Molornya Laga Persebaya vs Persinga: Bukti PSSI Memang Inkonsisten

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
PSSI tidak konsisten dengan janji mereka soal jadwal, dan gagal enghelat pertandingan Persebaya vs Persinga dengan sistem dua leg.
tirto.id - Ada yang unik apabila Anda menghadiri drawing babak 16 besar Piala Indonesia Jumat (8/12/2019) lalu. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah mengundi tim-tim mana yang akan bertemu di 16 besar, padahal babak 32 besar masih menyisakan empat pertandingan.

Sebenarnya, hal seperti ini adalah wajar belaka, tapi menjadi aneh karena jumlah total duel yang belum rampung melibatkan delapan tim. Angka yang tidak sedikit.

Salah satunya adalah duel Persebaya vs Persinga yang berkali-kali tertunda. Usai drawing, reporter Tirto sempat mendapat keterangan dari Deputi Sekjen PSSI, Marsal Masita bahwa seluruh laga sisa akan dituntaskan per 12 Februari, termasuk partai Persebaya Surabaya kontra Persinga Ngawi.

"Semua pertandingan 32 besar akan selesai tanggal 12 [Februari]. Termasuk Persebaya. Kami coba bantu dengan Panpel terkait untuk gimana caranya dapat jalan tengah agar izin pertandingannya keluar," kata Marsal.

Tak cuma itu, ia juga berani berjanji bahwa duel yang mempertemukan dua klub asal Jawa Timur itu bakal dihelat dengan sistem kandang dan tandang (dua leg) seperti halnya partai 32 besar lainnya.

"Saya lupa tanggalnya. Tapi sudah, leg satu, leg duanya, sudah [dijadwalkan]. Terakhir 12 Februari, setahu saya leg dua tanggal 12 [Februari]. Sampai 12 [Februari] itu karena nunggu Persebaya. Main di Ngawi juga rencananya. Memang home and away," imbuhnya.

Dua Janji Gagal Ditepati

Sebagai informasi, hari ini adalah 12 Februari 2019, waktu yang dijanjikan Marsal. Faktanya, Persebaya dan Persinga belum memainkan satu pun pertandingan dari dua leg babak 32 besar. PSSI lagi-lagi terbukti tidak mampu menepati janjinya.

Tak cuma soal itu, PSSI juga gagal menepati janji untuk tetap menghelat pertandingan Persebaya vs Persinga dengan sistem dua leg. Pasalnya, pada surat resmi tertanggal 11 Februari 2019 kemarin, federasi sepak bola Indonesia itu justru mengumumkan laga Persebaya vs Persinga hanya akan dihelat dengan sistem satu pertandingan.

"Bersamaan dengan ini, PSSI menetapkan Pertandingan Kratingdaeng Piala Indonesia Babak 32 Besar antara Persebaya Surabaya melawan Persinga Ngawi adalah single match [satu pertandingan]," tulis PSSI dalam surat bernomor bernomor 501/AGB/67/II-2019 itu.

Mereka juga mengumumkan laga yang dimaksud bakal dihelat Sabtu (16/1/2019) mendatang dan bertempat di markas Persebaya, Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.


Reporter Tirto sudah mencoba menghubungi manajer Persebaya, Candra Wahyudi untuk dimintai keterangan lebih lanjut perihal ini. Namun saat dihubungi, hingga Selasa (12/2/2019) pagi, tidak ada jawaban dari Candra. Ia justru mematikan telepon setelah kami memperkenalkan diri.

Jika mengacu pada informasi terbaru di laman resminya, Persebaya seharusnya tak keberatan dengan jadwal ini.

Sementara itu, saat kami coba meminta konfirmasi ke PSSI lewat Direktur Media dan Promosi Digital, Gatot Widakdo, hingga laporan ini dibuat, respons lebih belum diberikan. Ia hanya membagikan ulang pernyataan resmi PSSI yang dirilis Senin (11/2/2019) kemarin. Dalam rilis tersebut, PSSI menyebut 'tidak ada izin keamanan' sebagai alasan pemutusan duel dihelat dengan sistem single match.

Ini jelas berbeda dengan sikap mereka dalam kasus laga Persib vs Persiwa beberapa waktu lalu. Saat itu, PSSI melobi sejumlah pihak supaya izin keamanan keluar dan akhirnya duel tetap terlaksana di Bandung.


Tak Bisa Adil

Peneliti hukum olah raga, Eko Noer Kristiyanto menyayangkan sikap PSSI yang menghelat pertandingan Persebaya vs Persinga dengan sistem single match. Menurutnya, langkah ini membuktikan PSSI belum bisa bersikap adil, karena pertandingan 32 besar lain dihelat dengan sistem dua leg. Apalagi, dalam regulasi jelas tercantum bahwa pertandingan 32 besar seharusnya digelar kandang dan tandang.

"Karena jadi enggak sama dan enggak seperti standar yang lain. Prinsip persamaan enggak ada," kata pria yang akrab disapa Eko Maung itu kepada Tirto, Selasa (12/2/2019) pagi.

Ini sebenarnya bukan kali pertama permasalahan terjadi. Sudah berulang kali laga Persebaya vs Persinga diundur dari agenda awal. Mulanya, leg pertama akan digelar di Ngawi pada Selasa, 22 Januari 2019, namun batal karena tidak ada izin dari kepolisian.

PSSI kemudian mengeluarkan surat nomor 234/AGB/59/I-2019 yang intinya merevisi jadwal, bahwa leg pertama akan dimainkan 30 Januari sedangkan leg kedua 7 Februari. Namun, setelah itu ada perubahan jadwal, dengan memundurkan leg pertama ke 5 Februari, lalu 9 Februari.

Dalih yang keluar selalu sama, soal izin keamanan yang tidak diterbitkan polisi. Terlepas apapun yang jadi soal, penundaan berulang kali jelas patut disayangkan, apalagi penundaan ini terjadi di tengah sorotan publik terhadap kinerja PSSI baru-baru ini.

"Intinya penundaan hingga berkali-kali adalah preseden buruk, karena menunjukkan adanya ketidakpastian sepak bola kita. Digelar satu leg sementara yang lain dua leg ya berarti inkonsistensi, kegagalan menyelenggarakan turnamen," sambung Eko.

Satu poin lain soal keputusan PSSI terkait laga Persebaya vs Persinga yang patut dikritisi adalah kengototan untuk tetap memainkan laga perdelapan final yang melibatkan Persebaya atau Persinga pada 19 Februari 2019. Artinya, siapa pun yang menang, entah Persebaya atau Persinga bakal dipaksa bermain melawan Persidago Gorontalo tiga hari kemudian.

Sikap ini menunjukkan ketimpangan PSSI. Mereka bisa menunda jadwal berkali-kali, namun secara spesifik bersikap tegas terhadap jadwal babak perdelapan besar. Dan ini disinyalir punya kaitan dengan langkah PSSI menghelat turnamen pramusim Piala Presiden pada awal Maret.

Mereka seolah tak mau agenda Piala Indonesia, yang sebenarnya laga resmi, membuat Piala Presiden, yang sebatas turnamen pramusim biasa, tertunda pula. Soal langkah tersebut, Eko kembali menyuarakan bahwa sikap PSSI tidak bijak.

"Agenda wajib kalah oleh agenda dadakan. Perencanaan yang buruk," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait PIALA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mufti Sholih