Menyibak "Harta Karun" Batuan Purba di Ujung Selatan Jawa Barat

Oleh: Suhendra - 11 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Konsep geopark bisa menyelamatkan warisan geologi, agar nasibnya tak seperti Pegunungan Kendeng Jawa Tengah yang telanjur dieksploitasi industri semen.
tirto.id - Idris harus menerabas rimbunnya hutan bersama anjing-anjing lapar mangsa. Binatang itu berlari ke sana kemari menggiring “penghuni” hutan yang siap jadi bidikan. Dari kejauhan, seorang pemburu dengan senjata laras panjang siap melepaskan timah panas.
"Dor!" Seekor babi hutan nahas pun terhuyung, lalu ambruk di semak-semak.

Panas terik matahari satu hari di akhir Desember tahun lalu, di sebuah lahan parkir di Kampung Cimarinjung, tempatnya bekerja, tak menyurutkan semangat pria berumur 45 tahun ini menceritakan pengalamannya menjadi pawang anjing pemburu babi hutan di kampung halamannya. Kegiatan berburu itu sudah berlangsung beberapa dekade di kawasan yang kini tersohor dengan sebutan Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Sesekali, tangan Idris menunjuk ke sebuah hamparan sawah luas yang masih menghijau, persis di bibir Pantai Teluk Ciletuh. Hamparan sawah yang sudah lama dimiliki sang pemburu itu dahulu adalah tanah kakeknya.

Orang kampung sekitar menyebut sang pemburu sebagai Pak J—sosok pesohor pemimpin organisasi kepemudaan nasional. Menurut Idris, lahan-lahan Pak J ini tak hanya sawah, tapi juga kawasan tepi pantai di kaki Puncak Darma—titik tertinggi Geopark Ciletuh.


Teluk Ciletuh saat ini memang tak seperti yang diceritakan Idris, pada beberapa dekade lalu saat rusa masih bisa ditemukan dan jalan-jalan di sana masih penuh lumpur dan bebatuan. “Sekarang jalan sudah mulus, kalau dulu, naik motor tangan kayak mau patah,” katanya kepada Tirto.

Bentangan alam dinding batuan purba menghadap teluk membentuk tapal kuda (amphiteater) memang masih utuh yang menyimpan batuan tertua di Jawa Barat hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan kerak samudera dan kerak benua yang diperkirakan terjadi 65 juta tahun silam. Penampakan batuan berwarna kecoklatan dan oranye dengan sederetan air terjun, hutan, dan pantai, mengingatkan pada suasana film Jurassic Park.

Kampung halaman Idris yang masuk Kecamatan Ciemas, kini sudah rimbun dengan pohon-pohon sawit, pasir pantai kecoklatan sudah dipenuhi dengan vila-vila dengan atap menjulang hingga homestay.

Sungai-sungai di kawasan ini berwarna kecoklatan karena sedimentasi lumpur akibat musim hujan, tapi menurut warga sekitar aktivitas pertambangan emas di hulu sungai juga punya andil. Material lumpur mengendap di Pantai Palangpang, Teluk Ciletuh sebagai mozaik kecil dari “nama besar” Geopark Nasional Ciletuh-Pelabuhan Ratu seluas 126 ribu hektar.


Secara sederhana, geopark atau taman bumi merupakan konsep konservasi warisan geologi yang dibarengi dengan perlindungan flora fauna dan sosial-budaya. Titik penekanannya—menurut UNESCO sebagai organisasi PBB yang membawahi pendidikan, keilmuan, kebudayaan, juga jaringan geopark dunia—adalah pada aspek perlindungan, pendidikan, dan pembangunan keberlanjutan. Ide awalnya muncul pada akhir 1960‐a dari para ilmuwan di Eropa.

Secara regulasi, geopark diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional, yang memasukkan unsur kawasan cagar alam geologi kawasan yang harus dilindungi.

Sampai saat ini, UNESCO baru mengakui 127 geopark dengan status global atau UNESCO Global Geoparks (UGG) di 35 negara, terbanyak ada di Cina, dan Indonesia salah satunya yang diwakili oleh Geopark Gunung Sewu dan Batur.

Nah, tahun lalu, perhatian pemerintah fokus untuk meloloskan Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu untuk masuk daftar UGG, setelah kawasan itu disahkan oleh pemerintah sebagai geopark nasional. Ambisi memasukkan Ciletuh dalam UGG antara lain untuk membidik eksposur secara internasional tanpa harus promosi dengan biaya besar.

Dalam laporan yang ditulis oleh Oki Oktariadi, penyelidik bumi utama Badan Geologi Kementerian ESDM, nilai ekonomi Geopark Global Gunung Yuntaishan di Cina misalnya, pada 2000 hanya ada sekitar 200.000 kunjungan wisatawan, dengan devisa US$ 3 juta. Namun, pada 2004, setelah masuk daftar UGG, jumlah kunjungan wisatawannya mencapai 1,25 juta kunjungan, dengan devisa US$ 90 juta. Setidaknya dalam empat tahun telah dibangun 400 hotel dan restoran baru yang menyerap ribuan tenaga kerja.

Imbas embel-embel nama global pada geopark di Indonesia seperti di Gunung Sewu (2015) dan Gunung Batur (2012) memang punya dampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Namun, peningkatan kunjungan ini malah bisa jadi malapetaka bila tak ditangani dengan baik.


Infografik geopark indonesia



Untuk bisa meloloskan kawasan Ciletuh ke pentas global tak mudah, selain harus ada badan pengelola, mesti ada juga komitmen soal perlindungan dan keberlanjutan. Di Geopark Ciletuh misalnya, persoalan mendasar seperti sampah-sampah pengunjung menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Belum lagi celah yang menganga lebar yang sangat serius, aktivitas pertambangan emas dan batuan di hulu-hulu sungai yang muaranya di Teluk Ciletuh.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengamini soal kegiatan penambangan tersebut. Deddy menegaskan penambangan yang sudah dikeluarkan oleh Pemkab Sukabumi tetap berjalan. Ia beralasan, izin-izin tersebut sudah dikeluarkan oleh Pemkab sebelum ada deliniasi atau pembuatan batas kawasan Geopark Ciletuh. Sementara itu, Pemprov Jawa Barat belum pernah mengeluarkan izin penambangan di kawasan geopark.

“Jika dianggap merusak lingkungan, tentu akan dicari solusinya,” kilah Deddy kepada Tirto.

Pusat Studi Pembangunan Unit Penelitian Geopark Ciletuh Sukabumi, Universitas Muhammadiyah Sukabumi pada 2015 pernah melakukan penelitian dengan pendekatan kuantitatif soal kualitas air Sungai Ciletuh.

Terungkap kandungan logam berat merkuri pada air di hulu Sungai Ciletuh tercatat 0,013 mg/l, padahal batas baku mutu air permukaan hanya 0,005 mg/l. Di sisi hilirnya malah lebih parah, angkanya 0,027 mg/l. Hal yang sama terjadi pada Sungai Cikanteh, yang kandungan merkuri di hilirnya sempat tercatat 0,022 mg/l.

“Merkuri pada kedua air sungai di kawasan Geopark Ciletuh berada di atas baku mutu yang mengindikasikan terjadi pencemaran yang parah. Dugaan sementara polutan ini berasal dari aktivitas tambang emas metoda amalgamasi yang berada di daerah hulu dan hilir kedua sungai tersebut,” jelas laporan itu.

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah penguasaan lahan oleh warga dan pemodal di kawasan tersebut yang bisa jadi potensi hambatan upaya perlindungan kawasan geopark. Perkebunan sawit adalah salah satunya. Dalam catatan Pemkab Sukabumi, wilayah geopark yang juga zona kawasan perkebunan sawit setidaknya seluas 4.100 hektare, termasuk di Ciemas. Gagasan membeli lahan-lahan warga dan swasta sempat tercetus oleh Pemprov Jabar.

“Beli lahan bisa juga untuk menjaga lingkungan,” kata Deddy.

Sampai saat ini, mimpi menjadikan Ciletuh sebagai geopark skala global belum kesampaian. Target akhir tahun 2017 pun meleset: UNESCO belum juga melakukan penetapan, karena harus diundur hingga 2018. Alasannya, ada penundaan pengumuman dari semua pengajuan geopark di dunia, tak hanya di Indonesia.

Kawasan Ciletuh memang masih cukup beruntung, karena di sisi barat Teluk Ciletuh, yaitu di kawasan geologi karst Bayah, Banten yang menjadi titik ujung batas Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu sudah menjadi mangsa bagi pabrik semen. Ini mengingatkan pada kasus karst Pegunungan Kendeng di Jawa Tengah, yang tak selamat dari eksploitasi untuk kepentingan ekonomi.


Bila mengacu dari pengalaman karts Gunung Sewu, Yogyakarta, yang lolos sebagai geopark global, peluang terjaganya warisan geologi ini lebih besar. Namun, embel-embel nama besar dengan status global tak akan ada artinya bila upaya menjaga warisan "harta karun" geologi ini tak serius dilakukan. Yang juga tak kalah penting, masyarakat sekitar jangan sampai terlibas pemodal besar, seiring pamor kampung halaman mereka yang mendunia.


Baca juga artikel terkait WISATA atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Maulida Sri Handayani
a