Menilik Eksploitasi Satwa di Sekitar Kita

Reporter: Aditya Widya Putri - 24 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Penyiksaan bisa jadi kita lakukan terhadap satwa dengan menonton topeng monyet, naik gajah tunggang, delman, atau menikmati sirkus.
tirto.id - Beberapa waktu lalu seorang aktris Indonesia, Pevita Pearce, menayangkan kekerasan hewan yang dilakukan pengelola The Ranch Cisarua. Dalam rekaman Instastory miliknya, terlihat pengelola mengikat dan memukul badan, leher, serta wajah kuda-kuda mereka. Bukan kali ini saja eksploitasi hewan demi kepentingan bisnis terjadi, Indonesia sudah jamak melakukannya.

Kekerasan hewan sesungguhnya ada di sekitar kita. Karena dianggap biasa, banyak orang tak menyadari bahwa tindakan yang melibatkan binatang kerap melibatkan kekerasan di dalamnya. Beberapa malah dibalut oleh tradisi kedaerahan seperti adu bagong, sambung ayam, atau topeng monyet. Yang lainnya dikemas sebagai atraksi, hiburan, serta wisata untuk manusia, misalnya gajah tunggang, sirkus hewan, delman, dan kebun binatang.

Mungkin Anda belum lupa pada kejadian akhir tahun 2017 lalu di Citayam, Depok, Jawa Barat. Seekor kuda yang sudah kelelahan dan tak kuat berdiri justru dipaksa kusirnya untuk kembali bekerja. Rekamannya menjadi viral ketika seorang warga berupaya memberi minum kuda namun dilarang oleh sang kusir.

Kejadian tersebut makin membuka fakta bahwa edukasi mengenai hak-hak kehewanan belum diterima baik oleh sebagian masyarakat. Keberadaan kebun binatang tak layak huni serta sirkus-sirkus hewan yang masih ramai dikunjungi semakin menguatkan persepsi tersebut.

Secara keseluruhan, pada 2013 ada 141 hewan yang mati di kebun binatang Indonesia. Kebun Binatang Surabaya misalnya, sebagai yang paling terkenal dengan predikat tingkat kematian tinggi satwanya. Data tahun 2013 menunjukkan ada hampir 50 hewan mati dalam waktu kurang dari 12 bulan. Pada awal 2014, geger seekor singa berumur 1,5 tahun mati karena lehernya terjerat kabel.

Sebelumnya, pada 2012, terdapat sekitar 20 kg bola plastik dalam perut jerapah yang telah mati. Kematian janggal juga dialami harimau putih berusia 16 tahun karena kurang gerak dan pencahayaan. Padahal, umumnya, di penangkaran harimau bisa memiliki umur hidup hingga 20 tahun.

“Indonesia belum punya standar kesejahteraan satwa, jadi banyak satwa kita hidup dieksploitasi, mengalami pelecehan, dan kekejaman,” ungkap aktivis pelindung satwa, Marison Guciano kepada Tirto, Senin (23/4/2018).

Pendiri Indonesia Animal Welfare Society ini melanjutkan, satwa di kebun binatang dibiarkan hidup tidak nyaman. Di habitat aslinya, mereka bebas berguling di tanah, terbang di langit luas, dan berenang di laut lepas. Namun, di kebun binatang hewan-hewan ini harus dipenjara dalam jeruji, dinding, dan lantai beton.

Akibatnya, mereka berisiko stres dan memiliki gangguan kesehatan kronis. Apalagi, beberapa darinya merupakan hewan soliter, sehingga kemungkinan risiko stres semakin tinggi akibat keramaian pengunjung. Respons stres hewan akibat faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari perilaku menyimpang. Semisal berjalan mondar mandir dalam jarak 1-2 meter atau menggoyang-goyangkan kepala.


Sarana Edukasi?


Meski banyak melanggar hak hidup para hewan, bentuk eksploitasi di kebun binatang ataupun pertunjukan-pertunjukan satwa tetap langgeng. Banyak pihak menolak penutupan tempat-tempat dan kegiatan tersebut dengan dalih edukasi pada masyarakat.

Dalam hal ini, Marison meyakini bahwa tak ada edukasi yang diberikan di kebun binatang ataupun sirkus hewan.

Hewan yang digunakan dalam pertunjukan menghabiskan hampir seluruh hidup mereka di kandang, peti, kolam, tangki, atau truk. Jelas, mereka tak lagi memiliki ruang gerak bebas. Dalam banyak pertunjukan sirkus, hewan-hewan ini harus melakukan perjalanan setidaknya seminggu sekali.

Jamak dari mereka tak diberi makan atau air yang cukup saat berpergian dan harus merasakan perubahan suhu yang ekstrim. Kondisi ini paling banyak membuat hewan-hewan endemik--yang terbiasa hidup di iklim dan suhu tertentu--jadi tersiksa.

Untuk melakukan pertunjukan, hewan sirkus akan dipaksa membuat gerakan tertentu yang membuat otot, sendi, atau tulang mereka cedera. Hewan berkaki empat seperti gajah, atau beruang misalnya, sering dibuat berdiri bertumpu kaki belakang atau bahkan menyeimbangkan diri dengan satu kaki. Agar dapat berdiri lama, para pelatih tak segan membakar kaki depan mereka sehingga sakit saat menapak. Jika terus menerus dilakukan, maka kondisi ini berpotensi menyebabkan hernia pada hewan.


Hewan-hewan yang ditawan dalam kolam, tangki atau akuarium juga tak luput dari penyiksaan. Mereka cuma bisa berputar-putar dalam tangki berukuran 9-10 meter. Banyak mamalia laut mengalami stres karena suara sonar yang mereka kirimkan malah berbalik. Bayangkan rasanya seperti terkunci di ruangan kecil nan gelap, tak ada yang bisa didengar kecuali suara keras yang terus-menerus berulang.

Infografik eksploitasi binatang


Singkatnya, hewan-hewan tersebut tidak akan melakukan perilaku menyimpang apabila tidak dipaksa. Para pelatih hewan lazim menggunakan rantai, cambuk, kait logam, dan tongkat listrik untuk memaksa hewan berperilaku dengan cara tertentu.

“Mereka dikendalikan rasa sakit, takut, dan lapar. Nilai edukasi hanya semacam pembenaran di balik eksploitasi,” kata Marison.

Ia melanjutkan, edukasi ideal tentang satwa bagi masyarakat dapat diperoleh dari aktivitas konservasi yang tepat. Dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 479/Kpts-II/1998 disebutkan tujuan utama kebun binatang sebagai lembaga konservasi ex-situ adalah sebagai konservasi satwa, baru dilanjutkan dengan pendidikan, penelitian dan sarana rekreasi.

Artinya, pengelola kebun binatang wajib menomorsatukan fasilitas serta kenyamanan satwa. Desain kebun binatang harus diupayakan semirip mungkin dengan habitat alami hewan-hewannya. Dan yang terpenting tak boleh ada penyiksaan hewan untuk kepentingan ekonomi semata.

Di Amerika, terdapat Asosiasi Kebun Binatang & Akuarium (AZA) yang bertugas untuk menyeleksi kebun binatang sesuai standar konservasi. Mereka memastikan hewan-hewan dalam kebun binatang memperoleh fasilitas dan stimulasi untuk berprilaku alami dan terhindar dari kebosanan.

Kebun Binatang Denver, Amerika sebagai salah satu anggota AZA misalnya. Mereka menjamin nutrisi, perawatan, dan kesejahteraan hewan tercukupi, mengadakan program kedokteran hewan, konservasi, pendidikan, dan keselamatan. Hewan-hewan di sana memiliki “kandang” yang luas dan mirip dengan habitat aslinya.

Di Asia, gambaran kebun binatang seperti itu juga terdapat di Singapura, yang diklaim sebagai taman hutan hujan terbaik dunia. Selain membiarkan hewannya berkeliaran tanpa jeruji besi, kedua kebun binatang tersebut memberikan edukasi mengenai habitat dan konservasi satwa bagi pengunjung lewat pemandu tur.



Baca juga artikel terkait BINATANG atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aditya Widya Putri

DarkLight