15 Juni 1978

Lisa Halaby, Cahaya Terakhir bagi Raja Hussein Yordania

Kontributor: Tyson Tirta - 15 Jun 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Lisa Najeeb Halaby adalah istri keempat dan terakhir Raja Hussein dari Yordania. Mereka berumah tangga selama 21 tahun sampai Hussein meninggal pada 1999.
tirto.id - Ratu Noor al-Hussein yang bernama asli Lisa Najeeb Halaby adalah istri keempat dan terakhir Raja Hussein, Raja Yordania yang berkuasa pada 1952-1999. Ia perempuan berdarah Lebanon dan Suriah yang lahir di Amerika Serikat. Najeeb Halaby, ayahnya, pejabat tinggi di kantor pemerintahan AS dalam urusan penerbangan sekaligus pengusaha sukses. Keluarga Halaby mendapatkan perlakuan istimewa di AS karena jasa-jasa mereka dalam bidang pelayanan publik.

Hal ini membuka kesempatan bagi Lisa untuk menempuh pendidikan privat terbaik. Ia sempat bersekolah di The National Cathedral School di Washington DC, The Chapin School New York, dan Concord Academy di Massachusets. Tahun 1969 Lisa menempuh pendidikan tinggi di bidang Tata Kota dan Arsitektur di Princeton University.

Setelah lulus, ia bekerja di bidang perencanaan tata kota di AS, Australia, dan Iran. Di sisi lain, kesuksesan ayahnya memimpin Pan American World Airways mendorong pemerintah Yordania merekrutnya dalam proyek besar mendesain ulang sistem dan infrastruktur penerbangan.

Kepada putrinya, Najeeb menawarkan pekerjaan sebagai manajer perencanaan dan desain di Arab Air Services. Sejak awal, Lisa hanya diberi tugas untuk menggantikan manajer utama yang sedang sakit. Tanpa pertimbangan lama, Lisa setuju untuk membantu ayahnya. Perusahaan itu kemudian berkembang menjadi perusahaan besar yang memasok kebutuhan desain, teknik, dan pendukung lainnya bagi dunia penerbangan Timur Tengah. Pada acara seremonial pembelian Boeing 747 pertama bagi Royal Jordanian Airline, Lisa bertemu dengan Raja Hussein.

Pertemuan ini berkembang menjadi pertemanan yang akrab. Sang raja akhirnya melamar Lisa pada 13 Mei 1978 dan menikahinya pada 15 Juni di tahun yang sama. Pesta pernikahan digelar di Zahran Palace di Amman, Yordania. Istana itu adalah istana ibunda Raja Hussein yang merupakan lokasi pernikahan kerajaan berdasarkan tradisi. Uniknya, menurut laporan media lokal, Lisa merupakan satu-satunya perempuan yang hadir dalam acara pernikahan itu.

Di kemudian hari, catatan tiga pernikahan Raja Hussein sebelumnya dan gaya hidup kosmopolitan membuatnya kesohor sebagai raja yang mudah tertarik pada perempuan. Meski begitu, ia tak pernah memiliki lebih dari satu istri dalam waktu yang bersamaan.


Masa Muda: Trauma dan Romantika

Hussein bin Talal lahir di Amman pada 1935 sebagai anak pertama pangeran Talal bin Abdullah. Pada waktu kelahirannya, kakek Hussein adalah penguasa Transyordania dengan gelar Abdullah I yang menjadi penerus dinasti Hashemite yang berkuasa atas seluruh tanah Transyordania (Yordania).

Status Hussein sebagai cucu raja dan penerus utama kerajaan Yordania membuatnya mendapatkan perlakuan khusus di seluruh negeri. Hussein menempuh pendidikan terbaik di Amman. Ia melanjutkan sekolah di Victoria College di Alexandria, Mesir, dan Harrow School di Inggris, sebelum lulus dari Royal Military Academy Sandhurst.

Ketika usianya 16 tahun, ia diajak Raja Abdullah I, kakeknya, mengunjungi Yerusalem. Sebelum mengunjungi sebuah masjid, sang raja menyematkan lempengan logam di dada Hussein. Seakan punya firasat, Raja Abdullah kala itu ditembak mati oleh seorang pembunuh. Hussein pun tak bisa menghindari peluru yang sempat ditembak ke arahnya. Kakek dan cucunya langsung tersungkur. Namun, nyawa Hussein bisa diselamatkan berkat lempengan logam dari kakeknya.

Kematian Raja Abdullah I membuat Pangeran Talal didaulat menduduki posisi raja. Tapi rupanya para penasihat dan menteri Yordania punya kekhawatiran yang besar. Raja Talal dianggap mengidap penyakit mental yang membuatnya tidak layak menjabat sebagai raja.

Kekhawatiran mereka terbukti. Setahun setelah menjadi raja, Talal menjadi sumber masalah besar. Ratu Zein, istri Talal, dan Perdana Menteri Tawfik Abu Al-Huda, membenarkan penyakit mental itu. Furlonge, perwakilan kerajaan Inggris di Yordania, menyarankan Talal untuk meninggalkan Amman untuk dirawat di sebuah klinik di Prancis.

Kosongnya kursi raja memaksa Hussein untuk mengambil alih kepemimpinan. Masalahnya, usia Hussain kala itu baru 16 tahun dan menurut konstitusi harus dibentuk sebuah badan musyawarah khusus sambil menunggu raja siap memimpin. Akhirnya, Hussein benar-benar naik takhta di usianya yang menginjak 17 tahun. Pada masa persiapannya memimpin, Hussein dibimbing dengan telaten oleh ibunya. Ketika usianya 19 tahun, Ratu Zein bahkan mengurus perjodohan dengan Shafira Dina bint ‘Abdul’l-Hamid. Pernikahan itu tak langgeng, mereka bercerai pada 1953.

Hussein kemudian menikah lagi dengan Antoinette Gardiner, perempuan kelahiran Inggris yang mendapatkan gelar HRH Princess Muna al-Hussein. Pernikahan ini bertahan selama 10 tahun, mereka bercerai pada 1971.

Tak perlu waktu lama bagi Raja Hussein untuk menemukan istri baru. Pada Desember 1972, ia menikahi Alia Baha ad-Din Toukan, anak seorang diplomat Yordania. Ratu Alia yang namanya dihormati sebagai nama bandara internasional meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan helikopter.


Infografik Mozaik Cerita Cinta Raja Hussein
Infografik Mozaik Cerita Cinta Raja Hussein. tirto.id/Tino


Lisa yang saat itu bekerja di Royal Jordanian Airline, sedang sibuk mengurus segala keperluan desain dan perawatan fasilitas penerbangan. Bukan tugas mudah, mengingat usianya yang masih muda dan pengalaman yang relatif minim. Pada 6 April 1977, Lisa diajak ayahnya untuk menemui Raja Hussein dalam sebuah audiensi mengenai tata perencanaan infrastruktur. Dalam kesempatan itu rupanya sang raja kepincut dengan kecantikannya.

Pertemuan pertama itu dimanfaatkan oleh Hussein untuk mengundang Lisa makan siang di rumahnya. Alasan resmi undangan: memeriksa masalah konstruksi yang memerlukan perhatian khusus. Undangan diterima oleh Lisa dan sebuah acara makan siang dijadwalkan. Dalam autobiografinya, Lisa menulis tentang hal itu sebagai hari yang tak terduga karena undangan makan siang ternyata tak berlangsung singkat. Ia baru pulang pukul 19.30.

Satu pekan berselang, Lisa kembali diundang untuk sebuah acara. Kali ini bertempat di pelabuhan yang sangat populer bagi turis mancanegara. Raja Hussein mengajak anak-anaknya dan beberapa teman dekat. Setelah itu pun mereka bertemu lagi dalam berbagai acara yang bersifat non-formal. Pada 15 Juni 1978, Raja Hussein akhirnya menikahi Lisa.

“Peristiwa paling penting dalam kehidupan pribadi Hussein pada 1978 adalah pernikahannya dengan Lisa Halaby dalam seremoni sederhana di Amman. Lisa perempuan cerdas, pirang, cantik, tinggi, dan atletis. Tubuhnya lebih tinggi daripada pria yang dinikahinya, namun lebih muda 16 tahun,” kata Avi Shlaim dalam Lion of Jordan: The life of king Hussein in War and Peace (2008:412).

Lisa kemudian menyandang nama Noor al-Hussein, yang berarti cahaya bagi Hussein. Sekretaris kerajaan mengatur gaun pernikahan dari perancang Dior. Dua orang perancang busana datang ke Amman dengan sketsa gambar gaun yang akan disesuaikan dengan kebutuhan resepsi. Akan tetapi Lisa menolaknya. Ia memilih gaun sederhana yang sesuai dengan semangat Islam. Ia mengajak kedua perancang busana itu untuk melihat gaun favoritnya: sebuah gaun Bohemia Yves Saint Laurent. Desain gaun itu dijadikan materi dasar untuk merancang versi final yang dikenakan Lisa dalam pernikahannya.

Tak hanya itu, Lisa juga memutuskan untuk memeluk agama Islam. Pagi hari menjelang pernikahan ia mengucap syahadat. Pernikahan Raja Hussein dengan Lisa menjadi pernikahannya yang paling lama dalam hidup sang raja. Mereka menjadi suami istri selama 21 tahun hingga Raja Hussein meninggal pada 1999.

Baca juga artikel terkait YORDANIA atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight