Memahami Psikologi si Baper

Oleh: Patresia Kirnandita - 6 Februari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa hari belakangan ini, tindakan-tindakan SBY terkait dinamika politik disorot dan mengundang macam-macam respons. Di Twitter misalnya, cukup ramai tagar #SBYBaper. Apa sebenarnya yang terjadi pada orang-orang supersensitif alias baper ini?
tirto.id - Seorang teman sempat terlihat menangis saat menyaksikan segmen eliminasi sebuah kompetisi di televisi. Ada teman semasa kuliah yang merasa resah ketika lingkungannya berubah bising. Pernah salah satu rekan kerja merasa begitu bersalah ketika atasannya melontarkan komentar pedas atas pekerjaannya, sampai-sampai ia memilih mendekam di rumah dan enggan diajak bersenang-senang di akhir pekan.

Ada orang-orang yang punya kecenderungan membawa perasaan alias baper. Tak tanggung-tanggung, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menggelar konferensi pers untuk mempertanyakan soal penyadapan terhadap dirinya, direspons Twitterland—salah satunya dengan tagar #SBYBaper. Apa yang terjadi pada si baper?

Pada banyak kesempatan, orang-orang tersebut mencurahkan isi hatinya kepada relasi terdekat ataupun media sosial. Sejumlah orang merasa baik-baik saja dengan hal ini, tapi tak sedikit pula yang mencibir aksi berlandas emosi ini.

“Jangan terlalu diambil hati lah,” demikian kalimat yang biasanya mereka terima setiap kali merasa terpuruk atau terganggu setelah mengalami konflik atau hal-hal yang tidak diharapkan. Semakin sering mereka mendengarnya, semakin kerap pula mereka mengurung diri atau menangis sembunyi-sembunyi. Sebagian yang perempuan malah pernah mendengar kerabat berbisik, “Paling lagi PMS, makanya jadi sensitif begitu.”

Nyatanya, tak melulu perubahan hormon yang menyebabkan seseorang menjadi lebih emosional di banding sekitarnya. Hal ini juga tak senantiasa identik dengan kaum Hawa semata.

Dari kacamata psikologi, orang yang mudah bereaksi karena terpancing secara emosional ini dikategorikan sebagai highly sensitive person. Karakterorang yang mudah bereaksi karena terpancing secara emosional ini dikategorikan sebagai highly sensitive person.istik ini serupa tapi tak sama dengan empati. Dalam situs Chakra Center, psikolog dan penulis buku The Highly Sensitive Person, Dr. Elaine Aron (1997) mendefinisikan highly sensitive person sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi indranya.

Orang dengan empati tinggi pun dikatakan sensitif terhadap energi-energi di sekitarnya, tetapi ia lebih memfokuskan perhatiannya terhadap pengalaman dan perasaan orang lain atau dengan kata lain, turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara, highly sensitive person membuat dirinya sebagai sentral atensi. Saat dihadapkan dengan suatu tragedi yang dialami seorang kerabat, orang empati akan memosisikan diri dalam situasi dan kondisi sang kerabat, sedangkan si "baper" akan merelasikan tragedi kerabatnya tersebut dengan kehidupannya sendiri dan membawa situasi emosional ini lebih jauh daripada seorang yang empati.

Dr. Ted Zeff, psikolog dan penulis The Highly Sensitive Person’s Survival Guide, juga mengutarakan kesepahamannya atas perbedaan kedua sifat ini, “Setiap orang sensitif itu berbeda. Penting untuk diingat bahwa sebagian orang memiliki sifat empati, tetapi tak serta merta dikatakan highly sensitive person.”

Menurut Dr. Aron, satu dari lima orang di dunia merupakan highly sensitive person. “Menjadi orang dengan sensitivitas tinggi itu adalah genetis,” jelasnya kepada The Telegraph.

Sebelumnya, sifat ini diidentikkan dengan orang-orang pemalu dan introvert, tetapi pengamatan Aron mengindikasikan bahwa saat ini orang-orang ekstrovert pun dapat memiliki sensitivitas tinggi. Itu menjelaskan mengapa segelintir orang suka mengekspresikan perasaan dan kegundahannya kepada publik atau orang-orang kenalannya.

Infografik Si Baper



Untuk menilai apakah seseorang tergolong highly sensitive person atau bukan, Dr. Aron mencantumkan beberapa pertanyaan dalam situs HSPerson, beberapa di antaranya adalah "apakah kamu mudah terganggu oleh cahaya menyilaukan, aroma kuat, kain kasar, atau bunyi sirene", "apakah kamu merasa tertekan saat harus mengerjakan banyak hal dalam tempo yang singkat", "apakah kamu menghindari film-film yang memuat kekerasan", "apakah kamu memiliki kehidupan yang kaya dan rumit", dan "apakah saat kanak-kanak orangtua atau gurumu menganggapmu pemalu dan sensitif".

Memiliki sensitivitas yang tinggi rupanya membawa dampak positif dan negatif tersendiri bagi seseorang. Pertimbangan dalam memutuskan suatu hal tak pernah lepas dari apa yang dirasakan highly sensitive person. Dilansir dari situs WebMD, periset dari Stony Brook University, New York dan Southwest University di Cina menemukan fakta bahwa orang dengan sifat semacam ini membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan dan waktu sendirian untuk berpikir.

Mereka juga bersungguh-sungguh mengingat detail seperti tanggal ulang tahun. Studi mereka yang dipublikasikan di jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience juga menunjukkan bahwa highly sensitive person menghabiskan waktu lebih lama saat memperhatikan foto yang dijadikan sebagai bahan tes karena mereka menyoroti hal-hal rinci.

Dalam hal relasi, rupanya highly sensitive person cenderung jatuh hati kepada orang-orang narsistis. Penulis buku Overcoming Low Self-Esteem with Mindfulness, Deborah Ward, menjelaskan dalam situs Psychology Today bahwa orang narsistis sering kali menggunakan karismanya untuk menipu demi mendapatkan hal yang dia inginkan kendati hal itu akan menyakiti orang lain. Di sisi lain, ketika berelasi dengan orang narsistis, orang yang sangat sensitif akan berpikir, semakin besar upaya untuk memberikan perhatian kepada pasangannya, maka hubungan percintaan mereka akan langgeng. Hal ini yang membuat energi orang sangat sensitif justru tersedot alih-alih mendapat timbal balik perhatian yang setimpal.

Di tengah pergaulan kasual, highly sensitive person lebih senang menghindari konflik dan kritikan. Mengapa? Berbeda dengan mayoritas orang yang tak memiliki sifat ini, highly sensitive person akan menjadikan kritikan sebagai suatu yang personal sekalipun mereka yang melontarkan hal itu tidak bermaksud menyerang pribadinya. Keterpurukan, penyesalan dan rasa bersalah akan menghantui highly sensitive person lebih lama saat dirundung masalah atau konflik. Oleh karena itu, dia akan memilih untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya dengan harapan terhindar dari hal-hal yang menjatuhkan mood atau bahkan membuat depresi.

Dalam dunia profesional, khususnya level manajemen, sifat sensitif yang tinggi bisa dilihat bak dua sisi mata uang. Keunggulannya, orang dengan sifat ini bisa membangun relasi positif dengan sejawatnya, sementara sisi buruknya, dia berpotensi untuk kewalahan dan depresi saat bekerja di lingkungan yang jarang sekali tanpa kritikan dan masukan, demikian ditulis White dan Chapman (1997) dalam buku Organizational Communication: An Introduction to Communication and Human Relation Strategies.

Kendati kerap dicap cengeng, berlebihan, dan diidentikkan dengan sederet karakterisik negatif lainnya, seorang dengan sensitivitas tinggi tak perlu mati-matian mengubah dirinya hingga seratus delapan puluh derajat. Alih-alih, sifat ini sepatutnya diterima dan dikendalikan karena sisi lemah pun dapat dikelola menjadi kekuatan untuk konteks-konteks tertentu.

“Jika Anda seorang highly sensitive person, Anda tidak perlu 'menyembuhkan' diri. Itu adalah sejatinya Anda. Dalam konteks masyarakat tertentu, menjadi seorang yang sangat sensitif malah merupakan hal yang positif, contohnya hasil temuan riset di Thailand dan India yang relatif menerima orang-orang dengan sifat ini,” jelas Dr. Zeff.

Penting bagi seseorang untuk mengenali sifat-sifat dalam dirinya, dan lebih jauh lagi, menerima hal itu sebagai bagian yang menjadikannya autentik. Ketika sekitar menganggap sifat yang dimiliki ini membawa kendala yang signifikan, tak perlu buru-buru mengutuki diri. Bisa jadi hanya dibutuhkan pengendalian sifat ini, atau bukan tidak mungkin pula, kolam yang direnangi bukan kolam yang tepat untuk dirinya.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti