Labiaplasty, Operasi Mulut Vagina dan Kontroversinya

infografik labiaplasty
Ilustrasi labiaplasty. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Yulaika Ramadhani - 6 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Selain karena alasan kesehatan dan rasa tidak nyaman, operasi mulut vagina sering dilakukan karena alasan perbaikan penampilan semata.
tirto.id - Pada usianya yang ke-13, Brynne Frauenhoffer merasa ada satu bagian tubuhnya yang ia rasa tumbuh tidak seperti perempuan kebanyakan. Adalah daging yang tumbuh berlebihan di bagian alat kelaminnya. Hal itu membuatnya tidak nyaman ketika pelajaran olahraga atau kegiatan lain yang mengharuskannya memakai celana ketat.

Daging tumbuh itu sebenarnya adalah lipatan kulit labia minora, mulut vagina yang tumbuh lebih panjang dari keadaan normal. Daging yang dikhawatirkan Brynne kecil sebagai penis mini ini sering disebut juga sebagai "tirai daging sapi".

“Sewaktu remaja dulu, aku sering berpikir bahwa suamiku akan kabur di malam pertama pernikahanku, gara-gara perkara ini,” kata Brynne menceritakan ketakutan masa kecilnya.

Ketakutan-ketakutan tersebut yang membuatnya bersepakat dengan usulan ibunya untuk melakukan labiaplasty, sebuah operasi pembedahan untuk memperbaiki labia atau bibir vagina.

Mulanya, pembedahan ini banyak dilakukan perempuan untuk menyembuhkan bagian tubuhnya yang tumbuh tidak normal, seperti dalam kasus Brynne. Namun, labiaplasty kemudian berkembang menjadi salah satu jenis operasi bedah yang semata-mata untuk tujuan kecantikan penampilan semata.

Banyak dari perempuan yang melakukan pembedahan dengan tujuan mempercantik daerah intim mereka. An International Journal of Obstetrics and Gynaecology menyatakan bahwa perempuan yang melakukan labiaplasty meningkat lima kali lipat selama tahun 2001 sampai dengan 2010.

Beragam alasan yang melandasi keputusan perempuan untuk "mempermak" bagian intimnya, mulai dari alasan kesehatan sampai dengan dalih kecantikan. Itu semua dikarenakan ada pengaruh persepsi perempuan tentang "keadaan normal" yang diinginkan, termasuk juga "penampilan ideal" alat kelamin mereka.

Sebuah penelitian dari Australia’s University of Queensland School of Psychology mengkaji hal tersebut. Para peneliti melihat pengaruh gambar labia modifikasi yang mereka lihat terhadap persepsi mereka atas hal-hal yang mereka anggap normal dalam masyarakat.

Penelitian ini melibatkan 97 perempuan berusia 18 sampai dengan 30 tahun. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta melihat dua pemutaran gambar yang berbeda.

Pada pemutaran pertama, kelompok satu menonton serangkaian gambar labia hasil pembedahan dan modifikasi, kelompok kedua melihat gambar labia tanpa modifikasi, dan kelompok ketiga tidak melihat gambar apapun.

Pada pemutaran kedua, ketiga kelompok tersebut secara bersama-sama melihat serangkaian gambar yang terdiri dari campuran gambar labia hasil pembedahan dan modifikasi serta gambar labia tanpa pembedahan.

Studi tersebut menemukan bahwa wanita yang awalnya melihat labia yang dimodifikasi, akan membuat kesimpulan bahwa gambar labia yang dimodifikasi dalam pemutaran kedua lebih normal daripada yang tidak.

Selanjutnya, ketika diminta untuk menilai gambar labia yang paling ideal di masyarakat, perempuan yang awalnya melihat gambar labia yang dimodifikasi memiliki kemungkinan 13% untuk menilai labia yang dimodifikasi lebih ideal di masyarakat.

Claire Moran, peneliti utama penelitian tersebut menyatakan bahwa gambar labia yang dimodifikasi dapat secara signifikan memengaruhi persepsi wanita tentang penampilan labia normal yang mereka diinginkan.

"Temuan ini semakin mempertinggi kekhawatiran atas konsep yang tidak realistis mengenai apa yang dianggap normal perempuan. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap alat kelamin perempuan miliknya dan mendorong perempuan untuk mencari operasi yang tidak perlu,” katanya.

Brynne Frauenhoffer, perempuan yang di usia mudanya melakukan labiaplasty menyatakan hal serupa. Ia bercerita bahwa film dokumenter Orgasm Inc. The Strange Science of Female Pleasure telah mengubah pandangannya terhadap bagaimana ia memandang tubuhnya sendiri.

“Orgasm Inc. adalah film dokumenter tentang pasar obat-obatan seksual perempuan. Setelah menonton film itu, saya mulai memikirkan kembali etika labiaplasty dari sisi feminisme,” kata Brynne.

“Saya terganggu oleh gagasan vagina yang ideal. Mengatakan vagina harus memiliki labia kecil, sama saja seperti mengatakan bahwa penis seharusnya berukuran tepat lima inci atau mata seharusnya berwarna biru. Ini bodoh, tidak realistis, dan berpotensi merusak,” kata Brynne.



Pada dasarnya proses pembedahan labiaplasty adalah memperpendek, atau membentuk kembali bibir vagina. Hal ini, biasanya dilakukan oleh dokter kandungan, atau ahli bedah plastik. Jaringan yang tidak diinginkan dipotong dengan pisau bedah, atau laser, kemudian dijahit kembali. Ini bisa dilakukan baik menggunakan anestesi umum, atau anestesi lokal dengan dan seluruh prosedur memakan waktu sekitar 1-2 jam.

Jika dilihat dari segi medis, labiaplasty tidak terlepas dari kontroversi. Pasalnya, efek pembedahan labia terkadang dapat menyebabkan hilangnya sensitivitas karena kerusakan saraf pada alat seksual, nyeri, bahkan infeksi. Hal ini dijelaskan oleh Jonathan A Wu dalam penelitiannya yang berjudul Labioplasty for Hypertrophic Labia Minora Contributing to Recurrent Urinary Tract Infections.

Selain itu, pasien akan merasa tidak nyaman pada daerah operasi selama beberapa hari dan baru dapat kembali bekerja dalam 2-4 hari setelah operasi, serta kembali berolahraga setelah 4 minggu. Penyembuhan sempurna baru dicapai setelah 6 minggu, baru pasien dapat kembali aktif secara seksual. Setelah menjalani operasi labioplasty ini, vagina akan terlihat dan terasa normal karena luka operasi tersembunyi bersama lipatan kulit normal.

Sayangnya, sejumlah penelitian mengenai labiaplasty belum menjelaskan efek jangka panjang dan bagaimana dampaknya pada kepuasan seksual pasien, atau juga bagaimana pengaruhnya terhadap proses persalinan yang akan dijalani perempuan-perempuan tersebut.

Terlepas dari semua itu, bagian medis dan pihak-pihak yang bersentuhan dengan proses ini selain melakukan tugasnya membedah dan memberi obat, sudah seharusnya untuk memberi obat berupa pemahaman dan motivasi untuk perempuan agar mereka nyaman dan menghargai tubuh mereka sendiri apa adanya.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight