Mengendalikan Paedofil dengan Boneka Seks

Seorang pria sedang membawa boneka cantik (boneka seks) di kursi roda. Foto/Getty Images
Oleh: Ahmad Khadafi - 27 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Perusahaan-perusahaan boneka mencoba meyakinkan bahwa boneka seks bisa menjadi jawaban dari masalah paedofil. Mereka punya pandangan paedofil bisa dikendalikan dengan media boneka berbentuk anak-anak perempuan.
Sorotan mata kosong dari sebuah penampakan wajah dengan kulit cerah dan rambut terurai manis. Ini adalah boneka seks yang nampak bak seorang anak-anak perempuan berusia belia. Boneka ini bakal mengubah hidup para paedofil.

Shin Takagi, pemilik dan pendiri Trottla, perusahaan yang memproduksi boneka seks anak-anak, meyakini menjalani hidup sebagai seorang paedofil bukan hal yang mudah. Bersama Roc Morin, jurnalis The Atlantic, Shin Takagi menceritakan awal dirinya membuat boneka perempuan berparas cantik itu.

“Mereka seperti hidup dengan sebuah topeng,” kata Shin Takagi mengomentari para paedofil yang hasrat seksualnya bisa ditekan, ia sembari menyulut rokok di tengah kafe di Tokyo, Jepang, Januari 2016.

Tanpa tedeng aling-aling, Takagi menjelaskan pandangan kontroversialnya “Kita harus menerima bahwa tidak ada cara untuk mengubah fetisisme seseorang. Saya membantu orang mengekspresikan keinginan mereka secara legal dan etis.” Pembicaraan ini membuat orang-orang di kafe mulai memperhatikan Takagi dan—tentu saja Morin.

Pengusaha yang mengaku sebagai seorang seniman ini tidak asal bicara, sebab peneliti dari Universitas Toronto, Kanada, Michael Seto punya pendapat bahwa untuk beberapa paedofil, akses ke video pornografi anak-anak atau penggunaan boneka seks anak-anak bisa jadi terapi paling aman untuk mengendalikan dorongan seksual mereka agar tak liar. Artinya ini bisa mengurangi kemungkinan para paedofil untuk melakukan tindak kejahatan dengan anak-anak.

Opsi memberikan boneka seks bukan satu-satunya untuk mengendalikan para paedofil. Upaya terapi kognitif perilaku hingga pengebirian kimia jadi alternatif untuk menekan kelainan seksual bagi paedofil. Namun, cara-cara ini tidak mengubah dasar orientasi seksual para paedofil. Kenyataan ini membuat Takagi sangat yakin bahwa boneka seks anak-anak ciptaannya bisa jadi solusi.

Dr. Klaus M. Beier, direksi Institute for Sexual Science and Sexual Medicine di Berlin, Jerman, telah menyelidiki apa yang membedakan pengidap paedofil yang pada akhirnya melakukan tindak kejahatan pada anak-anak.

“Kami dapat mendeteksi paedofil dengan memeriksa pola aktivitas yang berhubungan dengan gairah seksual melalui neuroimaging,” kata seksolog dari Jerman ini.

“Pertanyaan jauh lebih menarik adalah; apakah ada orang yang mampu mengendalikan perilaku ini?” Pada akhirnya, Dr. Beier percaya bahwa, “Hanya karena seseorang memiliki kecenderungan paedofil, bukan berarti dia berbahaya.”



Gagasan boneka seks anak-anak memang terlihat mengerikan dan mengganggu. Tentu saja ada pertarungan moral sekalipun “anak-anak” ini hanya sebuah boneka saja. Masalahnya, masih belum diketahui apakah penggunaan boneka seks anak-anak untuk orang-orang dengan kecenderungan paedofil bisa benar-benar sembuh, atau malah menjadi lebih terinspirasi. Tentu bagi Takagi ini bukan kabar baik.

Badan Investigasi Kriminal di Norwegia menyita boneka seks yang diimpor dari Hong Kong. Sejak akhir 2016 sampai awal 2017, dalam enam bulan terakhir sampai dengan Maret 2017, sudah terkumpul 20 boneka yang disita oleh petugas. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, beberapa pemesan yang berusia 18-60 tahun ini beberapa di antaranya pernah didakwa melakukan pencabulan terhadap anak-anak.Norwegia adalah salah satu negara yang melarang peredaran boneka seks.

“Boneka seks ini dapat menimbulkan risiko pelanggaran terhadap anak-anak di masa depan,” jelas rilis Kepolisian Norwegia seperti dilansir Fox News.

Takagi, sang pencipta boneka seks anak-anak, mencoba menggambarkan bahwa para pembeli boneka seks rata-rata memang para pria yang memiliki masalah dengan hubungan intim terhadap orang lain, terutama terhadap lawan jenis. Motif awal pelanggan boneka seks ini memang untuk alasan seksual, tapi lama-kelamaan hubungan tersebut menjadi lebih personal.

“Mereka mulai menyisir rambut atau mengganti pakaiannya,” ujar Takagi.

Meskipun begitu, tidak semua pembeli boneka seks anak-anak adalah pria. Beberapa klien perempuan membeli untuk mengingatkan mereka akan anak-anak perempuan mereka. “Itulah sebabnya saya tidak membiarkan diri saya difoto. Saya ingin mencegah pandangan mereka yang melihat saya sebagai ayah dari boneka seks tersebut.”

Peralihan hubungan kedekatan manusia dengan boneka seks juga dibaca oleh Matt McMullen, CEO RealDoll, sebuah perusahaan pembuat boneka seks. Perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat ini bahkan tidak sedang menciptakan boneka, tapi sebuah robot dengan chip artificial intelligence. Seperti yang dirilis The New York Times robot ini akan mampu menjawab ketika ditanya. Berkomunikasi seperti menanyakan posisi apa yang disukai sampai apakah klien-nya sudah mencapai klimaks.

“Mereka akan bisa berbicara dengan boneka mereka, dan artificial intelligence (AI) akan mempelajari mereka dari waktu ke waktu melalui interaksi ini,” ujar McMullen, “Dan tidak terbatas pada soal seksual saja.”

Menurut McMullen pendekatan seperti ini lebih dibutuhkan para pelanggan boneka seks. Bahwa esensi hubungan seksual akan terlihat nyata bila komunikasi bisa terjalin dua arah. Bahkan “robot” ini diklaim mampu mengedipkan mata sekaligus membuka tutup mulutnya. Itulah kenapa harga untuk kepala robotik dengan rangkaian otak buatan di dalamnya dihargai 10 ribu dolar AS atau sekitar Rp130 juta, dan bentuk utuhnya mencapai 30-60 ribu dolar AS atau sekitar Rp390-780 juta.

Kedekatan emosional ini bahkan tidak memerlukan sentuhan teknologi seperti di Jepang. Negara tempat tinggal Takagi ini, banyak orang masih menganut kepercayaan Shinto. Hal yang kemudian membuat status boneka seks anak-anak ciptaannya memiliki berbagai status yang rumit.

“Dalam Shinto, segala sesuatu memiliki jiwa. Bahkan jika Anda tidak menginginkan boneka Anda lagi, Anda tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Ada upacara khusus yang dilakukan untuk boneka-boneka itu di kuil. Seperti upacara untuk orang mati,” kata Takagi kepada Morin.

Beberapa boneka seks sebagian menunjukkan raut muka yang sedih. Apa tanggapan Takagi? ia menjawabnya dengan enteng saja bahwa beberapa klien memang memiliki permintaan khusus. Ini hanya memenuhi kebutuhan pelanggannya. Artinya, boneka-boneka ini didesain agar terlihat takut dan cemas untuk memuaskan hasrat pelanggan Takagi. Gambaran yang tentu saja membuat bulu kuduk berdiri.

Ironisnya, saat orang kebanyakan merasa bahwa apa yang ditawarkan boneka seks berbentuk anak-anak ini terasa menjijikkan, tapi di sisi lain belum ada terapi yang bisa dengan sukarela membuat para pelaku paedofil mau mengikutinya. Apalagi jika keengganan akan penggunaannya justru dituduh sebagai upaya untuk membatasi perlindungan anak-anak dari tindak kejahatan paedofil.

Takagi bahkan mengakui pernah dikirimi beberapa surat sebagai apresiasi terhadap produk ciptaannya. Sebuah respons positif bahwa bonekanya telah banyak menyelamatkan anak-anak.

“Surat-surat itu berisi ‘terima kasih untuk boneka Anda, saya jadi bisa menjaga diri dari tindak kejahatan.”

Apakah ciptaan dari Takagi dan kawan-kawan benar-benar jadi solusi?

Baca juga artikel terkait PEDOFILIA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Suhendra
DarkLight