Menuju konten utama

Nasib DKI-1 di Tangan Generasi Milenial

Pemilihan gubernur Jakarta ditentukan oleh para pemilih belia. Dengan adanya Teman Ahok, Basuki akan diuntungkan. Kasus Ridwan Kamil di Bandung, memimpin sendiri kelompok pemuda yang mendukungnya saat pemilihan walikota. Generasi Milenial atau Generasi Y adalah mereka yang lahir pada awal 1980-an hingga 2000-an. Di antara banyak karakternya yang lain, generasi ini punya satu kekhasan yang menonjol, yakni penggunaan media sosial.

Nasib DKI-1 di Tangan Generasi Milenial
Ketua DPP Partia Solidaritas Indonesia (PSI) Isyana Bagoes Oka menunjukkan aplikasi online GoAhokPSI, Jakarta, (31/3). GoAhokPSI merupakan aplikasi online penjemputan KTP warga jakarta dengan menyediakan 100 armada motor. TIRTO/Andrey Gromico

tirto.id - “Saya Amalia Ayuningtyas. Kalau Pak Ahok maju melalui jalur independen, saya bakal naik sepeda dari kosan saya di Depok sampai kantor [di Jakarta].”

Dalam sebuah rekaman di Youtube, Amalia Ayuningtyas dan empat temannya sesama pendiri Teman Ahok menyampaikan nazar yang akan mereka lakukan jika Ahok maju pemilihan gubernur lewat jalur independen. Selain Amalia, ada Aditya Yogi Prabowo, Singgih Widiyastono, Muhammad Fathony, dan Richard Haris Purwasaputra, yang juga menyatakan janji mereka masing-masing.

Aditya dan Fathony akan menghabiskan uang untuk membayari teman-temannya makan dan piknik. Singgih, pemuda yang nampak lebih serius dibanding yang lain, beda lagi. Ia berjanji akan melamar calon istrinya. Ada juga Richard Haris. Dengan semangat, Richard berkata akan berhenti makan daging babi selama setengah tahun jika Ahok maju tanpa sokongan partai.

Seperti tergambar dalam rekaman video itu, muda-mudi berusia 23-25 ini menjadikan dukungan mereka untuk Ahok menjadi hal yang menyenangkan. Hal seserius pilihan maju lewat partai atau independen dibuat seperti pertaruhan kecil yang disertai tawa-tawa riang. Ini jelas tak seperti situasi rapat-rapat berlarut-larut yang terjadi di kantor partai.

Tapi kesantaian itu tak berarti mereka tidak bekerja keras. Hingga hari ini, mereka memacu kelompoknya mengumpulkan KTP untuk pasangan Ahok dan Heru Budi Hartono di mal-mal. Hasilnya sama sekali tak bisa dibilang buruk. Dalam sebulan, Teman Ahok berhasil mengumpulkan lebih dari 322 ribu KTP dukungan per 29 Maret.

Hasil itu masih menyisakan kewajiban angka yang harus dikejar. Lebih dari 200 ribu KTP diperlukan untuk mencapai syarat minimal di KPU sebanyak 532.000. Selain syarat minimal KPU, angka itu akan digenjot terus hingga akhir Juli agar bisa mencapai angka aman sebesar satu juta KTP yang ditargetkan Teman Ahok.

Teman Ahok adalah fenomena baru dalam politik Indonesia. Pemilih berusia belia mengorganisasi diri dan memimpin dukungan politik untuk calon kepala daerah pilihan mereka. Sebelumnya memang ada Ridwan Kamil di Bandung yang selain didukung mesin partai, juga disokong anak-anak muda yang antusias memenangkannya jadi walikota Bandung pada 2013.

Tapi kasus Ridwan Kamil atau Emil di Bandung lain dengan yang terjadi sekarang di Jakarta. Emil di Bandung memimpin sendiri kelompok pemuda yang mendukungnya saat pemilihan walikota. Di Jakarta hari ini, Teman Ahok muncul dari bawah. Mereka menginisiasi kelompok pendukung Ahok, bahkan berani menekan Basuki Tjahaja Purnama untuk maju ke kancah pilgub tanpa dukungan partai.

Jika melihat tipologi pemilih Gubernur Jakarta berdasar usia, Teman Ahok yang diinisiasi anak-anak muda ini bisa memuluskan kemenangan sang petahana. Sebanyak 44,78 persen dari sekitar 7,4 juta penduduk yang berkemungkinan memilih di DKI Jakarta ada dalam kategori generasi Millenial.

Seluruh penduduk DKI saat ini lebih dari 10 juta jiwa, dan potensi pemilih mencakup 74 persen dari jumlah itu. Di bawah jumlah calon pemilih generasi Milenial, ada sekitar 40,64 persen yang masuk tipologi generasi X. Sisanya adalah calon pemilih generasi Baby Boomers, sebanyak 14,58 persen.

Generasi Milenial atau Generasi Y adalah mereka yang lahir pada awal 1980-an hingga 2000-an. Di antara banyak karakternya yang lain, generasi ini punya satu kekhasan yang menonjol, yakni penggunaan media sosial.

Dari artikel “Memahami Generasi Galau”, didapat bahwa dalam kelompok umur 18 hingga 29 tahun, ada sekitar 75 persen pengguna media sosial. Angka ini jelas jauh lebih besar dibanding pengguna media sosial yang ada dalam generasi X (rentang umur 30-45 tahun) yang hanya sekitar 50 persen. Generasi Milenial tak sekadar mempunyai akun, tetapi juga rajin mengunjungi situs-situs itu.

Sebanyak 29 persen di antara para Milenial ini mengecek medsos beberapa kali dalam sehari, sedangkan 26 persennya membuka medsos mereka setidaknya sekali dalam sehari. Ada juga yang lebih jarang. Ada 20 persen yang melongok akunnya sekali dalam beberapa hari. Tapi bahkan yang paling tak akrab medsos pun tetap membuka akunnya setidaknya seminggu sekali. Yang terakhir ini ada 25 persen jumlahnya.

Dengan data itu, dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah wahana kampanye paling strategis bagi pemilih generasi Milenial. Belum lagi jika kita menilik bahwa Jakarta merupakan salah satu ibukota media sosial di dunia.

Pada 2012, situs socialmemos.com merilis data tentang penggunaan media sosial, terutama Twitter di Jakarta. Ibukota Indonesia ini adalah kota terbesar kedua di Facebook setelah Bangkok, dengan jumlah akun lebih dari 11 juta.

Data pengguna Twitter lain lagi. Pada tahun yang sama, situs semiocast.com juga mengumumkan penelitian tentang penggunaan Twitter di dunia. Meski Indonesia berada di urutan ke-5 dalam daftar negara dengan akun Twitter terbanyak, posisi Jakarta dalam jumlah cuitan berdasar kota, rankingnya lebih fenomenal. Pada 2012, Jakarta menjadi kota paling cerewet di Twitterland, sedangkan Bandung menduduki peringkat ke-6.

Bagaimana kesiapan orang-orang yang namanya ada dalam bursa pilgub di media sosial? Hingga 29 Maret ini, Ahok sudah mengantongi 831 ribu pengikut Facebook, Yusril Ihza Mahendra sebanyak 26 ribu, serta 56 ribu untuk Sandiaga Salahuddin Uno. Ahmad Dhani di Facebook memang belum mempunyai fanpage, tapi pengikutnya di Twitter sudah mencapai 1,73 juta.

Untuk Yusril Ihza Mahendra, bekas menteri ini di Twitter mengantongi 918 ribu pengikut. Sandiaga Uno punya 371 ribu followers. Tapi, angka ketiganya tak berarti dibanding Gubernur Basuki yang terhitung jarang twitteran. Dengan frekuensi kemunculan di bawah Yusril, Sandi, dan Dhani, Ahok sudah punya 4,54 juta pengikut.

Itu belum menghitung tenaga besar anak-anak muda yang menggamit Ahok dan menjadi penyangga kampanye Ahok di lapangan sejak sekarang: Teman Ahok. Akun Twitter mereka, @temanahok, sudah punya lebih dari 54 ribu pengikut. Akun ini memberi informasi segala yang terkait pencalonan Ahok tanpa harus dikomando ini-itu.

Di sinilah Ahok memiliki kekuatan lebih besar dibanding yang lain. Corongnya di lapangan yang terdiri dari muda-mudi di awal usia 20-an bisa secara langsung menarik minat pemilih sebayanya. Mereka paham strategi kampanye online di kanal-kanal media sosial, juga berjaga di ranah offline dengan mendirikan stan-stan Teman Ahok di banyak mal.

Saat nama-nama di bursa pencalonan gubernur yang lain belum melakukan kerja lapangan apa-apa, anak-anak muda ini sudah bergerak dan mengisi celengan tenaga Ahok untuk pemilihan gubernur tahun depan. Mereka bekerja diselingi taruhan mentraktir teman, bukan dengan rapat-rapat menegangkan di kantor partai.

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI 2017 atau tulisan lainnya

tirto.id - Politik
Reporter: Maulida Sri Handayani