah berpulang, Nusrat dipandang meninggalkan jejak yang agung bagi khazanah world music. Ia dianggap berperan besar dalam mengenalkan musik qawwali ke dunia. Dalam bukunya Nusrat: The Voice of Faith (2015), Pierre-Alain Baud, peneliti musik Perancis yang bertemu Nusrat pada 1985 di Theatre de la Ville, menyatakan bahwa Nusrat merupakan pribadi yang penuh teka-teki sekaligus kedamaian yang mampu memberikan inspirasi bagi pendengarnya di seluruh dunia.

Nusrat, tulis Baud, "adalah 'Buddha yang Bernyanyi' di Tokyo, 'Saripati Suara Manusia' di Tunisia, 'Suara Surga' di Los Angeles, 'Roh Islam' di London, 'Pavarotti dari Timur' di Paris, dan 'Shahenshah-e-Qawwali' atau 'Raja dari Segala Raja Qawwali' di Lahore."

Baca juga artikel terkait MUSIK TRADISIONAL atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight