tirto.id - Manajemen Talenta Nasional (MTN) terus berupaya memperkuat ekosistem talenta seni budaya Indonesia melalui pendekatan kolaboratif berbasis komunitas dan wilayah. Hal ini ditegaskan dalam kegiatan Taklimat Media & Gelaran MTN Wave: Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan para koordinator tim ahli MTN dari lima bidang seni, yakni seni rupa, seni pertunjukan, musik, sastra, dan film. Forum ini menjadi ruang dialog antara pengelola program MTN dengan media untuk menjelaskan strategi pemetaan, pengembangan, hingga rekognisi talenta seni budaya Indonesia di tingkat nasional dan internasional.
Koordinator Tim Ahli Seni Rupa MTN, Vicky Rosalina, menjelaskan salah satu tantangan utama pengembangan seni rupa di Indonesia adalah ketimpangan pertumbuhan yang masih terpusat di Pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Meski demikian, dalam satu dekade terakhir muncul banyak komunitas seni rupa baru di berbagai daerah yang belum mendapatkan akses memadai terhadap pengetahuan dan kesempatan.
“Seni rupa di Indonesia memang masih kurang merata pertumbuhannya. Namun sebenarnya perkembangan komunitas itu ada di mana-mana, terutama dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Vicky.
Ia menambahkan, MTN Seni Rupa bekerja berdasarkan grand design yang mencakup pembibitan, pengembangan, hingga rekognisi internasional. Dalam implementasinya, tim ahli tidak berperan sebagai penyelenggara kegiatan, melainkan bermitra dengan komunitas lokal untuk merancang program yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Kami banyak berdiskusi dengan komunitas di daerah untuk merancang program yang tepat sasaran. Fokus utama kami adalah membuka akses pengetahuan dan kesempatan yang selama ini sulit dijangkau oleh talenta di daerah,” ujar dia.
Koordinator Tim Ahli Seni Pertunjukan MTN, Kenny Suriarmaja, menambahkan bahwa seni pertunjukan memiliki karakter berbeda dengan seni rupa. Tantangan utamanya bukan pada keterpusatan wilayah, melainkan pada luasnya sebaran talenta dan praktik seni pertunjukan yang hidup hampir di seluruh daerah di Indonesia.
“Seni pertunjukan itu sangat hidup di mana-mana. Tantangannya justru bagaimana mengelola keragaman dan potensi besar yang tersebar luas,” kata Kenny.
Menurut dia, MTN Seni Pertunjukan memilih untuk memperkuat festival, ruang inkubasi, dan inisiatif seni yang sudah ada di daerah, dengan memberikan kepercayaan kepada penggerak lokal dalam merancang program sesuai konteks wilayah masing-masing.
“Kami tidak membuat kegiatan baru, tetapi menguatkan inisiatif yang sudah ada. Dari situ banyak talenta yang tadinya tidak terlihat menjadi muncul dan saling terhubung,” lanjutnya.
Di bidang musik, Koordinator Tim Ahli Seni Musik MTN, Aristofani menekankan bahwa kemitraan merupakan tulang punggung program Manajemen Talenta Nasional. Pendekatan yang digunakan adalah pemetaan berbasis kewilayahan dengan mendeteksi festival, komunitas, dan ruang inkubasi musik di berbagai daerah.
“Kami mendeteksi penggerak-penggerak festival dan komunitas di daerah. Mereka yang paling tahu kebutuhannya, dan MTN hadir untuk memfasilitasi,” tutur Aristofani.
Ia menjelaskan, melalui pola kemitraan satelit antardaerah, MTN Musik mendorong inklusivitas agar talenta dari wilayah yang belum terekspos dapat terhubung dengan ekosistem musik yang lebih luas.
“Dengan model ini, program MTN menjadi sulit untuk tidak inklusif karena kami memang dituntut untuk membuka akses seluas-luasnya,” katanya.
Adapun Koordinator Tim Ahli Sastra MTN, David Irianto, menyatakan ekosistem sastra di Indonesia relatif sudah terbentuk melalui komunitas dan festival. Peran MTN, kata dia, adalah menjahit koneksi antartahapan agar talenta sastra punya jalur pengembangan yang berkelanjutan.
“Yang kami lakukan adalah menjalin trajektori, dari lomba, penerbitan, hingga pasar internasional,” ujar David.
Ia menyoroti pentingnya dukungan translasi dan kolaborasi dengan industri penerbitan internasional untuk mendorong penulis Indonesia menuju rekognisi global.
“Talenta sastra kita sangat besar. Tantangannya adalah menjembatani dari yang potensial menjadi unggulan,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Tim Ahli Film, Rina Damayanti, menilai festival dan market film sebagai platform strategis untuk mempertemukan talenta dengan industri dan pasar global. Menurutnya, jalur ini penting agar karya film Indonesia tidak terhambat dalam distribusi.
“Festival adalah ruang rekognisi, sementara market adalah ruang pertemuan karya dengan industri dan distribusi global,” jelas Rina.
Ia juga mengungkapkan tingginya antusiasme talenta film di berbagai daerah terhadap program MTN, baik di tahap pembibitan maupun pengembangan. “Setiap kali program dibuka, peminatnya selalu jauh melebihi kuota. Ini menunjukkan kebutuhan yang sangat besar,” tambahnya.
Sejumlah talenta penerima manfaat MTN turut membagikan pengalaman mereka. Talenta sastra, Lala Bohan, menyebut MTN membantunya memahami ekosistem sastra internasional melalui pertemuan dengan agen literasi global.
“Saya jadi memahami bahwa pendekatan ke agen internasional itu berbeda, dan MTN membantu menjembatani hal tersebut,” kata Lala.
Talenta seni rupa, Ben Suryo, menilai program residensi MTN tak hanya memberinya ruang berkarya, tapi juga mengubah cara pandangnya sebagai seniman daerah dalam memaknai proses kreatif, jejaring profesional, serta peluang untuk berinteraksi dengan ekosistem seni yang lebih luas.
“MTN membuat saya lebih percaya diri. Saya tidak lagi merasa minder sebagai seniman dari daerah,” ujarnya.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id


































