Menuju konten utama
Ismail Fahmi

"Kubu Prabowo Lebih Kuat dari Segi Kekuatan Real User"

Cebong vs kampret di Twitter: siapa yang mengungguli?

Ilustrasi Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit yang menganalisis percakapan di media sosial. tirto.id/Lugas

tirto.id - Serupa dengan Pemilihan Presiden 2014, media sosial menjadi arena pertarungan bagi kedua pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019.

Tiap kubu punya bala tentara siber masing-masing. Isinya bukan cuma manusia, robot juga ikut tempur. Selain mempromosikan kelayakan dan prestasi diri sendiri, menyerang kubu lawan juga menjadi salah satu strategi.

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit—mesin untuk menganalisis media sosial—mengamati dan menganalisis pertempuran kubu Prabowo dan Jokowi di media sosial. Berikut petikan wawancara Wan Ulfa Nur Zuhra dengan Ismail Fahmi soal strategi kedua capres yang tampak di media sosial.

Seperti apa pertarungan kedua kubu di media sosial pada Pilpres kali ini?

Desember lalu, aku bikin analisis, membandingkan kata kunci “Jokowi” dan “Prabowo” di media sosial. Kami membandingkan cyber troop-nya kayak apa. Dari situ ketahuan kira-kira strategi kontennya kayak apa.

Kalau pemberitaan, Jokowi lebih banyak disebut, karena dia kan petahana. Ada juga kecenderungan, beberapa media lebih condong ke Jokowi. Dan juga karena Prabowo enggak banyak kegiatan.

Kita lihat dari Jokowi dulu, ya. Di Twitter aja (10,8 juta pengikut per 14/1/2019), ada sekitar 1,5 juta total hubungan. Kita pengin lihat siapa sih yang bicara, nah ini ada klusternya. Inilah buzzer-buzzer yang utama, seperti akun @PakarLogika (30,9 ribu pengikut), yang besar-besar tuh ngumpul di satu titik.

Ini perbincangan soal Jokowi, ada kontribusi kubunya Prabowo. Kalau kita lihat, ini juga besar. Artinya dia juga berkontribusi terhadap besarnya percakapan tentang Jokowi.

Selain kubu Jokowi dan Prabowo yang meramaikan pembicaraan tentang ‘Jokowi’, ada juga bot-bot. Banyak sekali. Tiap kelompok bot, punya isunya sendiri. Ganti isu, botnya ganti lagi.

Yang saya lihat, di Jokowi, kelompoknya tuh banyak, dan mereka tidak saling mendukung sebenarnya.

Maksudnya tidak saling mendukung?

Mereka mempromosikan isu sendiri-sendiri. Jadi kalau yang lain lagi ngomongin isu apa, yang lainnya enggak mau nge-share.

Masing-masing ingin punya kontribusi sendiri, materi sendiri. Akibatnya, tweet-tweet-nya jadi tersebar, ada banyak, tapi terpecah-pecah.

Itu termasuk strategi kah?

Itu keadaan mereka, kondisi mereka. Kalau kita omong strategi, itu kan artinya direncanakan. Kalau ini, memang begitulah keadaan mereka.

Kenapa? Keadaannya, banyak kelompok dan grup yang ingin berkontribusi. Sehingga mereka punya agenda, materi, isu baru, itu mereka share. Mereka enggak mau saling nge-retweet. Sehingga, gambarannya terpencar.

Lalu strateginya bagaimana?

Kalau strateginya, dari sisi konten. Jadi tiap kali ada acaranya Jokowi--keberhasilan ini, keberhasilan itu--mereka langsung bikin materi. Misalnya Jokowi ke Lampung, pembukaan acara apa, buka tol, itu langsung materinya dibikin. Banyak sekali.

Kalau dulu (awal tahun 2018), jenis tweet-nya enggak banyak, tapi di-retweet berulang-ulang. Itu kelihatan robot banget.

Kalau sekarang, sejak akhir tahun 2018, mereka bikin cerita buanyak, disiapkan dulu tweet-nya, baru ini kemudian di-share sama si bot-bot.

Satu tweet mungkin sepuluh bot. Makanya percakapan Jokowi besar sekali, tetapi interaksinya kecil. Banyak yang nge-tweet tapi karena yang nge-tweet robot, yang enggak punya teman, jadi yang nge-retweet sedikit.

Strategi lain adalah menambah jumlah follower bot-bot. Follower bot-bot sekarang juga udah banyak. Dulu itu selalu kecil.

Sebelum Desember 2018 itu selalu aku kritik, follower-nya berjumlah 0, 3, sekarang udah enggak. Untuk memberi kesan bahwa itu bukan robot, follower-nya dibuat tinggi sampai 100 lebih.

Di kubu Prabowo seperti apa?

Ini percakapan soal Prabowo (3,49 juta pengikut per 14/1/2019). Dia cuma punya satu cluster. Dia juga pakai bot, tapi tidak sebanyak kubu Jokowi. Umumnya mereka ngumpul jadi satu, jadi lebih solid.

Interaction rate-nya Prabowo lebih tinggi?

Karena ini banyak human, sedikit robot, begitu nge-tweet, yang nge-retweet bisa banyak sekali. Jadi interaksinya tinggi. Rata-rata satu tweet, di-retweet dan reply 6,3 kali.

Kalau [kubu] Jokowi, satu tweet hanya di-retweet hanya 2,9 atau 3 kali lah.

Secara strategi, lebih efektif yang mana?

Kita bandingkan waktu mereka kampanye, #JKWTakutPaparkanMisiVisi dengan #PrabowoTakutTesNgaji. Ini benar-benar kampanye eksklusif antara kedua kubu.

‪#‎JKWTakutPaparkanMisiVisi‬ dipakai oleh kubu Prabowo, dan ‪#‎PrabowoTakutTesNgaji‬ dipakai kubu Jokowi. Dua hashtag ini tidak dipakai interchangeably [secara bergantian].

Dari pantauan dan analisis kami, Uji Ngaji mendapat respons lebih sedikit dibanding Visi Misi. Kami melihatnya dari interaction rate. Uji Ngaji hanya dapat 4,08, sedangkan Visi Misi 12,13.

Dari segi kekuatan real user, kubu Prabowo lebih besar daripada kubu Jokowi. Untuk mengimbangi itu, kubu Jokowi harus pakai bot. Dia harus main itu, kalau enggak, enggak ngejar. Akibatnya, interaction rate rendah.

Interaction rate ini persisnya menunjukkan apa?

Semakin tinggi interaction rate, semakin natural percakapannya. Semakin rendah interaction rate, semakin mendekati pola robot.

Jadi, kita lihat strategi dari sisi sibernya. Secara real akun, Prabowo lebih solid. Di Jokowi itu, bot-nya lebih banyak. Mereka memborbardir Twitter agar percakapan tentang satu hashtag naik.

Contohnya, #PrabowoTakutDebat. Kubu Jokowi bikin tweet yang begitu banyak, bahkan enggak dapat retweet. Lalu retweet-nya makin naik. Yang nge-retweet ini biasanya user real. Jadi awalnya bot dulu. Sampai terjadi trending. Ketika sudah di-notice dan banyak di-retweetreal user, bot-nya stop.

Itu caranya, robot dulu bikin tren, terus orang pada ngikut. Nah, ini strategi kubu Jokowi. Canggih. Menurut saya, canggih.

Canggihnya kenapa?

Dia punya duit, kan. Ini kan bayar, profesional. Hampir semua hashtag yang menguntungkan kubu Jokowi, strateginya begitu.

Sementara di kubu Prabowo, jarang aku temukan model-model begini. Karena mereka lebih banyak orang. Jadi kalau ada satu nge-tweet, mereka langsung naikin ramai-ramai. Lebih organik.

Kalau dari sisi konten, strategi keduanya seperti apa?

Jokowi bagus, banyak menyampaikan keberhasilan-keberhasilannya. Menyerang juga banyak. Banyak meme untuk keberhasilan tertentu.

Kadang ada percakapan yang enggak menarik. Isinya ya kayak berita saja. Nah, yang begitu akan sulit untuk viral. Biasanya mereka bikin meme, di-share lewat robot.

Kalau kubu Prabowo, secara konten bagaimana?

Kalau aku perhatikan, namanya penantang ya, dia belum punya keberhasilan seperti Jokowi yang tiap hari bisa jadi bahan. Paling isinya acara, kunjungan ini, dapat kunjungan ini. Mereka belum masuk ke konten yang menarik. Selebihnya ya mereka menyerang petahana.

Dari yang saya lihat, kubu Prabowo belum banyak bicara soal strategi, solusi apa yang mereka tawarkan atas kritik-kritik terhadap petahana. Nah, ini juga yang harus dikritik dari pasangan Prabowo-Sandiaga. Mereka belum banyak garap konten-konten solusi. Entah masih menunggu, atau enggak ada--ya aku enggak tahu.

Sudah mulai sih, misalnya meme Sandi akan melakukan apa. Tapi ya masih kurang, kontennya masih banyak berisi serangan saja.

Kalau dibandingkan Pilpres 2014, ada pola berbeda yang menonjol kah?

Tahun 2014 itu enggak imbang permainannya.

Tidak imbang bagaimana?

Kubu Jokowi sudah kuat sekali. Kalau dibandingkan 2014--itu belum imbang. Kekuatan media sosial yang paling kuat saat itu adalah kubu Jokowi, karena sebelumnya sudah ada JasMev. Lawannya, hanya segelintir kelompok kecil. Yang dominan itu masih TrioMacan, dan bot-bot yang dibuat TrioMacan. Pasukan kayak MCA belum terbentuk.

Paling melek soal media sosial waktu itu dari partai oposisi kan PKS. Tapi itu pun belum banyak. Jadi enggak imbang. Kekuatan di media sosial dimenangkan oleh Jokowi waktu itu. Sekarang malah berbalik.

Titik baliknya kapan?

Titik baliknya pas Ma’ruf jadi calon wakil presiden. Sebelumnya yang pro-Ahok banyak dan pasti mendukung Jokowi. Sejak Ma’ruf, yang pro Ahok mundur. Ada juga yang pro-Ahok ikut bantuin Jokowi, tapi kadang-kadang saya lihat dinyinyirin sama temen-temennya.

Kalau dari segi konten, tahun 2014 bagaimana?

Kalau 2014, Jokowi udah pengalaman sebelumnya di DKI Jakarta. Jokowi banyak cerita-cerita keberhasilan, kesederhanaan, blusukan, jadi waktu itu jualannya keren. Dan publik saat itu masih terpesona. Karena Jokowi ini adalah one of us. Kita belum melihat performanya memimpin negara bagaimana.

Strategi yang sekarang bukan lagi menyampaikan janji, tapi bukti. Kebanyakan yang disampaikan yang tampak, paling gampang kan infrastruktur. Masalah kualitas manusia enggak kelihatan.

Jadi, akun-akun organik dari Pilpres 2014 yang banyak mendukung Jokowi, sekarang berkurang?

Puncak pasukan yang mendukung Jokowi itu waktu Pilkada Jakarta. Harusnya bisa jadi modal untuk Pilpres. Tapi kemudian banyak pendukung yang kecewa dengan Nawacita dan janji-janji yang tidak ditepati. Lalu saat Ma’ruf Amin maju, banyak lagi yang kecewa dan enggak peduli lagi.

Dari kubu Prabowo bagaimana?

Kubu Prabowo kuat di media sosial sejak ada dukungan FPI. Juga sejak Aksi 212 tahun 2016. Yang tadinya FPI main di jalanan, terus main ke medsos.

Lalu, tahun 2016 akhir, akun Habib Rizieq dan FPI di take down oleh pemerintah. Ada instruksi jihad di akhir 2016, semua umat Islam harus main Twitter--itulah awal mula MCA [Muslim Cyber Army]. Munculnya akhir 2016.

Namanya muncul, diulang-ulang. Mereka solid banget. Sampai sekarang diikuti makin banyak orang. Makanya jadi kuat secara organik. Lalu mereka ke kubunya Prabowo sekarang.

Menggunakan banyak robot itu menguntungkan kah?

Iya. Itu strategi yang menguntungkan. Orang sekarang main narasi. Misal, mereka mau membesarkan narasi bahwa Prabowo takut debat. Mengkoordinir teman-temannya, yang mungkin sudah tercerai berai, itu akan susah.

Paling gampang apa? Bikin trending topic pakai bot. Cukup satu ruangan ini ditugasin untuk angkat isu tertentu. Masukin proposal, siapkan tweet, kira-kira ada 50 tweet disiapkan. Gampang. Masukin program, terus misalnya ada sekitar 100 robot yang langsung unggah.

Dengan kecepatan yang sangat tinggi, tweet atau hashtag tertentu akan jadi trending. Orang-orang, akun-akun riil, akan melihat dan mereka akan ikut nge-tweet atau nge-retweet.

Untung, sangat menguntungkan karena mudah. Tapi ya begitu, kekuatannya akhirnya kekuatan robot. Kekuatan kemampuan untuk memobilisasi akun-akun robot. Kalau dilihat dari volume, ya tinggi. Tapi ternyata yang bicara adalah robot.

Adakah trending-trending yang dibikin robot tetapi sampai memberi efek ke offline?

Ada. Contohnya kan #Boyolali. Habis Prabowo ngomong, percakapan dengan kata kunci Boyolali landai saja. Hari kedua, siang-siang, ada banyak akun robot yang tiba-tiba meramaikan lagi, tiba-tiba jadi trending lagi.

#SaveMukaBoyolali viral sekali waktu itu. Ketika orang-orang sudah terbawa, robotnya turun. Tetapi real user udah telanjur terbawa dengan hashtag ini. Sampai akhirnya banyak sekali orang Boyolali yang marah dan tersinggung. Lalu ada aksi segala dari orang-orang Boyolali.

Strateginya selalu begitu. Dan menurut saya memang sangat efektif untuk memulai menyebarkan sebuah cara pandang atau pesan yang kira-kira enggak bisa viral secara organik, tetapi kita ingin itu viral.

Sisi negatif dan kerugian pakai robot apa?

Negatifnya ... menipu diri sendiri. Misalkan, tim Jokowi sebagai klien melihat percakapan tentang Jokowi lebih tinggi dari Prabowo, mereka akan happy, merasa puas.

Padahal kalau di-break down, bisa jadi 50 persen yang ngomong adalah oposisi, dalam bentuk serangan. Dan 50 persen sisanya bisa jadi banyak bot juga. Jadi semu. Ini bahaya. Bisa jadi hasil riilnya nanti berbeda.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Wan Ulfa Nur Zuhra

tirto.id - Indepth
Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Fahri Salam