Nasib Co-Working Space dan Kantor Selama Pandemi

Aktivitas sejumlah komunitas di Coworking Space, Jakarta, Selasa (26/6/2018). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Joan Aurelia - 27 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Co-working space akan tetap hidup. Perkantoran pun demikian dan akan mengubah desain ruang kerja.
Sejak pertama didirikan di Jakarta pada 2012, co-working space bukanlah bisnis yang mudah yang cepat mendatangkan keuntungan. Pada awal hingga pertengahan 2010-an, ruang co-working space yang bertahan di ibukota rata-rata didukung oleh venture capital yang menjadikan co-working space sebagai ruang pertemuan startup potensial. Startup-startup inilah yang pada akhirnya jadi target dari perusahaan venture capital tersebut.

Oleh karena itu, esensi co-working space bukan sekadar ruangan untuk bekerja bersama. Para pemilik co-working space diharapkan jadi pihak yang bisa memfasilitasi berbagai program guna memajukan startup atau pengusaha baru yang menyewa ruang kerja di tempat tersebut.

Haris Santoso Sungkari yang pada 2016 menjabat sebagai Deputi Infrastruktur Bekraf mengibaratkan co-working space bagai ruang inkubasi yang mempertemukan pemilik start up dengan mentor/kolaborator.

Dalam perjalanannya, ada berbagai co-working space yang gugur akibat tidak memiliki cukup dana untuk mengelola tempat atau kurang giat membuat program. Namun demikian ruang tersebut tumbuh sampai hari ini.

Tirto berbincang dengan Ketua Asosiasi Coworking Space Faye Alund pada 24/6. Ia menyatakan saat ini setidaknya ada 300 lokasi co-working space di Indonesia. Sebagian besar ada di Pulau Jawa.

Pada masa pandemi, ranah bisnis co-working space goyang akibat okupansi nyaris 0%--survey dilakukan pada 250 orang anggota Asosiasi Coworking Indonesia. Sekitar 40% menjadi responden.

Faye optimis dan yakin pandemi bisa membuka peluang baru. Ia percaya bahwa ada orang-orang yang mau datang ke co-working space demi memperluas koneksi dan mengikuti berbagai program yang diselenggarakan pengelolanya. Dari segi lokasi, ke depannya, ruang co-working bisa dibangun di area perumahan demi meminimalisir mobilisasi/kontak dengan publik pada masa pandemi.

Di samping itu, Faye pun percaya perusahaan-perusahaan besar juga akan tertarik pada co-working space yang model penyewaannya bisa lebih fleksibel dibanding sistem penyewaan ruang gedung perkantoran biasa.

co-working space yang saat ini masih bisa bertahan seperti GoWork mencoba bertahan dengan membuat berbagai program komunitas via live streaming/video conference. Para kreator atau pengusaha jadi pembicara dalam berbagai forum tersebut. Dalamacara-acara tersebut mereka mereka memberikan tips dan trik mempertahankan bisnis, mempertahankan kualitas branding, dan mendapat keadilan di tengah situasi perekonomian perusahaan yang tidak pasti.

co-working space ini memang seharusnya bisa menjadi engine yang menggerakkan startup dan komunitas grassroots. Kita tetap fasilitasi connectivity dan bikin program yang bikin pengusaha-pengusaha ini ‘naik kelas’,” ujar Faye.


Situasi Kantor

Bila co-working space berupaya bertahan dengan fokus menajamkan fungsi non-fisik, perusahaan dan bisnis perkantoran bertahan dengan bersiasat agar pekerjanya bisa bermobilisasi dengan cukup aman di dalam kantor.

Perusahaan properti Cushman & Wakefield muncul dengan ide "6-feet office" yakni dengan memberi penanda lingkaran pada lantai sebagai batas aman untuk berjarak dengan rekan kerja/lawan bicara. Menurut laporan New Yorker yang terbit pada 17 Juni 2020, sistem tersebut telah dipraktikkan pada kantor Cushman & Wakefield di Amsterdam.

Jeroen Lokerse, Managing Director Cushman & Wakefield Amsterdam berkata metode tersebut adalah hal tercepat yang bisa dilakukan dalam rangka kebijakan bekerja di kantor selama masa pandemi. Menurutnya, metode tersebut cenderung bisa dipraktikkan pada seluruh gedung perkantoran.

Selain cara-cara yang cepat dan sederhana, para pejabat perusahaan di AS dan Eropa juga memikirkan cara yang lebih canggih. Dalam laporan panjang yang terbit 14 April 2020 Vox menyebut bahwa sejumlah pemilik perusahaan hendak memperbanyak fitur voice command agar para pekerja tidak perlu lagi menyentuh benda-benda di ruang publik misalnya sakelar atau tombol pembuka pintu.

Cara lain yang hendak dilakukan adalah menggunakan sistem penyaring udara yang mumpuni agar ruangan ber-AC bisa tetap mendapat kualitas udara yang baik. Material yang digunakan untuk melapisi gagang pintu, saklar lampu, meja, mesin fotokopi, bahkan mesin kopi juga akan diganti dengan yang lebih higienis. Sinar UV juga akan diterapkan guna membersihkan ruangan kantor setelah digunakan--praktik ini biasanya dilakukan di rumah sakit.

Untuk ke depan, sebagaimana dilaporkan BBC, ruang kantor akan terinspirasi oleh berbagai material yang biasa digunakan di rumah sakit. Penggunaan material kayu dalam interior ruangan, misalnya, akan dibatasi. Demikian pula pemilihan elemen dekorasi seperti karpet. Pertimbangan utamanya: benda dari material-material tersebut lebih mudah dibersihkan.

Selain itu, para pakar desain memperkirakan bahwa akan ada teknologi sensor pengukur suhu di bawah meja kerja yang akan berbunyi bila pekerja demam.

Di Sydney, Australia, aturan berjalan cukup ketat. Masih menurut laman BBC, para pekerja yang terbukti memiliki suhu tubuh tinggi diminta untuk pulang. Tapi ada pula yang tidak sepakat dengan metode ini karena pengontrolan akan membuat seseorang merasa terus-terusan diawasi. Oleh karena itu, kontrol diri jadi cara yang lebih diutamakan dalam menghadapi pandemi.

Baca juga artikel terkait COWORKING SPACE atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight