Periksa Data

Mudik 2019: Kendaraan Pribadi dan Pulau Jawa Jadi Raja

Oleh: Desi Purnamasari - 2 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pulau Jawa masih menjadi pusat arus mudik tahun ini, dengan perjalanan darat yang menjadi primadona.
tirto.id - Mudik selalu menjadi momen yang dinantikan pada akhir Ramadan. Namun, menjelang periode mudik ini, biasanya ada satu pertanyaan yang selalu menghantui banyak orang: Sarana transportasi apakah yang sebaiknya digunakan?

Jauh sebelum memasuki bulan Ramadan, calon pemudik yang memilih menggunakan kendaraan umum biasanya sudah berburu tiket untuk pulang kampung. Pemesanan kereta api, misalnya, sudah dibuka sejak tiga bulan pra-lebaran. Selain itu, pemerintah juga tak jarang menggelar program mudik gratis.

Tahun ini, sebanyak 23 BUMN - mulai dari PT Jasa Raharja, PT Asuransi Kredit Indonesia, PT Bio Farma, PT KAI, PT Pindad hingga Perum Damri - tergabung dalam program Mudik Gratis 2019 dari pemerintah. Sarana transportasi mudik gratis yang disediakan program ini mencakup bus, kereta api dan kapal laut. Rute pun beragam, mulai dari Jakarta - Surabaya, Jakarta - Yogyakarta, Makassar - Bima hingga Kotawaringan Barat - Semarang.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa jumlah kendaraan yang akan menggunakan jalan tol diperkirakan mencapai 150.000 pada musim lebaran tahun ini. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan kebijakan one-way bagi pengguna jalan tol.

Untuk mengetahui preferensi pemudik dalam memilih kendaraan mudiknya dan alasan pemilihan kendaraan untuk mudik, Tirto bekerja sama dengan Jakpat sebagai penyedia platform melakukan survei daring dengan metode random sampling. Sebagai catatan, Jakpat merupakan platform penyedia layanan survei daring yang memiliki sebanyak 321.693 responden yang telah terdaftar.


Survei dilakukan pada 16-17 Mei 2019 pada 1.487 responden di Indonesia yang semuanya beragama Islam. Namun, pada proses data-cleaning, data dari 330 responden harus dikeluarkan dari penelitian karena adanya ketidaksesuaian informasi sehingga total terdapat 1.157 responden. Dari 330 responden tersebut, sebanyak 110 responden menyatakan tidak pernah melakukan perjalanan mudik dan 220 sisanya tidak akan mudik pada lebaran tahun ini.

Sebanyak 21,36 persen dari responden yang memutuskan tidak mudik pada lebaran kali ini mengatakan bahwa mereka sudah tinggal di kampung halaman. Kemudian, sebanyak 20,45 persen beralasan bahwa mereka tidak memiliki alokasi dana untuk pulang kampung.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya


Pada survei ini, sebaran responden berdasarkan jenis kelamin cukup merata. Hal tersebut terlihat dari proporsi pria sebesar 59,20 persen dan wanita 40,80 persen. Dari sisi usia, mayoritas responden (33,71 persen) berusia 20-25 tahun. Hanya 11,75 persen responden yang berusia 16-19 tahun.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya

Jawa adalah Kampung Halaman

Hampir seluruh masyarakat yang melakukan perjalanan mudik berasal dari pulau Jawa (73,81 persen). Sebanyak 24,03 persen responden melakukan perjalanan mudik dari Jawa Barat. Pemudik yang berasal dari DKI Jakarta, sementara itu, hanya 11,84 persen.

Yang menarik, pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, ternyata menjadi salah satu tujuan mudik utama bagi kebanyakan masyarakat. Sebanyak 29,73 persen responden mengatakan bahwa mereka memiliki kampung halaman di Jawa Tengah. Lebih lanjut, terdapat sebanyak 3,20 persen responden yang mudik ke Sulawesi Selatan.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya


Secara umum, kendaraan pribadi menjadi kendaraan pilihan pemudik di Indonesia (58,86 persen). Sebanyak 27,17 persen responden yang memilih menggunakan kendaraan pribadi mengatakan bahwa mereka lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi untuk perjalanan mudik.

Ada pula pemudik yang memilih kendaraan pribadi karena mereka merasa dapat lebih berhemat, dengan persentase sebesar 18,80 persen. Menariknya, meski tidak besar, sebanyak 3,38 persen pemudik menyebutkan bahwa dengan menggunakan kendaraan pribadi, mereka dapat menampung lebih banyak muatan, baik itu anggota keluarga, barang hingga oleh-oleh.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya


Sementara itu, pemudik yang memilih pulang kampung menggunakan kendaraan umum terdapat sebanyak 41,14 persen. Jalur darat masih menjadi favorit, terlihat dari 39,71 persen pemudik yang memilih menggunakan bus, kemudian 32,56 persen menggunakan kereta api, dan jasa travel sebanyak 6,30 persen. Angkutan udara hanya dipilih oleh 16,18 persen masyarakat.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya


Namun, asumsi bahwa membawa kendaraan pribadi untuk pulang kampung akan lebih hemat tidak sepenuhnya benar. Dalam survei kali ini, kami juga menanyakan berapa rata-rata biaya yang dikeluarkan pemudik untuk pulang ke kampung halamannya. Hasilnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Rata-rata biaya yang dikeluarkan berada dikisaran Rp500.000 – Rp1.500.000.

Namun, penting dicatat bahwa untuk kendaraan pribadi, biaya tersebut merupakan perhitungan berdasarkan jumlah satu penumpang saja. Keunggulan mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi, terutama mobil, adalah daya tampung kendaraan. Jika jumlah penumpang lebih dari satu, hal ini dapat berdampak pada turunnya jumlah biaya jika dihitung secara per orang. Semakin banyak jumlah penumpang, semakin murah pula biaya yang dikeluarkan.

Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi
Infografik Riset Mandiri Mudik dengan Kendaraan Pribadi. tirto.id/Nadya


Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Desi Purnamasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Desi Purnamasari
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight