Nasida Ria: Dari Grup Kasidah Tarkam hingga Legenda Musik Islami

Kontributor: Firdaus Agung, tirto.id - 11 Mar 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Mungkin musiknya terdengar jadul, tapi lirik-liriknya masih relevan hingga kiwari. Inilah Nasida Ria.
tirto.id - Mengenakan busana muslimah yang jauh dari kesan kekinian dan lirik lagu yang dipenggal serampangan, foto-foto mereka berseliweran di media sosial. Bukan dalam bentuk video klip melainkan meme-meme yang mengundang tawa.

Begitulah Gen Z mengenal Nasida Ria, grup kasidah yang pernah melejit pada warsa 1980 hingga 1990-an. Meski kini musik mereka terdengar jadul, lagu-lagu yang dibawakan pernah menjadi hit dan pesannya tak lekang oleh zaman.

Bermula dari Murid Qiraah

Didirikan pada 1975 di Semarang oleh Muhammad Zain, ahli qiraah tingkat nasional sekaligus pegawai Departemen Agama, Nasida Ria masuk dapur rekaman tiga tahun kemudian. Album bertitel Alabaladhi menandai debut mereka di belantika musik Tanah Air.

Selain Muhammad Zain, nama lain yang menjadi penyokong popularitas grup ini adalah salah satu pencipta lagunya, Abu Ali Haidar. Di tangannya, lagu-lagu yang dibawakan Nasida Ria sangat berkarakter dan sarat pesan dakwah.

Hingga album keempat, Nasida Ria masih membawakan lagu-lagu berbahasa Arab. Jeli dengan tuntutan pasar, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhori Masruri mengusulkan agar album berikutnya hanya memuat lagu-lagu berbahasa Indonesia.

Keputusan itu didukung oleh pihak manajemen. Setelah album kelima diluncurkan, sambutan masyarakat di luar dugaan. Lagu-lagu mereka sangat digemari melebihi lagu-lagu dalam album sebelumnya. Usul KH. Ahmad Bukhori Masruri terbukti menjadi tonggak kesuksesan Nasida Ria.

Ketika berdiri Nasida Ria memiliki sembilan personel. Selain Mudrikah yang tak lain istri Muhammad Zain, semua personel adalah murid qiraahnya. Mereka adalah Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain.

Pada awalnya Nasida Ria hanya memainkan rebana. Perkembangan terjadi setelah Walikota Semarang Iman Soeparto, yang merupakan salah satu penggemar mereka, memberi hadiah sebuah kibor. Sejak digunakannya alat musik itu Nasida Ria menjelma grup kasidah modern.

Seturut Ning-Hui Hung dalam Transmission and Innovations of Kasidah in Indonesia (2017: 54), Nasida Ria adalah grup kasidah pertama yang memainkan ansambel musik modern, seperti gitar elektrik, bass elektrik, dan kibor.

Alat musik modern itu kemudian dipadukan dengan alat musik tradisional yang biasa digunakan dalam kasidah, seperti ketipung, tamborin, biola, mandolin, dan seruling. Manajemen Nasida Ria mewajibkan personelnya mampu memainkan sedikitnya tiga alat musik, di samping harus bisa bernyanyi.

Saat masih merintis karier grup kasidah asal Semarang itu tampil dari kampung ke kampung, atau istilahnya tarkam, akronim dari antar kampung. Ketika popularitas mereka di panggung musik lokal semakin bersinar, undangan dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau pun berdatangan.

Memasuki dasawarsa 1980-an Nasida Ria mulai menghiasi layar kaca. Pamor mereka terus merangkak naik sampai-sampai gaya jilbab personelnya menjadi trend-setter. Pada 1988 mereka diundang untuk tampil di luar negeri tepatnya Malaysia dalam sebuah acara untuk memperingati tahun baru Hijriyah.

Pada 1994 sebuah lembaga kebudayaan Jerman, Haus der Kulturen der Welt, mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam acara Die Garten des Islam (Pameran Kesenian Islam Dunia) di Berlin.

Dua tahun berselang mereka kembali beraksi dalam Festival Heimatklangedi Berlin, Mülheim, dan Düsseldorf. Pada Juni 2022 untuk kesekian kalinya mereka bertandang ke Negeri Panser dan ikut meramaikan perhelatan Opening Week Music Program Documenta Fifteen di Kassel.

Di dalam negeri Nasida Ria tidak benar-benar dilupakan. Pada 2016 penampilan mereka di acara RRREC Festival yang diadakan Komunitas Ruangrupa (RURU) berhasil menarik animo pengunjung. Demikian pula saat mereka tampil dalam Syncronize Festival pada 2016, 2018, 2019, dan terakhir 2022.


Sarat Kritik Sosial

Hingga usianya yang hampir setengah abad, Nasida Ria sudah merilis 33 album atau sekitar 400 lagu. Album kelima yang beredar pada 1980-an meledak di pasaran berkat dua lagu yang bertajuk "Perdamaian" dan "Kota Santri".

Hingga kini dua lagu itu masih sering diperdengarkan, terutama dalam acara-acara keislaman. Dalam perkembangannya lagu "Kota Santri" diaransemen ulang oleh Anang dan Krisdayanti (2004), sementara lagu "Perdamaian" dinyanyikan kembali oleh Gigi (2005).

Seturut Ade Fajrul Falah dalam “Grup Kasidah Modern Nasida Ria: Kreativitas Musik dan Fungsionalisme Sruktural” (2019: 80), proses kreatif di balik lagu-lagu Nasida Ria merupakan hasil kepekaan penciptanya dalam memahami fenomena sosial.

Lagu berjudul "Ibu", "Di Mana-mana Dosa", dan "Jilbab Putih" yang sarat dengan pesan keagamaan lahir dari keresahan penciptanya terhadap kondisi masyarakat. Tidak berlebihan, sebab KH. Ahmad Bukhori Masruri adalah kiai, mubalig, dan aktivis NU.

"Jilbab Putih" yang dirilis pada 1993 tampak jelas mengusung semangat dakwah. Terlebih di tengah kebijakan Orde Baru yang melarang siswi sekolah negeri memakai jilbab, lagu itu bukan hanya kritis tapi juga berani:

Jilbab jilbab putih lambang kesucian
Lembut hati penuh kasih teguh pendirian
Jilbab jilbab putih bagaikan cahaya
Yang bersinar di tengah malam gelap gulita


Di balik jilbabmu ada jiwa yang takwa
Di
balik senyummu tersimpan masa depan cerah

Sementara "Dunia dalam Berita", "Keadilan", "Perdamaian", dan "Damailah Palestina" adalah lagu-lagu yang proses kreatif di baliknya berkelindan dengan situasi sosial, politik, dan budaya pada masa itu.

Lagu "Keadilan" adalah kritik yang disampaikan secara anekdotal dan tidak langsung mengarah kepada lembaga penegak hukum. Meski begitu pesannya terang, yakni penegakan hukum tidak boleh pandang bulu:

Adikku melanggar hukum
Aku yang menjadi saksi
Paman penuntut umum
Ayah yang mengadili
Walau ibu gigih membela
Yang salah diputus salah


Infografik Mozaik Nasida Ria
Infografik Mozaik Nasida Ria. tirto.id/Tino


Legenda Hidup

Nasida Ria tetap eksis di tengah pasang surut industri musik Tanah Air. Secara berkala para personelnya masih rutin berlatih. Meski soliditas di antara mereka terus dijaga, sebagaimana umumnya sebuah grup musik, pergantian personel tidak terhindarkan.

Saat ini jumlah personel Nasida Ria 14 orang. Personel angkatan 1975 yang masih aktif adalah Rien Jamain, usianya 64 tahun. Sisanya ada yang mengundurkan diri, ada juga yang tutup usia. Bertindak sebagai manajer adalah Abdul Choliq Zain, putra Muhammad Zain.

Masih menurut Ade Fajrul Falakh dalam hasil penelitiannya, sepanjang perjalanan kariernya Nasida Ria telah menerima berbagai penghargaan, di antaranya Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jawa Tengah (1992), dan Anugerah Keteladanan dari PRPP Jawa Tengah (2004).

Masa keemasan Nasida Ria mungkin sulit terulang kembali. Lebih-lebih di tengah gempuran teknologi informasi seperti sekarang yang menghadirkan berbagai pilihan musik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Nama boleh pudar, tapi eksistensi tetap harus dijaga. Meski nama mereka hanya terdengar sayup-sayup di telinga anak muda, bukan berarti mereka sepi undangan. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, undangan untuk manggung tidak pernah sepi.

Hampir setiap minggu mereka tampil di berbagai daerah, termasuk di layar kaca. Pada 2016 tercatat 36 pertunjukan yang harus mereka ikuti. Pada 2017 ada 31, 2018 ada 46, dan 2019 ada 21 show.

Hampir semua pertunjukan berlokasi di luar kota. Tidak jarang jadwalnya diadakan pada pekan yang sama, kadang bahkan pada hari yang berturut-turut. Pada tahun-tahun keemasan mereka, pertunjukan bisa sampai dua kali sehari di lokasi yang berbeda.

Baca juga artikel terkait NASIDA RIA atau tulisan menarik lainnya Firdaus Agung
(tirto.id - Musik)

Kontributor: Firdaus Agung
Penulis: Firdaus Agung
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight