Kurang Gizi di Lumbung Padi

Reporter: Arman Dhani - 3 Okt 2016 09:20 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Lebih dari 8 juta anak mengalami kekurangan gizi menurut angka Kementerian Kesehatan 2013. Persentasenya terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah ironi dari negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi.
tirto.id - Pada puncak peringatan Hari Gizi Nasional pada 22 Maret lalu, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyatakan status gizi Indonesia saat ini lebih baik. Ini dibuktikan dari meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek (stunting) di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti Indonesia sudah terbebas dari kekurangan gizi. Faktanya saat ini masih ada daerah di Indonesia yang terancam kekurangan gizi.

Stunting bukan satu-satunya masalah akibat kurang gizi kronis. Jika anak mengalami kekurangan asupan gizi dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi, tumbuh kembang anak akan terhambat. Kurang gizi punya korelasi positif terhadap IQ yang rendah, tinggi badan dan berat badan tidak sesuai grafik perkembangan, serta rentan terhadap penyakit. Jika tidak dilakukan intervensi serius, generasi berikut akan mengalami kemunduran kualitas hidup akibat kekurangan gizi.

Kekurangan gizi di Indonesia menjadi sedikit ironi di tengah obsesi pemerintah untuk melakukan swasembada pangan. Produksi pertanian yang terus digenjot—dan wacana Jokowi menargetkan Indonesia daulat pangan—ternyata tidak membuat masyarakat Indonesia bisa menikmati makanan bergizi dengan murah. Sejauh ini makanan bergizi, menurut WHO, menjadi persoalan di banyak negara karena aksesnya yang timpang dan mahal. Lantas bagaimana komitmen Indonesia terhadap kebutuhan gizi anak?

Bank Dunia menyebutkan kekurangan gizi pada anak bisa dimulai pada tahap awal hidupnya. Misal, sejak dalam kandungan ia mengalami kurang gizi, tubuh calon bayi akan mengalami penyesuaian agar mampu hidup dalam kondisi kurang gizi. Tubuh terprogram agar bisa beradaptasi dengan kurang gizi. Kelak, jika saat lahir gizi mudah diperoleh, tubuh si anak tadi rentan terhadap obesitas dan mudah terkena penyakit tidak menular seperti diabetes atau jantung.

WHO menyebut kekurangan gizi berkontribusi terhadap kematian satu dari tiga anak di dunia. Meski jarang tercatat sebagai penyebab utama, tetapi kurangnya akses terhadap makanan bernutrisi tinggi bisa membuat anak menjadi rentan akan kematian. Di banyak negara, makanan bergizi merupakan kemewahan. WHO secara khusus mengkritik negara-negara yang kurang memiliki komitmen untuk menyediakan makanan bergizi yang murah bagi warganya.

Makanan bergizi pada tahap awal tumbuh kembang anak bermula dari masa kandungan. Ibu hamil yang mengonsumsi makanan bergizi akan melahirkan anak yang sehat. Pada masa menyusui, memberikan ASI eksklusif adalah bentuk peningkatan gizi anak. Pada tahap selanjutnya memberi makanan yang salah atau minim menjamin anak mendapatkan makanan bernutrisi akan berkontribusi terhadap menurunnya kualitas tumbuh si anak. Akibat buruk dari kurang gizi akan membuat anak rentan terhadap infeksi seperti diare, pneumonia, cacar, dan malaria.



WHO pada 2010 memberikan buklet panduan perkembangan anak agar terhindar dari kekurangan gizi. Dalam Facts for Life, setiap anggota keluarga punya peran dalam perkembangan anak, yakni menjamin agar ibu yang mengandung dapat makanan bergizi dan saat melahirkan bisa memberikan ASI eksklusif. Sementara untuk kasus kelaparan dan kekurangan gizi ekstrem, WHO mengembangkan Ready-to-use Therapeutic Food (RUTF), metode pemanfaatan makanan untuk mengatasi malnutrisi akut.

RUTF merupakan makanan siap saji dalam bentuk pasta yang digunakan untuk memperbaiki kualitas gizi anak secara langsung. Bentuk makanan pasta ini bisa langsung dimakan tanpa campuran air. Tujuannya, jika ada daerah yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi akut dan susah akses air bersih, si anak dapat mengonsumsi makanan tersebut. RUTF menggandung susu tanpa lemak, vitamin, mineral, dan selai kacang. Makanan ini bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak dan anak yang kelaparan atau kekurangan gizi akut dapat mengonsumsinya secara langsung. Makanan ini sudah dikembangkan di Kongo, Etiopia, Malawi, dan Nigeria untuk mengatasi kasus kekurangan gizi ekstrem di negara itu.

Indonesia tentu tidak membutuhkan RUTF, tetapi bukan berarti kita bebas dari ancaman kekurangan gizi. Pada survei Riskesdas 2013, Indonesia diperkirakan memiliki delapan juta anak yang mengalami kekurangan gizi. Kurang gizi kronis dapat membuat perkembangan otak anak terhambat. Seorang anak yang tumbuh dalam malnutrisi dapat mengalami penurunan IQ sebesar lima sampai 11 poin. Ini berdampak pada daya tangkap dan daya pikir si anak. Anak kurang berkonsentrasi.

Penelitian Bank Dunia menyebut anak yang lahir dengan berat badan kurang dan malnutrisi berpeluang 2,6 kali lebih kecil untuk bisa lanjut ke pendidikan tinggi.

Lantas, apa sebenarnya penyebab beban ganda malnutrisi di Indonesia?

Studi Bank Dunia menyoroti beberapa faktor yang diperkirakan punya hubungan dengan kekurangan gizi. Pertama, meningkatnya usia harapan hidup berkontribusi terhadap perubahan pola penyakit dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Penyakit menular bisa diatasi dengan vaksinasi dan imunisasi, sementara penyakit tidak menular tergantung dari apa yang kita konsumsi.

Faktor kedua yang memengaruhi kekurangan gizi karena konsumsi lemak per kapita naik dua kali lipat. Makanan olahan juga dikonsumsi dengan tingkat lebih tinggi, khususnya di wilayah perkotaan. Makanan cepat saji dan junk food yang dikonsumsi anak membuat mereka tidak berkembang dengan baik. Faktor ketiga adalah kurangnya aktivitas fisik, selain tempat-tempat yang menyediakan makanan sehat terbatas.

Terakhir budaya dan tradisi memengaruhi gizi ibu hamil dan anak-anak, serta norma sosial membuat perempuan menikah saat masih muda. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap naiknya kasus kelahiran dengan berat badan kurang. Bank Dunia menyebut dampak beban ganda malnutrisi tidak hanya dialami individu. Tetapi berdampak pada ekonomi suatu negara: kerugian akibat stunting dan malnutrisi diperkirakan setara 2-3% PDB Indonesia.

Logikanya, semakin banyak penyakit dan kekurangan gizi, pemerintah akan terus melakukan pengeluaran dan jaminan kesehatan. Sejauh ini biaya tertinggi jaminan kesehatan nasional adalah untuk perawatan stroke, diabetes, dan gagal ginjal. Tentu penyakit ini tak sekadar karena kurang gizi, tapi juga pola makan yang tidak sehat. Saat ini penyakit tidak menular kini jadi penyebab 60 persen kematian di dunia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan masalah kesehatan anak ialah salah satu masalah utama sehingga harus jadi perhatian bersama karena sangat berpengaruh dan mengganggu tumbuh kembang anak.

Selain kurangnya asupan gizi, kesadaran akan pentingnya imunisasi, rendahnya derajat kualitas kesehatan anak, dan faktor penggunaan akses air bersih dan sanitasi yang baik di dalam rumah tangga masih menjadi penyebab anak kurang berkembang.

"Rendahnya kualitas kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya masalah ekonomi yakni tidak mampu memberi asupan gizi yang baik; kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang kesehatan yang benar; dan pentingnya memberikan hak kesehatan bagi anak," kata Lenny N. Rosalin, wakil bidang Tumbuh Kembang Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, seperti dikutip dari Antara.

Baca juga artikel terkait KEKURANGAN GIZI atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight