David Tarigan

"Musik Lawas Enggak Sekadar Nostalgia"

Oleh: Faisal Irfani - 21 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Musik lawas Indonesia, kata David Tarigan, punya potensi emas.
tirto.id - Wajah David Tarigan mendadak berubah serius saat saya bertanya tentang 10 album terbaik musisi Indonesia pada dekade 1960-1980-an. Ia diam sejenak, berusaha keras untuk memilah nama-nama yang menurutnya bernas.

“Wah, gila itu. Stres gue [kalo ditanya soal album terbaik],” kata David sembari tertawa. “Bingung gue. Sumpah.”

Sabtu (17/8) sore, di Kinosaurus, tempat pemutaran film alternatif yang berada di Aksara, Jakarta Selatan, saya bertemu dengan David Tarigan. Di kancah musik independen, nama David bukan nama yang asing. Ia adalah salah satu penggerak musik independen Jakarta. Pencapaiannya bisa Anda simak lewat dua hal: Aksara Records dan Irama Nusantara.

Aksara Records dikenal sebagai label yang merilis album JKT:SKRG (2004), sebuah karya yang bisa dibilang merupakan tonggak lahirnya kancah independen di Jakarta—dan mungkin Indonesia. Album ini memperkenalkan ke khalayak ramai band-band macam The Upstairs, The Brandals, The Adams, SORE, Teenage Death Star, sampai Sajama Cut.

Sementara di Irama Nusantara, David berusaha mengarsipkan koleksi-koleksi musik lawas Indonesia dalam satu katalog yang proporsional.

“Agar bisa diakses semua pihak. Enggak musisi aja, tapi juga akademisi, praktisi, dan yang lain,” ucapnya menjelaskan tujuan Irama Nusantara, yang didirikan pada 2015 silam.

Bersama David, saya berbincang mengenai perkembangan musik lawas Indonesia di era kiwari, yang makin ke sini makin punya tempat di penikmat anak-anak muda.



Musik lawas, di era sekarang, punya ruang untuk berkembang. Ia digandrungi anak-anak muda dan dibawakan dalam bentuk yang lain. Singkatnya, musik lawas begitu dirayakan. Apa yang bikin ini jadi booming?

Ini sebenarnya menarik. Masalah revival akan selalu ada bagaimanapun juga. Biasanya, kalau di Indonesia, revival enggak jauh dari perkara nostalgia. Misalnya, musik yang populer di tahun 1970-an. Begitu ada revival, jatuhnya ke [lagu] itu-itu saja.

Tapi, sekarang beda. Di tengah akses informasi yang jauh lebih terbuka dan menawarkan banyak hal menarik, revival-nya enggak ke hal yang itu-itu saja. Ada kesadaran baru untuk menggali yang baru dan kemudian membagikannya. Disosialisasikan ke banyak orang, seperti yang gue lakukan sama Irama Nusantara, contohnya. Kesempatan untuk mengenalkan materi lawas tersebut lebih dari yang itu-itu saja. Lagu-lagu yang sempat mati dan terkubur dalam tanah akhirnya lahir lagi. Ini yang menarik.

Ini lantas mengubah perspektif akan revival itu sendiri. Sekarang, revival enggak sekadar nostalgia. Karena pada dasarnya anak-anak muda ini enggak mengalami apa yang terjadi pada musik era 1970-an. Anak-anak muda ini punya akses tidak hanya ke lagu populer—yang nostalgik—pada masa itu, tapi juga ke lagu-lagu baru. Lagu-lagu yang dulunya enggak populer, sekarang jadi punya pintu dan bahkan dijadikan sebagai anthem, seperti yang dilakukan Diskoria.

Lagu-lagu yang sebelumnya enggak dikenal ini adalah buah dari tidak tersampaikannya karya-karya di masa lalu ke generasi sekarang. Dulu, sebelum era kaset, orang-orang mengenal piringan hitam. Ini adalah bentuk kemewahan karena enggak semua orang bisa beli. Orang pada saat itu juga enggak semuanya punya player-nya. Walhasil, masyarakat hanya kenal lagu lewat radio, di mana radionya cuma satu, RRI, dan lagu yang diputar juga melulu itu saja. Setelah era kaset, situasi berubah. Era ini menandai dimulainya industri musik. Kesadarannya ikut terbangun juga. Banyak lagu yang kemudian bermunculan.

Yang terjadi sekarang, anak-anak muda ini enggak mendengarkan lagu yang populer di masa itu. Lagu yang enggak sekadar diputar di radio di eranya. Mereka merasa lagu-lagu ini relate dan menganggap musik itu punya wilayah fashionable tersendiri. Akhirnya, lagu-lagu ini punya kehidupan baru. Sesuatu yang, mungkin, tidak terjadi karena sebelumnya enggak ada yang tahu.

Ada faktor kejenuhan terhadap musik-musik era sekarang tidak?

Gue rasa enggak. Waktu gue bikin Irama Nusantara dulu, misalnya, gue dan teman-teman adalah fans musik. Suka sekali sama musik Indonesia. Ketika ngulik musik Indonesia lawas, musik yang terlupakan, kami langsung pengen membangi itu. Seakan-akan kami menemukan penebusan, ‘Wow, keren banget ini.’

Gue tumbuh di era lalu, ya. SD di tahun 1980-an, SMP di 1990-an. Gue adalah anak yang pada dasarnya suka musik barat. Sukanya juga yang beda. Dengan sensibilitas seperti itu, gue mencari musik Indonesia. Waktu itu, nyari di Jalan Surabaya. Dengerin satu-satu, tuh. Kuping gue bukan kuping nostalgia, melainkan kuping yang menganggap musik keren itu seperti apa. Ketika sudah dapat, gue pengen membaginya ke teman-teman. “Eh, ada lagu keren banget ini.”

Ketika kuliah, kenal turntable, mixer, dan jadilah seorang DJ, atau selector, atau apapun itu sebutannya. Di acara musik, gue mutar lagu-lagu Indonesia. Bahkan, ada yang marah-marah untuk minta ganti lagu (tertawa).

Pada dasarnya ini bukan kejenuhan. Lebih karena faktor ingin membagi ke banyak orang. Anak-anak muda ingin eksplorasi terus. Standarlah, ya. Selain itu, karena juga anak-anak muda ingin mendengarkan sesuatu yang beda. Itu pasti. Mereka enggak mau punya selera yang sama dengan yang lainnya.

Meskipun, enggak bisa dipungkiri juga bahwa lagu-lagu lawas ini banyak yang picisan. Tapi, akhirnya, kembali lagi: yang picisan, saking picisannya bisa jadi keren. Itulah kenapa ketika Soneta main di Synchronize Festival, anak-anak pada joget.


Bagaimana dengan prospek bisnis dari musik-musik lawas ini?

Nostalgia adalah bisnis yang enggak pernah mati. Setiap hari ada orang yang bertumbuh usianya dan punya keinginan untuk nostalgia di masa lalu. Di Indonesia, lagu-lagu nostalgia itu sedikit sekali. Beda dengan musik Barat yang tumbuh begitu masif. Ada The Beatles, Bob Dylan, dan lainnya. Tapi, sekarang, yang sedikit itu punya peluang untuk jadi besar. Diskoria, misalnya, ketika mereka main, yang datang enggak hanya anak-anak muda aja tapi juga para orang tua. Karena di panggung itu, mereka mendapatkan vibes-nya yang muncul di masa muda mereka.

Yang terjadi di Diskoria adalah bagian dari potensi bisnis yang besar. Belum lagi ketika keadaan ini membuka pintu untuk tersedianya kembali rilisan lawas secara komersil dan anak-anak muda itu kemudian membelinya. Bukan enggak mungkin situasi seperti itu bisa terjadi.

Ini bisa menjadi pintu, menggedor ke hal yang lain. Mulai dari urusan hak cipta dan lain sebagainya. Ketika urusan itu beres, kesadaran makin memuncak dan kondisinya akan lebih hidup. Ini adalah potensi emas dan menghasilkan. Masalahnya hanya terkubur aja. Karena musik lawas esensinya adalah barang jualan. Tinggal bagaimana sekarang menyediakan kembali sebab kesadaran [anak-anak muda] sedang naik. Meskipun, tidak bisa ditolak, bahwa sebagaimananya tren, ini pasti turun. Yang penting adalah apresiasi musik Indonesia di masa lalu, sekarang, lebih tinggi dari masa-masa sebelumnya.

Internet, bisa dibilang, sangat membantu untuk membuka pintu akan musik-musik lawas Indonesia. Tapi, masalahnya, internet tidak jadi jaminan karena pengarsipan musik di negara ini tidak cukup berjalan dengan baik.

Sebetulnya, kalau mau diusahakan, solusinya akan selalu ada. Bikin master lagi, misalnya, dari sumber-sumber tersedia. Semua bisa dihitung. Belum lagi peralatan di era sekarang yang lebih canggih. Kemudian, kesadaran orang-orang akan musik ini juga semakin meningkat. Entah dari aspek apresiasi maupun inspirasi karya mereka. Tinggal siapa yang berani dan bersedia untuk mengambil keputusan yang lebih besar dan jauh, seperti merilis ulang karya-karya lawas musik Indonesia.

Pengarsipan, dalam hal apapun, butuh usaha yang keras, terlebih soal konsistensi. Di musik, apa yang jadi kendalanya?

Sejauh ini, sebetulnya, kendala-kendala yang ada sudah diperkirakan. Ketersediaan sumber-sumber, ambil contoh, kondisinya enggak selalu mulus. Kesulitan akan dana juga tetap muncul di tengah apresiasi yang berkembang dan tumbuh secara organik. Gue pikir, yang krusial adalah soal hak cipta. Ini yang jadi kendala mengapa musik-musik lawas jarang tersampaikan ke generasi berikutnya. Ketika urusan hak cipta beres, pengarsipan akan terbantu. Bahkan, ini juga membuka kesempatan musik lawas untuk lebih komersil. Memang enggak mudah untuk mewujudkan itu. Indonesia sangat tertinggal untuk perkara seperti ini. Regulasi aja baru muncul belakangan, sekitar 1980-an. Belum lagi profesi pengarsip yang enggak didukung secara profesional.


Potensinya besar sekali, ya.

Iya, besar sekali. Karena apa yang terjadi di negara ini tercermin di situ, sebagai sebuah hasil budaya populer. Tidak sebatas dijadikan barang jualan, musik-musik lawas juga bisa jadi pintu untuk kajian akademis yang proporsional. Ini seru banget.

Bagaimana dengan pengaruh ke musik-musik sekarang?

Kalau secara spesifik, gue pikir, enggak terlalu besar. Hanya bisa dijumpai tertentu aja, seperti Naif, misalnya. Namun, di era lalu, musik-musik yang ada di album Badai Pasti Berlalu, jelas berkontribusi besar dalam mengubah lanskap pop pada saat itu. Semua cukong rekaman pengen seperti itu.

Musik lawas acapkali dihubungkan dengan sesuatu yang hipster. Masih relevan?

(tertawa) Apapun kondisinya pasti ada hipster. Karena hipster, kan, ada di sisi pinggir dulu. Selalu seperti itu. Terus berputar aja seperti siklus.

Baca juga artikel terkait MUSIK POP atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight