Pandemi COVID-19

Luhut Minta Biofarma Bereskan Kerjasama dengan PfIzer dalam 10 Hari

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 25 November 2020
Menko Luhut bilang kerja sama ini punya peluang besar untuk lolos karena ia klaim Wakil Presiden AS Mike Pence sendiri yang menawarkan.
tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan Biofarma punya tenggat waktu kurang dari 2 pekan untuk merampungkan kerja sama dengan produsen vaksin asal AS. Luhut bilang kerja sama ini seharusnya punya peluang besar untuk lolos karena ia mengklaim Wakil Presiden AS Mike Pence sendiri yang menawarkan itu kepadanya.

“Vice President Pence menawarkan untuk memproduksi juga vaksin Pfizer atau Johnson & Johnson di Indonesia. Saya kira Pak Honesti (Dirut Biofarma) lebih tahu dan punya tugas selama 10 hari ke depan untuk mencari kesepakatan dengan FDA Amerika mengenai produksi vaksin ini,” ucap Luhut dalam webinar 'Strategi Kebijakan Pemulihan Krisis Kesehatan dan Krisis Ekonomi Post COVID-19,' Rabu (25/11/2020).

Keputusan untuk meminang vaksin Pfizer atau Johnson & Johnson ini nantinya perlu restu Food and Drugs Administration (FDA) atau lembaga setingkat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di RI.

Luhut bilang melalui kerja sama ini, Indonesia akan punya dua sumber vaksin. Tepatnya di luar 3 perusahaan Cina yang sudah lebih dulu dijajaki yaitu Cansino, G42/Sinopharm, dan Sinovac.

“Kita akan punya dua vaksin nanti. 1 Amerika dan Tiongkok atau mungkin dari tempat lain,” ucap Luhut.

Vaksin milik Pfizer dan Johnson & Johnson di Amerika Serikat memang menjanjikan bagi masa depan penanganan COVID-19. Pfizer misalnya memiliki efektivitas hingga 90 persen mencegah penularan COVID-19 padahal vaksin sebayanya hanya 60-70 persen. Sementara vaksin Johnson & Johnson masih berada dalam tahap melanjutkan pengujian tahap III dan belum diketahui efektivitasnya.



Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight