Joyland 2023

Last Dinosaurs: Kami Sempat Berpikir Takkan Bisa Main Live Lagi

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 6 Des 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Last Dinosaurs adalah band pop rock asal Australia yang terbentuk sejak 2007 dan baru saja merampungkan tur 32 kota di Amerika Serikat.
tirto.id - Sebelum datang ke Jakarta untuk bermain di hari pertama Joyland 2023, Last Dinosaurs baru saja merampungkan tur keliling Amerika bersama kompatriotnya, Vacations. Bertajuk Tourzilla, dua band ini menjalani konser di lebih dari 30 titik.

Last Dinosaurs adalah band indie rock dari Brisbane yang terbentuk pada 2007 silam. Formasi band ini adalah Caskey bersaudara Sean (vokal, gitar) dan Lachlan (gitar dan vokal), dan Michael Sloane (bass). Mereka amat dipengaruhi oleh budaya Jepang. Ini tak mengherankan, sebab Caskey bersaudara yang paling banyak menulis lagu adalah blasteran Jepang. Nama band mereka juga diambil dari lagu band rock Jepang, The Pillows.

Batu lompatan pertama mereka adalah EP Back from the Dead (2010). Dengan segera, album mini ini mendapat sambutan meriah, mempopulerkan single seperti "Alps", "As Far As You're Concerned", dan tembang yang segera jadi klasik, "Honolulu". Dua tahun kemudian, album penuh perdana berjudul In A Million Years dirilis. Masih mengedepankan permainan gitar rancak, tempo up beat, dan bebunyian dari synth, album ini juga mendapat banyak pujian. Salah satunya datang dari idola mereka, Russell Lissack, pemain gitar band indie rock asal Inggris, Bloc Party.

"Album itu berisi isian gitar terbaik yang kudengar setelah sekian lama," ujarnya, seperti dikutip The Sydney Morning Herald.

Yumeno Garden menjadi salah satu tapak penting dalam perjalanan karier mereka. Album ketiga yang dirilis pada 2018 ini adalah penanda bahwa mereka ingin membuat musik secara lebih bebas, lepas dari berbagai arahan dan bujet besar. Dengan kata lain, seperti yang ditulis di bio Last FM mereka: trio ini merasa sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab terhadap musik mereka sendiri.

Album keempat From Mexico with Love (2022) ditulis dalam masa yang serba sumir karena pandemi. Hal ini membuat banyak perubahan dalam cara mereka memandang dunia dan masa depan. Hasilnya, tema yang lebih gelap dan "serius". Album ini lantas diikuti oleh interpretasi mereka tentang masa depan seribu tahun kemudian lewat album mini RYU (2023).

Titimangsa menunjukkan tahun 3023. Saat itu, dalam bayangan mereka, bumi sudah diselimuti puing-puing satelit dan sampah luar angkasa. Di masa-masa yang disebut sebagai revolusi artificial intelligence (AI) yang kalah dan tumpas, satu satelit AI masih mengangkasa sebagai stasiun yang renta dan tinggal menunggu ajal. Dalam waktu itu, satelit ini berfungsi sebagai stasiun radio yang menyebarkan musik dari peradaban kuno.

Mini album berjudul RYU ini adalah hasil bayangan mereka tentang koleksi lagu (atau transmisi) yang diputar dari sebuah satelit yang tinggal menghitung usia.

Tirto.id bertemu dengan Last Dinosaurs sebelum mereka naik panggung. Lachlan, Sean, dan Michael bercerita tentang ritual sebelum manggung, pengalaman tur Amerika, dan bagaimana proses mereka menulis lagu.


Jadi bagaimana pengalaman kalian di Tourzilla kapan hari? Kayaknya menyenangkan ya, dan jenis-jenis tur sekali seumur hidup.


Lachlan: Yaaa! Benar-benar menyenangkan. Asyik, karena kami satu bus dengan teman-teman kami dari Australia juga, Vacations.

Jadi, ada berapa kota yang kalian singgahi di tur kemarin?

Kalau tidak salah hitung, ada 32 kota, termasuk di London.

Dan kota mana yang menurut kalian pengalamannya paling asyik?

Lachlan: Pomona, California. Itu sepertinya salah satu konser terbesar, dan salah satu konser dengan penonton paling gilaaaa. Berapa orang penonton, ya? Hmmm. Kira-kira 2.000 orang. Pada akhirnya konser di California itu menjadi sebuah konser yang sangat besar bagi kami.

Sean: Tapi kayaknya lebih gede yang di Los Angeles gak sih?

Lachlan: Emang iya? Kayaknya sih secara ruangan dia lebih besar. Tapi secara jumlah penonton, lebih sedikit. Jadi memang sepertinya Pomona yang paling banyak.

Jadi, balik lagi ngomongin soal musik. Aku penasaran bagaimana proses kreatif di balik album From Mexico With Love? Di album itu aku paling suka "Self Sabotage", seperti relevan dengan kisah hidup banyak orang. Plus, reffnya catchy banget.

Lachlan: Terima kasih. Jadi, proses pembuatan album itu sama seperti mini album terbaru kami, Ryu. Sebagian besar lagu di album itu ditulis secara individu. Kemudian ketika kami ketemu, baru kami coba mainkan bareng, dan diselesaikan sama-sama. Seringkali rasio lagu itu 90 persen sudah jadi ditulis, sisa 10 persen diselesaikan pas lagi ketemu. Kadang ada juga lagu yang ditulis sekitar 60 persen, lalu sisanya digarap bareng.

Jadi seperti itu penggarapan From Mexico with Love. Sean menulis dan membuat bagan lagunya. Sebenarnya ide untuk lagunya sudah terbentuk. Terus kami ketemu di studio. Kadang di studionya (Michael Sloane), kadang di studioku, kadang di studio produser lain.

Dan album itu kalian garap ketika pandemi kan?

Ya, saat itu aku sedang ada di Meksiko ketika pandemi.

Wow. Dan saat itu apa hambatan terbesar dalam pembuatan album itu?

Hmmm. Apa, ya. mungkin semua yang serba blur, tidak jelas, kita tidak bisa menebak di depan ada apa, sih. Sekarang sih semua kembali normal, ya. Tapi pas pandemi itu, kami tak pernah benar-benar tahu dunia dan hidup ini bakal seperti apa. Bahkan kami sempat mikir kalau kami tak akan bisa bermain live lagi. Untungnya hal itu tidak terjadi.

Seperti apa pandemi memengaruhi kalian dalam konteks penulisan lagu?

Jadinya tema album itu jadi kayak... tersaring lagi. Beberapa hal jadi terasa lebih gelap. Entahlah, mungkin juga karena kami yang bertambah tua, dan pemikiran kami jadi lebih gelap. Tapi tentu saja, di album itu masih ada lagu-lagu cinta. Yaaa, seperti perpaduan antara terang dan gelap.

Berbicara soal perubahan pola pikir ini, kalian bisa ceritakan gak sih evolusi dari lagu-lagu kalian. Katakanlah dari album In A Million Years yang melejitkan "Zoom", dibanding dengan From Mexico with Love. Seperti apa perubahan kalian, baik secara sound, teknis, atau penulisan lagu.

Lachlan: Mungkin yang paling kentara adalah perubahan sound. Album-album kami terdengar cukup berbeda secara sound. Seperti yang Lachlan pernah bilang, kami berkembang secara teknis dan jadi lebih baik dalam merekam lagu. Hingga sampai di titik, kami bisa merekam lagu kami sendiri, dan membawanya ke level yang layak secara profesional.

Michael: Album itu secara teknis juga berubah. Karena kami merekam lagu-lagu di tempat yang berbeda. Jadi soundnya bakal terasa berbeda. Begitu juga dalam hal penulisan lirik. Karena Lachlan menulis terus menerus. Jadi itu juga berubah, seiring pola pikirnya yang juga berubah.

Pertanyaan klise tapi semoga bisa bikin penggemar kalian bisa punya bayangan: kalian punya ritual sebelum manggung gak?

Sean: kami akan mengambil hewan dan meminum darahnya (tertawa). No, no. Kami akan banyak pemanasan saja, sih.

Pertanyaan terakhir. Apa yang kalian ingin fans rasakan ketika mendengar dan menonton kalian?

Tentang memberi kasih sayang dan mendukung orang lain, sih. Itu yang utama. Selain itu, ketika kalian menonton kami, lupakan ada kami di atas panggung, lupakan kalian ada di mana. Bebaskan dirimu.

Baca juga artikel terkait LAST DINOSAURS atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight