Mati Listrik yang Bisa Jadi Ancaman Melumpuhkan Jakarta

Pekerja memperbaiki instalasi kabel listrik milik PLN di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta, Rabu (3/1/2018). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Aulia Adam - 3 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Di awal tahun baru kemarin, Jakarta bukan satu-satunya kota yang mengalami gangguan listrik hingga menyebabkan terganggunya layanan kereta.
Selang sehari setelah ingar bingar cahaya kembang api tahun baru, PLN mendadak jadi salah satu penelusuran paling populer di dunia maya pada Selasa (2/1). Pemadaman listrik pada pagi hari yang dialami Jakarta, Tanggerang, dan Banten adalah penyebabnya.

Pada pukul 9.30 kemarin, ada 708 wilayah yang terkena dampak. Peta wilayah Jakarta pada aplikasi Peta Listrik Jakarta (Pelita) milik PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) nampak memerah sebagian, menandakan sedang terjadi pemadaman listrik.

Pemadaman listrik terjadi karena gangguan Interbus Trafo (IBT) 1 dan 2 pada subsistem Gandul-Muara Karang sebagai pemasok listrik wilayah Jakarta. Hal itu menyebabkan 17 dari 80 Gardu Induk di Jakarta yang mengalami gangguan. PLN pun meminta maaf terhadap pemadaman listrik yang terjadi sekitar kurang lebih 3-4 jam.

Namun, peristiwa tersebut membuat layanan transaksi non tunai di pintu tol terganggu, seperti di pintu keluar Gardu Tol Otomatis (GTO) Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Di lini masa Twitter, warganet pengguna jalan tol menumpahkan perasaannya lantaran harus mengalami macet panjang. Salah satunya Yudha Irawan, yang lewat akun Twitter-nya menyampaikan informasi bahwa ada 6 GTO yang mati.

“Imbas mati listrik di Gerbang tol [Pondok Ranji] jadi semua transaksi e-toll tidak [berfungsi] dialihkan [ke sistem] tiket manual tunai. [Dan] ada 6 gerbang yang tidak dibuka,” tulisnya di akun @popoexpress pada pukul 9.08 WIB.

Perjalanan kereta rel listril (KRL) Commuter Line juga terganggu. Kaniawati, karyawan swasta yang sehari-hari menggunakan KRL akhirnya harus memilih jalur ojek online setelah kereta yang ditumpanginya kemarin terhenti di Pondok Ranji.

Pemadaman listrik yang sampai menyentuh ke fasilitas publik seperti layanan kereta hingga tol, tentu jadi catatan yang serius bagi PLN, karena biasanya pelanggan seperti PT KAI, termasuk dalam daftar pelanggan khusus PLN yang akan mendapatkan layanan prima. Namun, gangguan listrik pada hari kedua di tahun 2018 di Jakarta, rupanya tak terhindarkan. Ini juga sebagai bukti keandalan pasokan listrik untuk fasilitas publik di Jakarta dan sekitarnya masih begitu ringkih dari gangguan listrik.


Pemadaman listrik Selasa (2/1) lalu bukan yang terparah yang pernah dialami Jakarta dan sekitarnya. Pada 2005 lalu, di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jawa dan Bali pernah mengalami mati listrik yang lebih parah, hingga memengaruhi 120 juta orang. Listrik di Jakarta dan Banten mati selama 3 jam, dimulai sekitar pukul 10 pagi 18 Agustus 2005, sementara keseluruhan perbaikan membutuhkan waktu 24 jam.

Penyebabnya kerusakan di jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV Jawa-Bali. Jasa transportasi terganggu. Sejumlah penerbangan internasional dan domestik ditunda atau dibatalkan karena pemadaman listrik masif ini. Konteks saat itu, memang Jawa dan Bali sedang dihadapkan dengan masalah krisis listrik, tapi peristiwa awal 2018 lalu justru terjadi sebaliknya.

Peristiwa pemadaman listrik parah, 12 tahun lalu tersebut masuk dalam daftar mati listrik paling besar di dunia, melihat jumlah orang yang terkena dampaknya. Dalam catatan Power Technology, peristiwa itu berada di peringkat tiga, setelah peristiwa mati listrik di India pada Juli 2012 dan Januari 2001 yang masing-masing berdampak pada 700 juta orang dan 230 juta orang.

Di India, peristiwa itu juga memengaruhi banyak hal. Mulai dari kereta api tak berjalan, operasi bedah berhenti, macet parah, hingga pemberhentian kegiatan tambang. Bahkan mati listrik pada Januari 2001 di India yang lamanya mencapai 20 jam, negara tersebut mengalami kerugian hingga 5 miliar Rupee.



Peristiwa mati listrik secara masif ini punya penyebab beragam. Mulai dari gangguan pada alat pada gardu induk hingga faktor alam. Di Brazil misalnya, sambaran petir pada stasiun listrik di Sao Paulo, ibu kota Brazil, membuat listrik mati selama 5 jam pada Maret 1999. Dua kota besar Brazil: Sao Paulo dan Rio de Janeiro lumpuh total, dan berdampak pada 97 juta orang.

Mati listrik akibat sambaran petir lainnya yang berdampak masif adalah yang terjadi di New York, Amerika Serikat pada 13-14 Juli 1977. Peristiwa ini berdampak pada 9 juta orang yang tak berpenerangan selama 24 jam. Lumpuhnya kota akibat tidak ada penerangan memicu kericuhan masa terbesar akibat mati listrik dalam sejarah dunia. Sekira 1.600 toko hancur dijarah masa, sementara sekitar 1000-an dibakar. Sebanyak 3.776 orang ditahan akibat kericuhan tersebut.

Listrik yang Ringkih di Pergantian Tahun

Peristiwa mati listrik masif ketika tahun baru bukan hal aneh. Sejumlah tempat mengalami gangguan listrik pasca perayaan malam tahun baru. Pagi pertama 2018 di Kansas berubah dingin sekali, ketika padamnya listrik menyebabkan pemanas ruangan di rumah dan gedung kota itu tak berfungsi. Kereta di Stasiun New York Penn juga mengalami gangguan layanan karena listrik mati melanda distrik tersebut.

Namun, dalam perkara mati listrik di Jakarta pagi kemarin, PLN mengaku sudah mengantisipasi pemakaian listrik untuk Natal dan Tahun Baru. Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka ‎mengatakan, PLN tidak merencanakan pemadaman, selain itu dilakukan piket siaga dalam 3 shift selama 24 jam untuk berjaga-jaga jika terjadi gangguan listrik.

Di Jakarta misalnya, penguatan khusus dilakukan dengan mempersiapkan 1 UPS Mobile 300KVA, 7 Mobil Deteksi, 5 Unit Gardu Bergerak (UGB), 2 mobil Unit Kabel Bergerak (UKB), 11 mobil Unit Diesel Bergerak (UDB), 4 Unit Powerbank, 11 Genset, dan 4 mobil Crane.

Namun, menurut Made seperti dikutip Antara, beban puncak di Jakarta mencapai 5.500 MW atau meningkat jika dibandingkan libur Natal dan Tahun Baru seiring dengan mulai aktifnya kegiatan perkantoran dan perindustrian di Jakarta.

Bagi perindustrian dan dunia bisnis sendiri, pemadaman listrik ini cukup merugikan. World Bank Enterprise Surveys mencatat, selama 2015 saja, pemadaman listrik menyebabkan bisnis di Indonesia kehilangan 1,9 persen potensi keuntungan. Untuk perbandingan saja, bisnis di negeri tetangga macam Filipina dan Malaysia cuma kerugian 0,8 persen dan 1,8 persen.

Pemadaman yang terjadi secara tiba-tiba dan berdampak masif tentu saja perlu jadi perhatian bagi PLN sebagai penyedia tenaga listrik, dan pemerintah selaku regulator.


Fabby Tumiwa, Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform mengatakan, gangguan trafo yang jadi alasan mati listrik kemarin pagi di Jakarta jadi sedikit ganjil.

“Harusnya trafo itu yang paling dilindungi, ada sistem proteksinya. Apa berarti tidak dirawat sampai itu yang rusak?” kata Faby kepada Tirto.

Ia menyarankan PLN dan pemerintah membentuk tim khusus untuk menyelidiki serius peristiwa tersebut. Agar hal serupa tak kembali terus berulang, dan berdampak buruk pada seluruh sektor.

Tentu, pemadaman listrik yang masif apalagi sampai menyentuh sektor layanan publik menjadi potensi ancaman pada lumpuhnya aktivitas kota, seperti Jakarta dan kota lain di Indonesia. Dan ini pernah terjadi di kota-kota dunia.

Baca juga artikel terkait LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra
DarkLight