Menuju konten utama

Mentan: Kasus Antraks di Gunungkidul Bukan Kejadian Luar Biasa

Mentan Syahrul Yasin Limpo menyatakan Pemkab Gunungkidul tak perlu menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks di wilayahnya.

Mentan: Kasus Antraks di Gunungkidul Bukan Kejadian Luar Biasa
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (tengah) menjawab pertanyaan wartawan saat akan meninggalkan Gedung ACLC KPK, Jakarta, Senin (19/6/2023). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom.

tirto.id - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyatakan kasus antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB). Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul tak perlu menetapkan status KLB antraks.

"Namun demikian, penanganan harus intensif," kata Syahrul dikutip dari Antara, Jumat (14/7/2023).

Syahrul menjelaskan kasus antraks ada setiap tahun dan tidak bisa hilang. Spora antraks bisa bertahan bertahun-tahun, bahkan sampai 50 tahun.

Menurut Syahrul, kasus antraks di Indonesia tidak separah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan LSD pada hewan ternak. Hal yang mengejutkan, kata dia, antraks menjangkiti manusia dan menyebabkan kematian.

Syahrul mengklaim hasil deteksi Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kasus antraks yang menyebabkan kematian manusia hanya terjadi di Gunungkidul.

Untuk menangani hal tersebut, Kementan menerapkan tiga agenda yang perlu dilaksanakan pemerintah daerah.

"Setiap ada antraks harus ada agenda penanganan darurat atau SOS. Salah satunya, hewan ternak yang mati akibat antraks tidak boleh disentuh, tapi langsung dibakar dan dikubur," kata dia.

Langkah kedua, daerah di sekitar lokasi antraks sampai radius 200 meter harus diisolasi penuh. Kemudian wilayah itu dijaga oleh pusat kesehatan hewan.

"Di Gunungkidul ada kontraksi yakni hewan positif antraks yang telah dikubur digali kembali dan dagingnya dikonsumsi masyarakat," kata Syahrul.

Dia mengatakan kasus antraks di Gunungkidul sebagai peringatan bagi semua pihak bahwa penyakit ini tidak boleh diabaikan.

Syahrul mengatakan langkah terpenting selanjutnya dalam penanganan antraks adalah memberikan edukasi kepada masyarakat soal antraks.

Hewan yang terkena antraks itu memiliki gejala klinis seperti demam dan mulut berbusa. Kondisi semakin parah, dalam waktu satu sampai dua hari bisa langsung mati.

"Hal ini yang perlu diberikan edukasi kepada masyarakat," katanya.

Dalam mengantisipasi antraks, Syahrul menyerahkan bantuan berupa vaksin antraks hingga pendukung lainnya senilai Rp631.613.132,00. Vaksin yang diserahkan mencapai 60.817 dosis.

Gunungkidul mendapatkan jatah sebanyak 11.017 dosis dan DIY sebanyak 12.667 dosis. Sisanya sebanyak 37.133 dosis jadi cadangan di Balai Besar Veteriner Yogyakarta.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengklaim kasus antraks di wilayahnya saat ini terkendali. Ia mengakui kasus ini menyebabkan seorang warganya meninggal, namun publikasi dari kejadian ini dinilai berlebihan.

"Ada framing sehingga kasusnya jadi viral di nasional, padahal di lapangan tidak ada masalah berarti," katanya.

Sunaryanta berharap warga Gunungkidul tidak panik menghadapi kasus Antraks.

"Kami berharap warga optimistis membangun kekuatan untuk mengatasi masalah ini," ucapnya.

Baca juga artikel terkait ANTRAKS DI GUNUNGKIDUL

tirto.id - Kesehatan
Sumber: Antara
Editor: Gilang Ramadhan