Liga Italia Itu Berbeda, Cristiano Ronaldo!

Infografik CR vs Pertahanan Serie A
Ekspresi pemain Juventus, Cristiano Ronaldo melihat ke langit saat ia bereaksi dipertandingan sepak bola Serie A antara Juventus dan Lazio di Stadion Allianz di Turin, Italia, Sabtu, 25 Agustus 2018. AP Photo / Luca Bruno
Oleh: Iswara N Raditya - 8 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Liga Italia Serie A bukan hanya soal pertahanan, tapi juga memuat seabrek keunikan serta kerumitan. Cristiano Ronaldo belum bisa memecahkan kompleksitas itu.
tirto.id - Cristiano Ronaldo telah melakoni tiga laga awal Liga Italia Serie A musim ini bersama Juventus. Agresivitas dan aksi-aksi ciamik sudah ia pertontonkan, termasuk satu assist kocak yang menghasilkan gol penentu Bianconeri di pertandingan kedua. Hanya saja, Ronaldo masih nihil gol.

Banyak peluang yang tercipta dari pergerakan kapten Timnas Portugal ini dalam tiga laga yang seluruhnya dimenangkan Juventus itu. CR7 selalu tampil penuh dengan durasi total 270 menit. Sebanyak 23 tembakan sudah ia diupayakan demi menepis keraguan publik. Namun, lagi-lagi, gawang lawan belum terkoyak juga.

Alessandro Del Piero pun angkat bicara. Sang legenda hidup Juventus mengingatkan bahwa Serie A amat berbeda dengan liga-liga yang pernah Ronaldo taklukkan. Sejak awal karier profesionalnya, dari Primeira Liga Portugal, Premier League Inggris, hingga La Liga Spanyol, Ronaldo memang sosok maestro dalam urusan mengubah skor.

“Di Italia, kami bertahan dan mencari keunggulan numerik. Ini sukar untuk seorang penyerang, Cristiano Ronaldo harus paham liga barunya,” pesan Del Piero, seperti dikutip AS.

Bukan Debut Sulit Pertama

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya bagi Cristiano Ronaldo kesulitan membuka keran golnya ketika baru saja pindah klub. Usai diboyong Manchester United (MU) dari Sporting Lisbon ke Inggris pada 2003 dengan nilai transfer lebih dari 17 juta euro, ia juga sempat kewalahan bikin gol. Perolehan golnya bahkan terhitung minim hingga musim ketiga.

Cristiano Ronaldo menjalani debutnya di Premier League musim 2003/2004 saat MU menjamu Bolton Wanderers pada 16 Agustus 2003. Sir Alex Fergusson memainkannya pada menit 61 untuk menggantikan Nicky Butt. The Red Devils memang menang 4-0, tapi Ronaldo tak ikut urun gol.


Beberapa bulan kemudian, tepatnya 1 November 2003, Ronaldo mencatatkan gol perdananya di Premier League. Ia menyumbangkan sebiji gol untuk melengkapi gol Diego Forlan dan Roy Keane serta mengantarkan kemenangan MU atas Portsmouth dengan skor 3-0.

Sepanjang musim pertamanya di Premier League itu, Cristiano Ronaldo hanya mampu mencetak 4 gol meskipun ia bermain dalam 29 pertandingan dengan akumulasi waktu selama 1.548 menit.

Masa adaptasi yang direcoki periode paceklik gol terus berlangsung bahkan hingga dua musim berikutnya. Di Premier League 2004/2005 dan 2005/2006, menurut data Soccerway, Ronaldo masing-masing mengoleksi 5 dan 9 gol.

Barulah sejak tahun keempat, Ronaldo sanggup mengumpulkan dua digit gol di tiap musim Premier League, yakni 17 gol (2006/2007), 31 gol (2007/2008), serta 18 gol (2008/2009), sebelum dilego ke Real Madrid dengan mahar sebesar 94 juta euro.

Berbeda dengan awal-awal yang terbilang sulit di Inggris, Ronaldo langsung bersinar di Spanyol. Banyak faktor yang mendukung laju kariernya di negeri matador. Selain kultur yang tidak jauh berbeda dengan Portugal, klub barunya merupakan tim paling kuat di La Liga, selain Barcelona atau—terkadang—Atletico Madrid.

Ditambah lagi, aura persaingan kontra bintang andalan Barca, Lionel Messi, juga kemudian Antoine Griezmann dari rival klub sekota, memicu Ronaldo untuk menunjukkan penampilan terbaiknya dari musim ke musim bersama Los Blancos. Usia yang sudah matang dan kian kuatnya mental menambah nilai plus Ronaldo ketika itu.

Selama berkiprah bareng Real Madrid sepanjang 9 musim, CR7 selalu menorehkan lebih dari 25 gol tiap tahun, termasuk di musim debutnya pada 2009/2010 dengan 26 gol. Di kompetisi La Liga saja, ia sudah melesakkan total 311 gol, itu belum termasuk di ajang lainnya, seperti Copa del Rey atau Liga Champions.

Beda di Inggris, Spanyol, dan Italia

Lantas, mengapa kini di Italia Cristiano Ronaldo mengalami hal yang nyaris serupa dengan saat ia pertama kali merumput di Inggris?

Situasi kala Cristiano Ronaldo pindah ke MU dari Sporting Lisbon berbeda dengan saat didatangkan Juventus dari Madrid. Ia masih remaja berusia 18 tahun waktu tiba di Old Trafford. Secara mental dan pamor, Ronaldo belum terlalu terbebani.

Selain itu, faktor persaingan juga berpengaruh. Ronaldo mesti berbagi tempat dengan bomber-bomber top yang bergantian mengisi sektor serang MU; dari Diego Forlan, Ruud van Nistelrooy, Luis Saha, Wayne Rooney, Giuseppe Rossi, Henrik Larsson, Carlos Tevez, Danny Welbeck, Dimitar Berbatov, hingga Michael Owen.


Ketika datang ke Santiago Bernabeu, Ronaldo sudah berstatus bintang dan langsung mengunci satu tempat di lini depan Real Madrid. Pesaing utama sekaligus mitra Ronaldo kala itu adalah Gonzalo Higuain dan Karim Benzema. Sementara Raul Gonzales, juga Nistelrooy—yang direkrut dari MU sejak 2006/2007—sudah memasuki usia uzur.

Hengkangnya duo gaek Raul dan Nistelrooy pada 2009/2010, lalu dibuangnya Higuain ke Napoli, membuat Ronaldo semakin memantapkan posisinya sebagai predator utama Real Madrid. Bersama Benzema, juga Gareth Bale yang datang selepas Higuain pergi pada 2013/2014, mereka menjadi trisula paten di divisi serang El Real, hingga akhirnya Juventus datang menjemput.

Nah, problem yang dialami Cristiano Ronaldo di Italia ternyata sedikit berbeda. Ia berangkat ke Turin dengan mahar dan ekspektasi yang teramat tinggi sebagai salah satu pesepakbola terbaik di muka bumi. Asa terhadap Ronaldo yang diharapkan bisa mengembalikan kejayaan Serie A yang di masa silam pernah bertaburan bintang semakin menambah “beban” itu.


Di sisi lain, umur Ronaldo sudah tidak muda lagi untuk ukuran pemain bola, terlebih bagi seorang penyerang yang selalu dinilai dari jumlah gol yang dibuat. Usianya saat ini sudah memasuki tahun ke-33. Kendati banyak yang percaya bahwa Ronaldo masih perkasa, tapi tidak sedikit pula yang menyangsikan konsistensinya.

Masih ada lagi. Seperti yang dikatakan Del Piero, sepakbola Negeri Pizza berbeda dengan liga-liga di negara lain. Brand pertahanan gerendel alias catenaccio yang selama ini identik dengan tim nasional Italia juga terlanjur lekat dengan citra Serie A beserta klub-klubnya.

Cristiano Ronaldo, lagi-lagi sebagaimana saran Del Piero, memang harus mengenali Liga Italia secara jauh lebih baik.


Serie A Tak Hanya Soal Bertahan

Legenda hidup Juventus lainnya, Ciro Ferarra, juga berucap serupa. Bahkan, bekas pemain sekaligus eks pelatih La Vecchia Signora ini memaparkan lebih rinci. Bukan perkara pertahanan saja yang harus dicermati Ronaldo, tapi juga karakter sepakbola dan kompetisi di Italia yang unik lagi rumit.

Ferarra adalah sosok bek yang sangat tangguh pada zamannya. Karena itu, ia paham betul bahwa sepakbola Italia bukan melulu soal pertahanan.

“Di Italia berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa hanya karena para pemain bertahan yang kami miliki, tetapi juga gaya sepakbola di sini,” sebut Ferarra kepada Il Corriere di Torino seperti dilansir Daily Star.


Pengemas 49 caps bersama Gli Azzurri ini pesimistis Cristiano Ronaldo sanggup mengulangi banjir gol seperti pada era-era sebelumnya jika tidak mampu menyesuaikan diri dengan sepakbola Italia yang sering dibilang sarat nuansa mirip orkestra.

“Dalam pandangan saya,” kata Ferarra, ”ia tidak bakal mendapatkan lebih dari 30 gol. Ia akan memperoleh maksimal 25-26 gol musim ini, tetapi tentu saja lebih sedikit daripada yang biasa dilakukannya di Spanyol.”

Liga Italia, terlebih Serie A, memang berbeda dengan Premier League yang lebih lugas atau La Liga yang distribusi kekuatan klubnya tidak merata, bahkan timpang, juga jika merunut sejarah klub-klubnya.

Menurut Ferarra, Liga Italia lebih taktis dan terkadang akan tersaji lebih banyak drama di atas lapangan. Klub-klub semenjana sekalipun memiliki pola permainan yang lebih terorganisir.

Cristiano Ronaldo sudah membuktikan itu dalam laga debutnya di Juventus. Melawan klub gurem macam Chievo, ia gagal menjebol gawang lawan meskipun tercatat sebagai pemain yang paling agresif di laga itu. Juventus pun harus menang dengan susah-payah.

Kejadian serupa terulang di pertandingan ketiga menghadapi Parma, klub yang pernah ambruk dan baru saja kembali ke Serie A dengan kekuatan seadanya. Melepaskan enam tembakan ke arah gawang Gialloblu, tidak ada satupun yang berbuah gol, meskipun lagi-lagi Bianconeri yang menang.

Skuat Juventus memang jauh lebih digdaya daripada rival-rivalnya, tapi ini sedikit berbeda dengan di Spanyol. Secara tim, Juventus diprediksi bakal melanjutkan tren kejayaan. Namun, untuk urusan individual pemainnya, belum tentu.


Tapi boleh jadi, Juventus memang tidak butuh terlalu banyak gol dari Ronaldo. Agresivitas, aksi-aksi memukau, juga assist yang telah dibuatnya saat Bianconeri menghantam Lazio di laga kedua, sudah cukup menghadirkan kemenangan tanpa ia harus mengukir gol.

Apapun itu, gol Cristiano Ronaldo di Italia tetap ditunggu. Bagaimanapun juga, peraih lima kali Ballon d'Or ini memang masih menjadi salah satu pesepakbola terhebat di alam semesta. Seperti kita semua, Ferarra juga menantikan selebrasi gol CR7 dengan balutan jersey Juventus.

“Anda tidak dapat mengkritik Ronaldo karena ia adalah fenomena dan profesional yang hebat. Inilah yang membuat saya tersenyum saat ia mencetak gol pertamanya,” ujar Ferarra.

Baca juga artikel terkait SERIE A atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight