Mengenal Beberapa Istilah Psikologi untuk Perasaan Manusia

Oleh: Alexander Haryanto - 18 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Masih banyak istilah untuk menjelaskan perasaan tertentu terkait hal-hal spesifik.
tirto.id - Ilmu psikologi yang mempelajari tentang proses mental dan kejiwaan ini telah berkembang dengan pesat. Pada tahun 1972, dilansir dari Very Well Mind, psikolog Paul Eckman membagi emosi dan perasaan dasar manusia ke dalam enam kategori, seperti ketakutan, jijik, marah, kejutan, kebahagiaan dan kesedihan.

Namun, pada tahun 1999, daftar itu diperluas oleh Eckman dengan memasukkan sejumlah perasaan lain seperti rasa malu, kegembiraan, penghinaan, kesombongan, kepuasan dan hiburan. Akan tetapi, ada juga perasaan yang susah dijelaskan, apa itu?

Di Jepang sendiri istilah ‘Kuebiko’ sebenarnya tidak digunakan untuk merujuk kepada perasaan. Pemaknaannya berubah setelah John Koenig, seorang filmmaker yang membuat kamus multimedia berjudul The Dictionary of Obscure Sorrows, mengadopsi ‘Kuebiko’ ke dalam bahasa Inggris sekaligus memberikannya senarai atribusi melankolis. Koenig melakukannya karena beranggapan bahasa Inggris amat kekurangan istilah yang dapat menerjemahkan perasaan.

Selain ‘Kuebiko’, masih banyak istilah obskur lainnya yang dapat digunakan untuk menjelaskan perasaan tertentu terkait hal-hal spesifik. Sebagian istilah terdapat dalam kajian psikologi, sementara yang lain merupakan invensi dari Koenig.

Dari Altschmerz hingga Rückkehrunruhe


Jika Anda sedang menjelajahi Pinterest untuk mencari kata-kata inspiratif yang tidak biasa, amat mungkin Anda akan menemukan foto seseorang dengan wajah bersedih, lalu ditambahi tulisan “Altschmerz: weariness with the same old issues that you’ve always had—the same boring flaws and anxieties you’ve been gnawing on for years.” Dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna: rasa letih yang teramat sangat terhadap suatu masalah yang sudah berlangsung lama sekali.

Sebagaimana ‘Kuebiko’ yang dicomot dari bahasa Jepang, kata ‘Altschmerz’ juga diimpor oleh Koenig dari bahasa aslinya, Jerman, lalu dimodifikasi sedemikian rupa maknanya ke dalam bahasa Inggris. ‘Altschmerz’ sejatinya berasal dari kata ‘Weltschmerz’, di mana ‘Welt’ = ‘World’ dan ‘Schmerz’ = ’Pain’. Namun, kamus bahasa Inggris mendeskripsikan ‘Weltschmerz’ menjadi ‘Melancholy’.

Penjelasan mengenai berbagai istilah obskur lain yang telah ia temukan juga diunggah Koenig di akun Youtube ‘Dictionary of Obscure Sorrows’ yang telah memiliki 298,028 subscribers. Ada satu lagi istilah yang menarik, ‘Dès Vu’, yang berarti ‘The Awareness That This Will Become A Memory’ atau ‘Kesadaran Bahwa Hal Ini Kelak Akan menjadi Kenangan’. Secara etimologis, ‘Dès Vu’ berasal dari bahasa Perancis yang penulisannya juga serupa, namun arti aslinya adalah "seen as soon as" atau kurang lebih menjadi “tampak segera”.

Koenig menyatakan, sekalipun berbagai istilah baru yang ia temukan belum tercatat atau diadopsi secara resmi dalam konvensi bahasa Inggris, kosakata tersebut tidak sekadar ia rangkai seolah berasal dari antah berantah. Ia melihat betul bagaimana akar etimologisnya hingga dapat dijadikan suatu kosakata baru dalam bahasa Inggris.


"Setiap kata benar-benar memiliki makna etimologis, sebab itu menandakan kata tersebut telah dibangun dari salah satu dari selusin bahasa atau jargon yang direnovasi," ujar Koenig kepada Quartz dalam wawancara 2016 lalu.

Menciptakan kata baru sebetulnya bukan sesuatu yang orisinil. Ratusan tahun lampau, Charles Dickens mengkreasikan kata ‘Gorm’ sebagai sebuah umpatan yang dalam Oxford English Dictionary diartikan sama seperti ‘Goddamn’ atau ‘Terkutuk’. Hal ini ia lakukan agar tulisannya tidak dianggap terlampau kasar bagi para pembaca di kalangan Victorian. Adapun ‘Gorm’ ia takik dari kata ‘Gom’ di bahasa Irlandia yang berarti ‘Seseorang dengan tampah bodoh’.

Jangan lupakan pula bagaimana George Orwell dalam novelnya yang termahsyur, 1984, menciptakan kata ‘Newspeak’. Kata ini merujuk kepada upaya pemerintah untuk menyembunyikan apa yang dilakukannya melalui teknik-teknik semacam penyederhanaan kata, eufemisme, penggambaran yang sengaja dikelirukan, penyingkatan, pengaburan makna, dan pemutarbalikan arti. Sebuah siasat merekayasa bahasa yang juga pernah dilakukan Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaan.

Contoh lain dari kata baru yang dikreasi Koenig adalah ‘Liberosis’, yang berarti ‘menunggu akan kebebasan’, istilah tersebut juga ditakik dari kata yang punya fondasi etimologis identik, yakni ‘Liberty’ atau ‘Kebebasan’. Lalu ada ‘Vemodalen’, sebuah istilah untuk menjelaskan rasa cemas karena mengetahui hasil foto yang sama dengan milik orang lain, baik di objek, busana, gaya, atau hal lainnya. Istilah ini berasal dari kata Swedia, ‘Vemod’, yang berarti ‘Melankoli’.

Selanjutnya adalah ‘Rückkehrunruhe’: suatu istilah untuk menjelaskan perasaan rindu yang tuntas bagi para perantau setelah akhirnya bisa pulang ke kampung halaman. Kata ini, yang ditakik dari bahasa Jerman dengan makna yang sama, ‘rückkehren’, sudah pasti tergolong obskur dan karenanya sangat cocok digunakan bagi para sobat indie cum traveler sejati di tanah air.


Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight