tirto.id - Menurut Gus Ipul, lembaga pendidikan keagamaan tidak boleh dijadikan tameng untuk menutupi tindakan yang menyimpang dari nilai moral maupun ajaran agama. “Kami tidak hanya berhati-hati, kami mengecam keras, kami kecewa, kami sungguh-sungguh mengutuk ada pesantren dijadikan kedok,” ujar Gus Ipul. Sebagai tindak lanjut, Kementerian Sosial telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan asesmen awal sekaligus mendampingi korban. Proses penanganan, kata dia, dilakukan bertahap melalui komunikasi dengan korban dan keluarga agar bentuk dukungan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan. “Kita asesmen, nanti kita lakukan pembicaraan lebih lanjut dengan keluarganya dan kira-kira apa yang bisa kita berikan dukungan dalam rangka pemberdayaan. Jadi, tim dari Kemensos sudah ada di sana dan kita sedang melakukan dialognya secara bertahap,” jelasnya. Selain pendampingan awal, Kemensos juga menyiapkan dukungan lanjutan untuk pemulihan korban. Layanan psikososial maupun residensial telah disiapkan di wilayah Kabupaten Pati agar proses pemulihan mental dan fisik dapat berjalan lebih cepat dan menyeluruh. Gus Ipul menilai kasus ini juga menegaskan pentingnya sistem pendataan sosial yang akurat. Menurutnya, data menjadi fondasi penting agar pemerintah dapat merancang intervensi yang tepat sasaran, baik berupa bantuan langsung maupun program pemberdayaan. “Di sinilah pentingnya pendataan yang kemudian nanti kita jadikan dasar memberikan dukungan, bantuan atau intervensi yang bisa dilakukan oleh pemerintah atau juga oleh filantropi, lembaga non-government. Jadi kita bisa tahu lebih cepat dan bertindak lebih cepat jika memiliki data yang lebih akurat,” ujarnya. Terkait kondisi sosial ekonomi keluarga korban, Kemensos akan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik untuk melakukan pengukuran lanjutan sebelum menentukan bentuk intervensi kebijakan. “Belum bisa kita ukur, nanti kita sampaikan ke BPS untuk dilakukan pengukuran. Insya Allah kita akan ketahui dalam beberapa waktu ke depan,” tambahnya. Di akhir keterangannya, Gus Ipul mengajak semua pihak untuk meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan pendidikan, khususnya pesantren, namun tetap menghindari generalisasi. Ia menegaskan bahwa banyak pesantren di Indonesia tetap menjalankan fungsi pendidikan dengan baik. “Mari kita sama-sama berikan pengawasan secara ketat dan jangan disamaratakan. Banyak pesantren yang telah mendidik dengan sungguh-sungguh para santrinya,” tuturnya. Ia menambahkan, perlindungan tidak boleh hanya difokuskan pada korban, melainkan juga seluruh santri yang berada di lingkungan tersebut. Pendekatan rehabilitasi dan pemberdayaan, menurutnya, harus berjalan beriringan. “Kita harus jaga para santri ini, tidak hanya korban tapi juga santri lainnya. Semua harus kita beri perlindungan, sekaligus rehabilitasi dan pemberdayaan,” pungkas Gus Ipul.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































