Menuju konten utama
Prabowo Maju Pilpres Lagi

Membaca Kans Prabowo di Pilpres 2024

Prabowo maju lagi di pilpres untuk kali ketiga. Ia bersaing dengan nama-nama baru yang juga mendapat elektabilitas tinggi di sejumlah survei.

Membaca Kans Prabowo di Pilpres 2024
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan pengarahan dalam peringatan HUT ke-12 Partai Gerindra di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.

tirto.id - Joko Widodo menang beruntun dalam pergelaran Pilpres 2014 dan 2019. Keunggulan Jokowi atas Prabowo Subianto terbukti, baik sebagai bintang baru atau petahana.

Kepopuleran Jokowi pada Pilpres 2014 jauh melebihi calon-calon lain. Survei Litbang Kompas yang dirilis pada awal tahun itu menunjukkan Jokowi memperoleh elektabilitas sebesar 43,5%. Prabowo, meski mengintil persis di bawahnya, hanya mendapat 11,1%. Tokoh lain seperti Aburizal Bakrie, Wiranto, atau Megawati Soekarnoputri tak ada yang berhasil memperoleh elektabilitas dua digit.

Setelah Partai Golkar--asal Bakrie--dan Partai Hanura--milik Wiranto--gagal memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden, mereka akhirnya memilih berkoalisi dengan partai lain mengusung calon presiden-wakil presiden. Kompetisi mengerucut kepada dua nama besar, Jokowi dan Prabowo.

Hanura memutuskan mendukung Jokowi--yang saat itu maju bersama Jusuf Kalla, sementara Partai Golkar, meski terpecah jadi dua, tapi secara resmi menaruh kepercayaan pada figur Prabowo yang maju bersama Hatta Rajasa.

Maju lima tahun kemudian. Sebelum semua resmi, Pilpres 2019 sudah diprediksi akan menjadi pertarungan pemungkas antara Jokowi dan Prabowo. Dua figur itu diprediksi akan maju sebagai kandidat terkuat kendati ada kans untuk poros ketiga. Namun tokoh yang muncul bila poros ketiga ada pun tidak mampu menandingi elektabilitas keduanya. Dalam sebuah survei, elektabilitas Jokowi mencapai 53,7% dan Prabowo 37,2%--pada titik tertinggi di Juni 2017.

Poros ketiga gagal dan kompetisi penuh tragedi ini--dari mulai meninggalnya ratusan petugas pemungutan suara sampai pengunjuk rasa--berakhir dengan Jokowi menjabat presiden kembali dan Prabowo mendapatkan kursi menteri pertahanan.

Pada 2024 nanti Jokowi sudah tak bisa lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Ada tokoh-tokoh baru dari kalangan kepala daerah seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, atau Anies Baswedan, tapi tetap saja mencuat nama Prabowo, yang pada pekan lalu memutuskan akan maju lagi sebagai calon presiden untuk ketiga kalinya.

Hasil beberapa survei sepanjang Juni sampai Agustus 2022 memang beragam. Survei Indopol, misalnya, menunjukkan Prabowo berada di peringkat ketiga dengan elektabilitas 18,05%. Di atasnya ada Anies 25,85% dan Ganjar 31,38%.

Survei Lembaga Survei Nasional (LSN) mencatat Prabowo paling unggul dengan elektabilitas 29,5%. Ganjar bersama Anies menyusul di bawahnya. Indonesia Polling Stations (IPS) masih dengan urutan yang sama dan Prabowo punya elektabilitas 30,2%.

Ketidakpuasan pada Jokowi--yang ditunjukkan beragam survei--juga bukan berarti meningkatkan dukungan kepada Prabowo. Lembaga survei justru menyiratkan bahwa Prabowo sudah dianggap publik sebagai bagian dari Jokowi itu sendiri karena anggota Kabinet Indonesia Maju.

Meski tak sekuat pemilu sebelumnya, absennya Jokowi membuat Prabowo tampak punya kesempatan menang lebih besar daripada sebelumnya. Perbedaan elektabilitas dengan calon lainnya tidak mencapai 15% dan tak ada satu pun yang menyentuh elektabilitas lebih dari 40%.

Hasil survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) yang dipaparkan pada Juni 2022 juga cukup menarik. Salah satu hasil survei adalah adanya kecenderungan bahwa pemilih Ganjar, yang juga berasal dari PDIP seperti Jokowi, mengalihkan dukungan kepada Prabowo.

Survei sebelumnya mencatat pemilih Jokowi terdahulu cenderung mengalihkan dukungan pada Ganjar. Namun, di periode Desember 2021-Maret 2022, situasinya sedikit berubah. Elektabilitas Prabowo di antara pemilih Jokowi terdahulu naik 4%, sedangkan Ganjar justru merosot sekitar 4%.

“Karena itu logis juga Prabowo sekarang itu menguat 26,3%, karena positioning Prabowo yang lebih positif dengan pemerintahan Jokowi sekarang--sebagai salah satu menterinya,” kata Saiful Mujani dalam diskusi di kanal Youtube SMRC TV.

Masih berlandaskan survei SMRC, Anies--yang dianggap calon kuat lain--dianggap tak mampu bersaing untuk merebut suara pemilih Jokowi. SMRC memperkirakan ini terjadi karena hubungan Anies-Jokowi tak selalu mesra.

Jokowi pernah mencopot Anies dari jabatan Menteri Pendidikan. Anies juga bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama, orang dekat Jokowi semasa jadi gubernur, pada Pilkada Jakarta 2017.

Infografik Prabowo Elite Politik

Infografik Prabowo Elite Politik. tirto.id/Quita

Menanti Ganjar

Tiga nama yang bersaing ketat dalam beragam survei menjelang Pilpres 2024--Anies, Ganjar, dan Prabowo--belum tentu kelak benar-benar akan berkompetisi.

Partai Gerindra tidak bisa mencalonkan Prabowo sendirian karena mereka tidak memenuhi ambang batas pencalonan presiden. Mereka membutuhkan setidaknya satu partai lagi untuk bisa mengusung calon sendiri.

Tapi situasi Prabowo lebih baik dari dua yang lain. Anies bukanlah orang partai. Ia tidak bergabung ke kendaraan politik mana pun. Sementara Ganjar memang populer, tapi sejauh ini PDIP belum menunjukkan lampu hijau untuk mengusungnya. Beberapa pengamat politik masih memandang ada keinginan PDIP untuk memajukan Puan Maharani sebagai calon presiden--kendati elektabilitasnya masih rendah.

Bila Ganjar tidak diusung oleh PDIP atau partai mana pun, berdasarkan temuan survei di atas, suara pendukung Jokowi akan beralih lebih banyak kepada Prabowo. Absennya Ganjar, dengan demikian, bisa memuluskan jalan Prabowo menjadi pemenang Pilpres 2024 mendatang.

“Memang suaranya (pendukung Jokowi) terpencar. Tapi lebih banyak ke Prabowo,” kata peneliti SMRC Sirojuddin Abbas ketika dihubungi Tirto, Senin (15/8/2022).

Sebetulnya tidak mengherankan jika pendukung Jokowi menggemari sosok Prabowo. Keduanya, seperti dicatat So Yoon Lee dalam An Urban Explanation of Jokowi’s Rise: Implications for Politics and Governance in Post-Suharto Indonesia (2021), adalah seorang populis. Namun tentu saja tetap ada perbedaan antara keduanya. Setidaknya, jika melihat dua pilpres terakhir, Prabowo lebih dekat dengan kelompok konservatif.

Karena belakangan sebagian dari mereka mulai berpaling semenjak bergabung dengan Jokowi, maka sebuah pertanyaan muncul: bagaimana cara Prabowo mewujudkan mimpinya kali ini?

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Politik
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino