STOP PRESS! Jadi Saksi di Sidang E-KTP Hari Ini, Setnov Sibuk Acara HUT Golkar

Kolumnis
Sejarawan. Pengajar di IAIN Palangka Raya

Maklumat Lendir

Kolumnis: Muhammad Iqbal
06 Oktober, 2017dibaca normal 3:30 menit
Hubungan antara pornografi, sastra, dan politik adalah salah satu tradisi tertua yang masih hidup di Paris. Michel Houellebecq, sastrawan Perancis kontemporer, dalam novelnya Whatever, dengan cerkas melukiskannya:

Pada masa Louis XIV, ketika hasrat kehidupan begitu meletup-letup, kebudayaan resmi menggilas nafsu akan kenikmatan dan ragawi; tanpa henti menjejalkan marabahaya bahwa kehidupan duniawi hanya membuahkan ketaksempurnaan, bahwa satu-satunya sumber kebahagiaan adalah Tuhan. Diskursus semacam itu ... tidak bisa ditoleransi saat ini. Kita memerlukan petualangan dan erotisme karena kita perlu mendengarkan nurani bahwa hidup itu mengagumkan dan memesona; dan jelaslah kita agak meragukannya. (Houellebecq 1999: 29-30)

Andrew Hussey, sejarawan anarkis dan penulis Paris: The Secret History (2006)—diterjemahkan oleh penerbit Alvabet, Paris: Sejarah yang Tersembunyi (2014)—berkata bahwa selalu ada tradisi menulis cabul atau sepenuhnya erotis di Paris. Genre ini terutama berkembang sejak abad 12 dan terus lestari.

Sejak itu, Parisian—sebutan untuk warga Paris—dari semua kelas sosial menjadi akrab dengan puisi-puisi humor seperti La Damoisele quie ne pooit oir parler de foutre (‘Gadis yang Emoh Mendengar Persetubuhan’) atau La Veuve (‘Sang Janda’).

Para penyair ini sudah dilupakan atau anonim, tetapi kisahnya telah meresap ke dalam sanubari warga kota Paris. Banyak dari puisi ini, seperti Le Chevalier qui fist parler les cons (‘Kesatria yang Membuat Vagina Berbicara’), begitu dikagumi bukan hanya isinya yang cabul, melainkan kecerdasannya nan aduhai dan kurang ajar.

Bahkan, puisi bedebah di masa selanjutnya (yang ditulis oleh seorang Parisian bernama Garin pada abad 13) adalah inspirasi bagi kisah Les Bijoux indiscrets (‘Permata yang Dungu’, 1748) oleh sastrawan Denis Diderot. Ini adalah kisah seorang raja yang memiliki cincin ajaib, yang bisa bikin pusaka para perempuan di istana mampu berwicara.

Sebagai seorang yang logis dan pengkhidmat ilmu pengetahuan, seorang philosophe ateis, Diderot memutuskan bahwa ia berkewajiban secara moral untuk menyerang segala bentuk takhayul, termasuk tentang kekuasaan absolut sang raja.

Les Bijoux indiscrets adalah alegori (kisah kiasan) yang tajam menyindir kehidupan istana Louis XV di Versailles yang korup, munafik, dan palsu. Namun, kisah ini mewartakan teladan yang baik bahwa di balik popularitas tulisan erotis pada abad 18, terdapat fakta bahwa kisah-kisah itu sering kali secara terang-benderang bersifat politis.

Literasi Bawah Tanah

Toko-toko buku di Paris yang baru dibuka pada awal abad 18 adalah tempat yang berisik dan ramah. Sebagaimana dilaporkan oleh seorang pengunjung: Sekelompok pembaca terpaku di sekitar rak buku; mereka menghalangi jalan penjaga toko yang sebal dan mengeluarkan semua kursi sehingga memaksa mereka berdiri; tetapi hal itu tak menghentikan mereka berjam-jam membaca buku atau mengamati pamflet.

Toko-toko buku paling masyhur adalah yang paling modis dan seksual. Toko-toko ini terletak di lorong-lorong beratap Palais-Royal, seperti Librairie Pierre-Honore-Antoine Pain, yang bikin orang bergaya intelek sekaligus menggoda secara diam-diam pada siang hari.

Di antara buku yang paling laris di sana adalah Le Parnasse des poetes satyriques (antologi puisi erotis), Therese Philosophe (pengantar seksualitas bagi gadis muda), atau L’Enfant du bordel (‘Bocah dari rumah bordil’). Judul terakhir mengisahkan tokoh utama perempuan yang “dianugerahi klitoris yang bikin malu pergelangan kaki paling cantik di negeri Perancis.”

Banyak dari toko buku ini yang buka hingga larut malam ketika Palais-Royal dibanjiri pelacur, orang berpenampilan perlente, dan beragam petualang seks. Bagi para lelaki dan perempuan muda era abad 18 ini, membaca buku erotis diterangi cahaya lilin di salah satu toko buku sama halnya hidangan pembuka seksual, stimulan ragawi, sebelum mereka membanjiri jalan-jalan gelap di Paris buat melepas syahwat.

Dus, datanglah para bouquiniste seiring budaya literasi yang mekar sebagai aktivitas modis di Paris. Mereka adalah penjual buku yang lebih miskin dan lebih putus asa yang muncul kali pertama di kota itu pada abad 16. Mereka membuka lapak di areal terbuka di sepanjang jembatan Pont-Neuf.

Semula mereka dijuluki estaleur (‘pedagang kaki lima’) dan terkenal karena menjual pamflet-pamflet Protestan selama Perang Agama. Pihak berwenang berulang kali menangkap mereka sebagai pencuri atau subversif. Pada abad 18, mereka sudah cukup dihormati. Lapak-lapak mereka sering dikunjungi oleh mahasiswa dan ditahbiskan sebagai boekiniste atau bouquiniste (dari lema boekin atau ‘buku saku’ dalam bahasa Vlaams). Mereka menyebar sepanjang sungai Seine, menempati posisi yang kurang-lebih sama seperti hari ini.

Namun, setiap gelombang masalah di Paris, dari bencana kelaparan hingga kerusuhan Fronde, menyediakan pasar yang selalu terbuka bagi para pembaca Paris yang ingin menyuntuki pamflet-pamflet rahasia yang mencela raja atau menyerang pemerintah. Pada 1732, kedua tepi sungai Seine dipenuhi oleh lebih dari seratus dua puluh bouquiniste yang memenuhi kebutuhan Parisian akan percakapan politik dan pornografi.

Menantang Moralitas & Otoritas

Paris memang menjadi tuan rumah bagi fiksi bawah tanah yang melimpah ruah selama periode ini. Sebagian besar dari kesusastraan ini berasal dari Amsterdam atau Brussels, tetapi cukup banyak juga dari Paris sendiri dan menyirapkan darah para pembaca dengan catatan terperinci serta berpengetahuan ensiklopedis tentang kehidupan warga kota. Politik (atau kadang kala tempat) dan erotika sering kali bergandengan.

Pihak berwenang kota dan kerajaan mendapati kenyataan ini: muskil melacak apa yang dijual di sana dan kepada siapa. Jika buku tidak dijual di Palais-Royal, biasanya buku itu dapat ditemukan di les bouquiniste; jika tidak, dapat dibeli dari para colporteur, penjual buku keliling dan juru tulis. Mereka tidak menetap di satu tempat seperti bouquiniste, tetapi menjual barang-barang mereka di seantero kota, di kafe-kafe, kedai-kedai minum, dan salon-salon.

Colporteur, seperti bouquiniste, memang kebutuhan pokok bagi kehidupan Parisian sejak abad 16. Orang tergila-gila membaca dan aktivitas ini jadi kebiasaan sehari-hari—sama sekali bukan penanda elite yang istimewa.

Colporteur pada dasarnya adalah penjual keliling, pedagang kaki lima yang selalu awas dan was-was atas kehadiran pihak berwenang. Para colporteur dapat dijumpai di pojok-pojok jalanan Paris, yang menjual buku dengan baki, dan siap dengan buku paling bergairah tetapi tersembunyi di bawah sampul papier bleu.

Parisian melahap segala bacaan dari para colporteur: buku-buku tentang ilmu sihir, almanak, panduan karikatural ke Paris (le Dejenuner de la rapee—secara harfiah ‘Makan Siang Panutan’—adalah versi skatologikal Paris), kamus bahasa slang atau panduan asyik untuk kentut, hingga komedi (Le Adieux de Tabarin adalah naskah yang disyairkan dari aksi penampil jalanan Tabarin dan menjadi buku terlaris).

Namun, yang paling populer bagi semua kelas pembaca adalah bacaan-bacaan erotis yang menentang semua moralitas publik atas nama kebebasan. Pornografi menjadi representasi sastra dari pertarungan sosial dan memang elemen terdekat dalam perjuangan melawan kecupetan politik dan filsafat di Perancis saat itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword