Menyimpan File Foto di Awan Belum Tentu Aman

Oleh: Ahmad Zaenudin - 3 Januari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Anda harus berhati-hati karena ada risiko file rusak, diretas, atau diintip pemerintah.
tirto.id - Tahun baru telah tiba. Hingar-bingar perayaan menggema. Foto merupakan salah satu produk yang dipilih untuk mengabadikan perayaan bergantinya tahun. Apalagi di era media sosial visual seperti Instagram.

Di pekan pertama tahun 2011 yang lalu, 750 juta foto yang berhubungan dengan perayaan tahun baru diunggah ke media sosial Facebook. Sayang, belum ada data serupa menyambut tahun 2018 ini. Mengingat kepemilikan smartphone telah berkembang, foto yang diunggah berhubungan dengan perayaan tahun baru 2018 diperkirakan melebihi angka di 2011 lalu.

Dengan ponsel pintar, orang tak perlu kamera khusus untuk memproduksi foto. Merujuk data Infotrends yang dipacak Statista, diprediksi ada 1,2 triliun foto dihasilkan pada 2017 lalu. Meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah foto yang diproduksi pada 2013, yakni 660 miliar foto. Dari besarnya jumlah foto yang diproduksi itu, 85 persen dihasilkan melalui smartphone. Hanya 10,3 persen foto yang diproduksi melalui perangkat konvensional bernama kamera digital.


Berbeda dengan Infotrends, Deloitte punya angka jauh lebih tinggi tentang foto. Di tahun 2016 saja, lembaga ini menyatakan bahwa ada 2,5 triliun foto yang diunggah online ke berbagai layanan. Dari jumlah tersebut, 90 persennya dihasilkan dengan smartphone. Secara keseluruhan, foto-foto yang diunggah ke ranah online tersebut mengambil media penyimpanan sebesar 3,5 miliar GB.

“Ini adalah angka yang besar. Seiring dengan peningkatan smartphone dan jaringan internet yang semakin cepat, volume foto yang kita bagi secara online hanya mengenal kata tumbuh,” ungkap Paul Lee, peneliti Deloitte.

Menggunggah foto ke ranah online banyak macamnya. Mulai dari menggunggah ke media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Flickr, hingga mengunggah ke media penyimpanan awan (cloud storage) seperti Google Drive atau Dropbox. Penyimpanan foto ataupun berkas digital secara online memiliki keunggulan yang tak bisa dicapai oleh penyimpanan fisik semacam CD, flash drive, ataupun hard disk. Jika Anda menyimpan foto di Google Drive atau Drop Box, Anda bisa mengaksesnya di mana pun.

Namun, meskipun memiliki keunggulan aksesibilitas, media penyimpanan online alias cloud storage secara prinsip tak beda jauh dibandingkan CD, flash drive, ataupun hard disk. Facebook misalnya. Mereka memiliki pusat data yang disusun melalui ribuan cakram Blu-ray. Secara sederhana, media penyimpanan awan bisa diartikan sebagai versi online dari hard disk, SSD, atau CD.

Media penyimpanan seperti hard disk, SSD, maupun CD memiliki umurnya sendiri-sendiri. Mengutip Storage Craft, hard disk memiliki masa hidup antara 3 hingga 5 tahun. Penyimpanan berbasis flash (SSD) memiliki umur antara 5 hingga 10 tahun. Lebih dari umur itu, pengguna wajib memikirkan mengganti dengan yang baru.


Bianca Schroeder dalam studinya yang berjudul “Disk Failures in the Real World”, menerangkan bahwa kerusakan yang terjadi pada media penyimpanan cenderung sukar diketahui penyebabnya. Ini terkait tak adanya informasi yang jelas soal soal sang media penyimpanan.

Menurut Schroeder, media penyimpanan seperti hard disk atau SSD yang dikembalikan pada penjual karena diduga rusak, 43 persennya setelah dicek ternyata tak mengalami apa yang dikeluhkan konsumen.

Kalaupun rusak, lanjut Schroeder, ada banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan itu. Lingkungan, suhu udara, kelembaban, penanganan, hingga lamanya media penyimpanan terpapar listrik, berpengaruh pada pendek-lamanya masa pakai media penyimpanan.

Mehul A. Shah dalam tulisannya yang berjudul “Auditing to Keep Online Storage Services Honest” menerangkan bahwa media penyimpanan awan setidaknya punya 3 masalah yang patut diwaspadai. Ketiga permasalahan itu ialah cacat laten (latent faults), cacat berkorelasi (correlated faults), dan cacat pemulihan (recovery faults).

Latent faults merupakan kerusakan media penyimpanan yang tidak terdeteksi. Misalnya kecacatan akibat kealpaan manusia (human error) yang tak terdeteksi atau karena serangan yang juga tak terdeteksi. Correlated faults merupakan kerusakan karena kurang beragamnya platform piranti penyimpanan yang digunakan maupun perbedaan lokasi penyimpanan. Adapun recovery faults merupakan kerusakan data yang terkait dengan prosedur pemulihan data yang dilakukan. Meski jarang terjadi, ia merupakan ancaman yang nyata.

Infografik media penyimpanan


Lucas Mearian, dalam tulisannya di Computer World mengatakan bahwa masalah pada media penyimpanan awan bukan hanya potensi kerusakan data. Ada juga kemungkinan bahwa data, baik foto ataupun berkas digital lainnya, diintip oleh pemerintah.

Per Juni 2017, Google memperoleh 19.176 permintaan pemerintah. Foto atau berkas yang diunggah ke layanan seperti Google Drive, kemungkinan bisa diminta oleh pemerintah melalui permintaan resmi.

DI balik semua kerentanan yang dimiliki media penyimpanan, Jack Schofield dalam kolomnya bertajuk “Ask Jack” di The Guardian menyatakan bahwa menyimpan foto maupun berkas digital lain, lebih baik dilakukan di 3 tempat terpisah. Tentu harus ada kombinasi platform penyimpanan online dan offline. Jika ada satu berkas foto yang rusak di satu media, Anda tak kebingungan karena masih punya cadangannya di tempat lain.

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani