Mengenal Kanker Tenggorokan: Gejala, Pemicu dan Pencegahan

Oleh: Febriansyah - 27 Maret 2020
Dibaca Normal 1 menit
Kanker tenggorokan adalah kanker yang berkembang pada faring (tenggorokan) dan laring (kotak suara) atau amandel. Gejala kanker ini dapat bervariasi dan tidak sama pada setiap penderita.
tirto.id - Kabar duka datang dari keluarga Presiden Joko Widodo pada pekan ini. Ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomiharjo meninggal dunia pada Rabu kemarin (25/3/2020) .

Istana Kepresidenan sudah menegaskan Sujiatmi meninggal bukan karena infeksi virus corona (Covid-19). Sebelum meninggal dunia, perempuan kelahiran 15 Februari 1943 tersebut berjuang melawan kanker tenggorokan yang dideritanya sejak lama.

Apa itu kanker tenggorokan? Kanker tenggorokan termasuk kategori kanker yang berkembang di faring (tenggorokan) dan laring (kotak suara) atau amandel.

Kanker ini merupakan tumor ganas yang tumbuh dan berkembang di area tenggorokan. Tumor ini berasal dari sel-sel yang menjadi berlipat ganda jumlahnya secara tidak terkendali.

Kanker tenggorokan juga dapat mempengaruhi bagian tulang rawan (epiglotis) yang berfungsi sebagai penutup tenggorokan.

Kanker ini timbul karena sel-sel di tenggorokan mengalami mutasi genetik. Mutasi mengakibatkan sel yang tumbuh tidak terkendali dan terus hidup setelah sel-sel sehat mati. Sel-sel itu kemudian membentuk tumor di tenggorokan.

Sebagaimana dilansir laman Kementerian Kesehatan, gejala kanker tenggorokan dapat bervariasi dan tidak sama pada setiap penderita. Gejala kanker tenggorokan juga kerap cenderung mirip dengan masalah kesehatan lainnya, sehingga sulit terdeteksi dengan mudah.

Meskipun demikian, ada sejumlah gejala kanker tenggorokan yang dapat dikenali. Namun, untuk memastikan penyebab gejala tersebut, konsultasi dengan dokter tetap dibutuhkan. Adapun daftar gejala yang menjadi indikasi kanker tenggorokan adalah sebagai berikut:

- Perubahan suara misalnya serak
- bicara tidak jelas
- batuk kronis
- sulit menelan
- sakit tenggorokan
- telinga sakit atau berdengung
- timbul benjolan
- penurunan berat badan tanpa ada penyebab yang jelas
- juga pembengkakan pada mata, rahang, tenggorokan atau leher.

Laman P2PTM Kemenkes menuliskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker tenggorokan. Di antaranya adalah merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, virus menular seksual (HPV), kurang konsumsi buah dan sayuran serta penyakit GERD.

Sumber lain menyebutkan nutrisi buruk, paparan asbes dan sindrom genetik juga dapat memicu kanker tenggorokan. Dikutip dari laman Cancer Treatment Centers of America, infeksi HPV adalah faktor risiko untuk kanker orofaring tertentu.

Sedangkan untuk pengobatan kanker tenggorokan terdapat sejumlah opsi yang biasa diterapkan dalam dunia kedoteran. Setidaknya ada tiga jenis pengobatan yang dilakukan terhadap pasien kanker tenggorokan, yakni:

1. Operasi

Jika tumor di tenggorokan kecil, dokter mungkin akan mengangkatnya dengan operasi. Operasi yang bisa dilakukan antara lain operasi endoskopi, kordektomi (menghilangkan semua/sebagian pita suara) dan Laryngectomy (menghilangkan semua/sebagian kotak suara).

2. Terapi radiasi

Setelah pengangkatan tumor, dokter umumnya merekomendasikan terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker ganas. Terapi ini menargetkan setiap sel kanker yang ditinggalkan oleh tumor.

3. Kemoterapi

Dalam kasus tumor besar dan tumor yang telah menyebar ke kelenjar getah bening dan organ atau jaringan lain, dokter biasa merekomendasikan kemoterapi serta radiasi.

Bagaimana mencegah kanker tenggorokan? Sebagaimana dilansir laman Healtline, sebenarnya tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker tenggorokan. Namun, ulasan di laman ini memerinci sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami kanker tenggorokan.

Sejumlah langkah itu adalah: berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menjaga gaya hidup sehat dengan memakan banyak buah dan sayuran serta mengurangi asupan lemak maupun natrium, menurunkan berat badan dengan berolahraga, serta mengurangi risiko tertular HPV lewat praktik seks aman.

Baca juga artikel terkait KANKER TENGGOROKAN atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Addi M Idhom
DarkLight