Masa Lalu Lima Pembajak Pesawat Woyla

Oleh: Petrik Matanasi - 28 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Orang-orang yang terhubung sebagai "Jamaah Imran" yang seketika jadi pusat pemberitaan setelah membajak pesawat Woyla.
tirto.id - Di masa lalu, Imransyah alias Imran—kelahiran Bukittinggi pada 1950—dikenal sebagai preman. Ia anak dari Muhammad Zein, seorang pedagang kain di Kampung Kota Matsum, Medan.

Imran pernah bergabung dalam ormas Pemuda Pancasila Medan dan "termasuk anggota pasukan inti organisasi ini,” menurut Emron Pangkapi dalam Hukuman Mati untuk Imam Imran: Catatan Sebuah Proses Peradilan (1982: 2).

Imran terlibat perkelahian pada 1972 dan menikam seorang lawannya, menyebabkannya ditahan sebentar. Ia tak dipenjara karena rupanya salah satu ayah pemuda si lawan adalah teman dekat ayahnya. Setelah dibebaskan, Imran pulang naik becak bersama ayahnya.

"Aku tak tahan lagi. Kau atau ayah yang meninggalkan Medan," kata sang ayah. Dari sanalah Imran merantau.

Menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007: 160), Imran pergi ke Arab Saudi untuk berusaha sekolah agama. "Ia lantas memutuskan tinggal di negara kerajaan itu selama lebih dari lima tahun sambil bekerja serabutan.”

Selama di sana, Imran berkenalan dengan Mahrizal. Pada 1977, Imran kembali ke Indonesia dengan pembawaan berbeda. Ia lebih alim dan ia pandai mengaji. Imran berbisnis arloji. Ia jadi orang yang dipandang dan punya pengikut.

Adik laki-laki Imran bernama Wendy—kelahiran 1953—juga diajak Imran. Di mata keluarganya, Wendy adalah putra kesayangan nomor empat. Sang adik rajin pula mengaji dan membantu orangtuanya berjualan kain sewaktu tinggal di Medan.

“Wendy lulus SD Muhammadiyah, tapi tak tamat. Kemudian ia belajar di Perguruan Al Ulum, semacam pengajian, di Jalan Amaliun, Medan. Mereka yang mengenalnya mengatakan selama itu tindakan Wendy tak tercela,” tulis laporan Tempo (11/04/1981).

Di kampung Kota Matsum, tinggal pula Abu Sofyan. “Nama aslinya Sofyan Effendi dan lahir pada 1942. Sofyan dikenal bandel, suka mengisap ganja, jarang bergaul dengan tetangga, pernah berlatih karate.” tulis Tempo (11/04/1981).

Menurut cerita abangnya, Zaiwar, saat istri Sofyan hamil, ia kabur ke Jakarta dengan membawa 250 gram emas milik kakaknya. “Sejak itu tak pernah lagi bertemu dengan dia. Bahkan saya tak tahu alamatnya di Jakarta,” ujar Zaiwar kepada Tempo.

Lebaran 1980, Sofyan pulang ke Medan selama empat hari. Ia tak singgah ke abangnya. Namun, kepada keponakannya, Edy, anak Zaiwar, Sofyan bilang pada suatu hari nanti ia akan membayar kembali emas.

Seperti Imran, Mahrizal alias Icah juga kembali ke Indonesia, dan tinggal di daerah Matraman, Salemba. Mahrizal bertetangga dengan T. Djohan Meraxa alias Zulfikar alias Ju, seorang pemuda Aceh kelahiran Medan pada 1953, pemegang sabuk biru karate.

Zulfikar pindah ke Jakarta pada 1973. Kata pelatihnya, Zulfakad Nizam, Zulfikar fasih berbahasa Inggris, dianggap "seorang yang lembut, berjiwa sosial, tapi labil." Sebelum belajar karate, Ju suka minum-minum, dan pernah diuber pihak berwajib karena terlibat kasus membawa ganja dari Banda Aceh ke Medan. Semasa mengontrak di Matraman, ia dikenal pemuda dengan "pakaian yang selalu rapi dan suka menyanyi."

”Keislamannya biasa saja. Kalau sedang mengobrol, biar ada bedug Maghrib, ia akan tetap meneruskan obrolannya,” cerita seorang kenalannya (Tempo, 11/04/1981).

Zulfikar pernah bekerja sebagai satpam di Hotel Hilton Jakarta selama dua tahun, tetapi dipecat pada 20 Maret 1981 lantaran tak nongol lebih dari 10 hari. Pada Awal 1981, ia baru saja menikah dengan tetangganya.

Mereka kemudian dikenal dengan sebutan "kelompok Imran," dan dianggap bagian dari "Komando Jihad."

Jaringan mereka di Bandung dan terlibat kasus penyerbuan kantor Polisi Cicendo pada 11 Maret 1981. Keempat orang ini, dan bersama Abdullah Mulyono, semakin dikenal karena membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla.

“Waktu itu Wendy dan belasan temannya dalam tahanan Kosekta Pasir Kaliki, Jalan Cicendo Bandung. Gerombolan ekstrem kanan Islam fundamentalis melakukan penyerbuan berdarah. Dua orang anggota polisi tewas dan seorang luka parah,” tulis Sinar Harapan (02/04/1981).

“Saya ikut dalam penyerbuan itu,” kata Zulfikar.

Infografik HL Indepth Woyla


Yang Dilakukan Pembajak di Pesawat Woyla

Sebelum naik pesawat dari Palembang, para pembajak menginap di Hotel Lusyana, terletak di sudut persimpangan Jalan Letkol Iskandar dan Jalan Sudirman. Mereka menghuni kamar nomor 14.

“Beberapa coretan ditemukan di dinding kamar yang menegaskan pendirian, antara lain: Kalau tidak membunuh, ya akan dibunuh,” ujar seorang pejabat.

Kawanan itu meninggalkan Hotel Lusyana pada 28 Maret pukul 06.00 pagi. Karena pengawasan keamanan yang kendor di Bandara Talang Betutu, Kota Palembang, kelima pembajak berhasil menunaikan rencananya. Mereka membawa pistol, pisau, dan granat.

Di dalam pesawat Woyla, Zulfikar sesumbar kepada para penumpang: “Saudara2 tahu kami ini tidak takut kepada serbuan siapa pun. Kami sendiri pernah menyerbu ABRI di sarangnya. Ini Wendy yang berhasil kami bebaskan. Jadi jangan ada di antara saudara yang mau coba-coba ya...”

Sebagai orang yang dibakar fanatisme, Zulfikar kembali berkata: “Gaji saya di situ (Hilton) besar, tetapi perjuangan memenangkan Islam lebih penting.”

Kelima pembajak ini mengumandangkan azan setiap waktu salat. Mereka juga secara demonstratif melakukan salat lima waktu.

Kepada penumpang, Abu Sofyan menghardik: “Hey ... [kamu] Islam, kenapa dari tadi saya lihat kamu tak pernah sembahyang?”

Penumpang tersebut, yang dalam kondisi terikat sabuk pengaman, menjawab: “Bagaimana saya bisa sembahyang, Pak, badan saya terikat begini?”

Mahrizal dan Zulfikar di pesawat membentak-bentak para penumpang lain yang beragama Islam. “Kamu ini Islam munafik, tidak mau berjuang seperti kami,” kata mereka.

Harian militer Angkatan Bersenjata (02/04/1981) melaporkan mengenai cerita seorang perempuan berusia 21 tahun bernama Emma.

Emma semula mengira pembajak berhati baik, yang "tengah mencari orang jahat di antara penumpang." Tapi anggapan ini segera berbalik ketika para pembajak menyita barang-barang berharga para penumpang.

Para pembajak terlihat militan pada hari pertama. Pada hari-hari berikutnya, keadaan mereka melemah, berkata kasar dan bersikap menggoda terhadap penumpang perempuan.

“Sehari itu bisa dua-tiga kali mereka ceramah. Yang paling pinter ceramah itu si Mahrizal. Di awal-awal itu, kalau bicara, dia seakan-akan menampakkan diri paling suci. Tapi lama-lama malah mengumpat dan omongannya sudah tidak enak didengar lagi,” cerita Tjipto Harsono kepada reporter Tirto, mengenang peristiwa 37 tahun lalu. Tjipto kini pensiunan pegawai negeri sipil.

Kesigapan kelima pembajak juga mengendor, bahkan tak terlihat lagi salat lima waktu, demikian kesaksian penumpang.

Di antara para pembajak, yang paling samar diketahui latar belakangnya adalah Abdullah Mulyono. Ia hanya meninggalkan secarik kertas berisikan sebuah sajak:

Oh Kapal!

Bila hari tiba dengan terang
Tentu engkau akan padam dari derita.
Tetapi jika engkau waktu itu
Sudah habis nasibmu yang baik
Tentu ajalmu akan bersamaku
Dan semua itu akan harus
Berpisah dengan dunia
Yang fana ini


Pembajak
28-3-‘81

Baca juga artikel terkait PEMBAJAKAN WOYLA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight