Merindukan Semakbelukar, Merindukan Folk Melayu

Oleh: M Faisal Reza Irfan - 15 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
"Karena sempurna itu, hanya sebuah rencana." - Semakbelukar
tirto.id - Semasa tinggal Solo, saya mempunyai rutinitas untuk mengunjungi toko musik di pusat kota. Ada dua toko musik yang kerap saya datangi: Harapan Musik dan Belukar. Kedua toko ini letaknya sama-sama terletak di tengah kota. Bedanya, Harapan Musik lebih banyak menjual kaset-kaset berstatus klasik dari setiap genre, sementara Belukar menjual kaset dari band-band independen.

Suatu waktu pada tahun tahun 2013, saya pergi ke Belukar. Tempat ini tak terlalu ramai ketika saya tiba. Sejam kemudian, tiga buah kaset sudah mendarat di tangan: The Experience Brothers, Melancholic Bitch, serta Sajama Cut. Tatkala hendak membayar hasil 'jarahan', pegawai yang tak saya ketahui namanya itu berceletuk.


“Omong-omong masih ada sisa kaset band asal Sumatera. Tertarik enggak?”, tanyanya sopan.

“Band asal Sumatera? Yang seperti apa, Mas?”, saya membalas.

“Kira-kira seperti ini, Mas: nyanyi akustik, cengkoknya khas, dan bikin joget,” terangnya antusias.

Setelah diam sejenak, tawaran sang penjaga toko saya terima. Itulah perjumpaan perdana saya dengan Semakbelukar

Mutiara dari Sumatera

Semakbelukar merupakan kolektif folk melayu yang didirikan di Palembang pada tahun 2009 oleh David Hersya. Anggotanya terdiri dari Ricky Zulman (akordeon), Mahesa Agung (gong mini), dan Angger Nugroho (jimbrana). Hal menarik dari pembentukan Semakbelukar adalah ketiga anggotanya memiliki latarbelakang sebagai pegiat kancah yang sangat tidak folk: musik cadas. David anak punk, Ricky dulunya punya band rock industrial, dan Mahesa adalah pegiat skena grunge lokal.

Setelah bosan dengan skena masing-masing, David mengajak Ricky dan Mahesa mengeksplorasi musik Melayu. “Awalnya Semakbelukar dibuat sebagai perlawanan. Tapi lama-lama malah jadi untuk senang-senang saja, tak begitu peduli lagi terhadap perlawanan,” ujarnya seperti dilansir Tempo.

Nama Belukar dipilih untuk jadi identitas. Setahun berselang, tepatnya di tahun 2010, nama mereka berubah Semakbelukar. Alasan perubahan nama, mengutip hasil wawancara dengan Rian Pelor dari ((AUMAN)), karena “berkembangnya macam ide pikiran.” Soal nama grup mereka sendiri, David mengatakan,"Layaknya bunga-bunga jika tanpa kehadiran semak belukar, niscaya takkan nampak indah."


Selama berkarier di dunia musik, Semakbelukar telah mengeluarkan tiga mini album dan satu album kompilasi. Karya pertama mereka, Semoga Kita Mati dalam Iman yang berisikan 5 buah lagu dilepas tahun 2009. Album kedua, Mekar Mewangi dengan 6 buah balada di dalamnya, dilepas di tahun yang sama. Tiga tahun selanjutnya, mereka merilis Drohaka dengan menggandeng label independen ternama asal Yogyakarta, Yes No Wave Music.

Terakhir, album kompilasi Semakbelukar menyabet gelar Best Album dalam ajang Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2014 bertajuk Terlahir dan Terasingkan: Antologi Semakbelukar 2007-2012 dengan total 24 lagu yang dirilis setahun sebelumnya.

Akan tetapi, pencapaian demi pencapaian itu tak menghentikan keputusan mereka untuk bubar jalan. Penampilan di perpustakaan Kineruku, Bandung—yang digelar dalam rangka perilisan album antologi—menjadi saksi akhir petualangan Semakbelukar. Tak tanggung-tanggung, demi menegaskan sikap bahwa mereka benar-benar “selesai,” selepas konser berlangsung, Semakbelukar menghancurkan semua alat musik yang dimainkan menggunakan linggis dan palu.

Perihal momen tersebut David menjelaskan, “Menghancurkan alat itu suatu pernyataan bahwa Semakbelukar sudah selesai dan [kami] tak akan reuni lagi.”

 Infografik Semakbelukar REV


Para penggemar mereka tentu tak bisa melakukan apa-apa. Pernyataan Semakbelukar sudah jelas: mereka tak akan pernah kembali. Mengharapkan mereka bernyanyi lagi adalah tindakan naif lagi sia-sia.

“Mungkin Semakbelukar tidak sabar menunggu kebebasan yang bakal segera datang selepas dibelenggu musik selama kurang lebih satu dekade,” tulis Taufiq Rahman, pemilik Elevation Records—label yang menggarap album antologi Semakbelukar—serta pendiri situs Jakartabeat.

“Hari ini, di Kineruku, kami tahu bahwa Semakbelukar bukan sebatas kolektif yang mengemukakan cara bertutur maupun gagasan baru, melainkan juga kolektif yang punya kemampuan menulis komposisi kelas kampiun.”

Menolak Tunduk

Semakbelukar bermain musik demi kesenangan pribadi—persetan dengan omongan orang sekitar. Bubar? Ya tinggal bubar saja. Album diganjar penghargaan? Terserah panitia penyelenggara. Bercita-cita memajukan kancah Palembang? Emangnya mereka pemerintah provinsi yang hobi gembar-gembor otonomi daerah?

Tapi dengan modal “kesenangan dan kepuasan sendiri” itulah Semakbelukar membuktikan bisa membawakan musik dengan karakter mandiri, tak partisan, serta tak melulu mengekor pada Bob Dylan, The Fleetwood Mac, atau Patti Smith yang acapkali digaungkan sebagai role model nomor satu musisi-musisi folk kebanyakan. Semakbelukar bangga dengan identitas Sumatera dan mereka tak merasa ada yang salah dengan hal itu.


Lagu-lagu Semakbelukar merupakan momen perjumpaan antara semesta kehidupan, perkara hari ini, serta tentang hal-hal di sekitar yang cepat ataupun lambat bakal kita sadari arti pentingnya. Semua lagu dibungkus dalam bunyi-bunyian instrumen sederhana dengan kombinasi genjrengan ritmis gitar kopong, sentuhan akordeon, serta sesekali tepukan kendang yang sejenak membuat lupa diri.

“BE(RE)NCANA,” misalnya. Lewat balada ini, mereka memberi pesan akhirat yang penting tanpa membuat pendengar merasa digurui. Dibalut dengan nuansa religius, Semakbelukar seakan menyodorkan argumen “manusia melakukan dosa itu lumrah.” Sebab, “karena sempurna itu/hanya sebuah rencana/karena sempurna itu/hanya sebuah bencana.”

Pada “Gita Cempala,” alunan akordeon terdengar melodius ditemani pukulan kendang yang ritmis lagi penuh energi. Anda sedang dimabuk asmara dan butuh rayuan maut? Simak nomor “Mekar Mewangi.”

Pengaruh Toba dan Karo muncul di “Sejuknya Matahari” yang entah bagaimana mengingatkan saya pada album Music of Indonesia Vol. 4: Music of Nias & North Sumatra (1990) yang dipublikasikan Smithsonian. Dalam album tersebut, Smithsonian melakukan pengarsipan terhadap tiga kelompok musik etnik dari Karo (merepresentasikan Muslim), Toba (Kristiani dan animisme), dan Nias (Ono Niha).

Ketiga kelompok itu memainkan musik Sumatera Utara yang kompleks. Sajian tembang seperti “Simalungen Rayat” yang dimainkan kelompok Gendang Lima Sedalanen atau “Gondang Haro Haro” oleh Gondang Sabangunan begitu memikat serta kaya akan harmoni dari pencampuran gong, flute, hingga alat bunyi gesek. Di nomor “Sejuknya Matahari” elemen-elemen tersebut sangat terasa.

Balada-balada di atas merupakan bukti jika Semakbelukar berani mengolah khazanah setempat tanpa memaksakan diri ikut arus yang ada atau sekadar mereplikasi kaidah-kaidah paten dari musik folk modern setempat yang temanya tak jauh-jauh dari “senja, kopi, hujan, dan rasa sendu.”

Baca juga artikel terkait MUSIK FOLK atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf