Mengapa Jokowi-Ma'ruf Bertindak Ofensif & Pakai Istilah Menyerang?

Oleh: Lalu Rahadian - 16 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Memaki dan menggunakan istilah yang bernada menyerang, membuka serangan pada Jokowi-Ma’ruf.
tirto.id - Politisi sontoloyo, politisi genderuwo, maupun mereka yang buta dan budek adalah istilah yang dilontarkan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Seluruhnya bernada menyerang atau menuding.

Pernyataan soal politisi genderuwo disampaikan terlebih dulu oleh Jokowi. Istilah itu untuk menanggapi keberadaan orang yang kerap menakut-nakuti masyarakat.

Kemudian Ma'ruf Amin memakai kata buta dan budek untuk mengomentari politikus yang kerap mengkritik Jokowi. Menurutnya pengkritik yang tak melihat prestasi Jokowi selama ini buta dan budek.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, sudah mengungkap alasan di balik seringnya kandidat mereka mengeluarkan narasi dan diksi menyerang beberapa waktu terakhir.


Juru Bicara TKN Arya Sinulingga mengatakan, ujaran bertendensi menyerang keluar dari mulut Jokowi-Ma'ruf lantaran Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kerap ngotot mempertahankan argumen tanpa data. Sehingga Jokowi-Ma'ruf menggunakan istilah-istilah menuding tersebut.

"Jadi itu karena ini dikasih data enggak mau, dikasih bukti enggak mau, ya kami bilang genderuwo ini nakut-nakutin saja. Jadi diksi genderuwo lebih kepada untuk menjawab ketidakmauan mereka terima data dan tetap ngotot terhadap angka-angka yang kami berikan," kata Arya di Posko Pemenangan Jokowi-Ma'ruf, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Arya mengklaim, selama ini pihaknya kerap mengeluarkan data untuk menanggapi isu-isu yang dihembuskan Prabowo-Sandiaga. Akan tetapi data dari TKN kerap dibantah dengan pernyataan nirfakta dari Prabowo-Sandiaga.

Infografik Frasa di Fase Pilpres


Politikus Partai Perindo itu berkata, posisi Jokowi sebagai petahana juga mempengaruhi berubahnya model komunikasi dia dalam berkampanye dan menanggapi berbagai isu. Dibandingkan saat mengikuti Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014, Jokowi memang lebih sering mengeluarkan diksi bertendensi menyerang saat ini.

"Bedanya di situ, karena Pak Jokowi sudah melakukan banyak hal, dan apa yang diomongkan mereka [Prabowo-Sandiaga] tidak benar," kata Arya.

Direktur Komunikasi Politik TKN Usman Kansong menambahkan, pada persaingan Pilpres 2014, tak ada kandidat petahana. Persaingan menjadi tampak lebih elegan.

“Tidak ada yang petahana. Karena itu kampanye nya sama-sama menjual kebaikan program. Sekarang ada petahana sehingga ada serangan kepada petahana,” kata Usman.

Merasa di Atas Angin

Peneliti Politik Fisipol UGM Arya Budi menganggap, istilah bertendensi menyerang kerap dikeluarkan tim yang merasa di atas angin dalam sebuah kontestasi.

Menurut Budi, alasan bahwa istilah menyerang digunakan untuk membungkam pihak lawan tak bisa dibenarkan. Menurutnya jika sebuah tim ingin membuktikan sebuah kebohongan, harusnya cukup narasi substansial yang dilontarkan.

"Kalau tujuannya untuk meluruskan, misalnya harga sembako kemudian kepemilikan asing dan seterusnya, tentu levelnya bukan di diksi tapi [penyampaian] fakta," kata Budi kepada reporter Tirto.

Budi menganggap penggunaan kata-kata menyerang menjadi masalah karena Jokowi-Ma'ruf harus membangun citra sebagai pasangan santun pada Pilpres 2019. Menurutnya jika Jokowi-Ma'ruf kerap menggunakan kata-kata ofensif maka ada "harga" yang harus mereka tanggung.

"Biaya politik" yang dimaksud Budi yakni, munculnya celah bagi Jokowi-Ma'ruf untuk diserang bebagai pihak. Dia mencontohkan, penggunaan kata buta dan budek oleh Ma'ruf terbukti sudah membuka celah serangan dilancarkan lawan politik kepadanya.

"Tentu lebih banyak kerugian kalau diksinya terkesan kurang sopan. Karena tradisi politik di Indonesia kan belum cukup familiar dengan serangan yang vulgar seperti di Amerika Serikat," jelasnya.

Budi heran mengapa cara berkomunikasi Jokowi berubah pada Pilpres 2019. Menurutnya selama ini Jokowi tak pernah menggunakan istilah menyerang pada setiap kontestasi politik yang diikuti. Hal itu baru terjadi kali ini.

Dia menduga penggunaan kata-kata menyerang akhir-akhir ini oleh Jokowi, dilatarbelakangi dua hal. Pertama, ada kemungkinan istilah-istilah itu digunakan sebagai cerminan jati diri sebenarnya dari Jokowi. Kedua, bisa jadi kata-kata itu digunakan sebagai strategi kampanye Jokowi-Ma'ruf.

"Saya pikir rekam jejak cara kampanye Jokowi lebih simbolik daripada retorika. Kecuali kalau ini jadi strategi kampanye, atau kedua ini dalam konteks [bertujuan] konsolidasi sehingga bukan untuk ciptakan soliditas massa, tapi untuk mendorong kekompakan dan humor dalam retorika dia," tuturnya.

Menurut Budi, ada keuntungan yang mungkin didapat Jokowi-Ma'ruf dari penggunaan kata-kata bertendensi menyerang. Akan tetapi, keuntungan itu hanya bersifat internal.

"Itu sebenarnya menjadi penegas kekompakan tim dan seterusnya. Lebih ke internal tim kampanye dan simpatisan, bukan menciptakan simpati massa," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
DarkLight