tirto.id - Kasus rombongan turis Israel yang kedapatan mencuri di Gili Meno, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), viral di internet. Rombongan berisi 20 perempuan berkebangsaan Israel dilaporkan telah mencuri toko milik warga Jerman di Lombok dan berujung pada penggeledahan. Berikut kronologinya.
Seturut laporan Ynet, peristiwa ini semula viral di Facebook, setelah seorang pemilik toko di Lombok mengunggah rekaman CCTV rombongan turis Israel itu. Unggahan itu kemudian memicu pengakuan serupa dari para pemilik toko yang lain.
Dalam rekaman itu, turis Israel kedapatan mengambil barang dagangan di toko itu. Aparat dilaporkan telah turun tangan dalam kasus ini dan melakukan penggeledahan berdasarkan bukti CCTV.
Akan tetapi, kendati bukti rekaman telah diberikan, kelompok turis Israel itu membantah tuduhan sembari menuding para pemilik toko telah mempermalukan mereka. Mereka juga mengeluhkan tindakan aparat yang disebutnya memperlakukan kasus ini sebagai kejahatan kelompok alih-alih individu.
“Orang-orang berdiri di pinggir sambil merekam kami layaknya sekumpulan monyet. Itu adalah pengalaman yang sangat memalukan, tak terlukiskan dengan kata-kata,” kata seorang anggota rombongan kepada Ynet.
Selain itu, rombongan itu juga mengaku telah dipaksa untuk membayar uang tebusan senilai Rp54 juta kepada pemilik toko. Laporan Ynet, uang itu diklaim sebagai imbalan “pemilik toko untuk menyelesaikan masalah tersebut”.
Kronologi Turis Israel Mencuri Dagangan di Lombok
Laporan Ynet menyebut kasus ini terjadi pada Jumat (23/10/2026). Kala itu sebuah rombongan turis Israel yang terdiri dari 20 orang wanita tengah berkunjung ke Gili Meno di Lombok Utara sebagai bagian dari liburan berjangka waktu dua minggu di Indonesia.
Pada hari itu, rombongan itu diantar seorang pemandu lokal beraksen Bali ke sebuah toko milik warga Jerman. Semula semuanya berjalan tanpa masalah.
Namun, beberapa jam setelahnya, warga Jerman pemilik toko tersebut menuduh rombongan tersebut telah mencuri cincin, parfum, dan pakaian renang. Ia lalu mengunggah rekaman CCTV yang menunjukkan aksi pencurian itu di grup para pemilik toko di Facebook.
“Pencuri. Jika ada yang melihat pengunjung ini, tolong tahan dia,” tulis keterangan pada unggahan tersebut.
Unggahan itu dengan cepat mendapat respons dari anggota grup lainnya. Para pemilik toko yang lain rupanya mengaku memiliki pengalaman serupa ketika rombongan tersebut mengunjungi toko mereka.
“Mereka mengambil beberapa barang dari butik kami tanpa membayar,” kata salah satu anggota grup.
Setelah viral di Facebook, warga Jerman pemilik toko kemudian melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian Indonesia. Mereka lalu menghampiri rombongan turis Israel ini ke hotel tempat mereka menginap dan melakukan penggeledahan.
Menurut klaim rombongan tersebut, pemilik toko kemudian meminta uang senilai 3.000 dolar AS atau sekitar Rp54 juta jika mau masalah ini dihentikan. Rombongan itu kemudian membayarnya dan mengklaim “kami tidak punya pilihan” karena “dipaksa membayar”.
Sementara itu, wanita yang dituduh melakukan pencurian berdasarkan rekaman CCTV membantah tuduhan tersebut. Ia menyangkal telah mencuri dan menganggap dirinya sebagai korban “main hakim sendiri”.
“Ini hanyalah konspirasi. Pemilik toko hanya ingin mencari uang, buktinya mereka menggeledah tas kami sampai berantakan dan tidak menemukan apa pun,” katanya.
Imbas hal ini, rombongan turis Israel itu kemudian pergi menaiki kapal feri dari Lombok menuju Bali pada Sabtu (24/10). Setelah itu, mereka bertolak kembali ke Israel pada Minggu (25/10).
Kedutaan Besar Israel di Singapura Turun Tangan
Peristiwa ini juga dilaporkan membuat Kedutaan Besar Israel di Singapura turun tangan. Mereka disebut intens berkomunikasi dengan rombongan tersebut selama digeledah polisi.
Pihak kedataan kemudian memberikan sejumlah saran, termasuk agar wanita yang diduga melakukan aksi pencurian untuk tetap berada di dalam hotel untuk sementara waktu.
Indonesia sejauh ini tidak pernah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini telah menjadi sikap Indonesia sejak pendirian negara Zionis itu sebagai bentuk solidaritas atas upaya kemerdekaan Palestina.
Hal itu sejatinya membuat perjalanan warga Israel ke Indonesia memiliki prosedur yang lebih sulit. Otoritas imigrasi Indonesia hanya akan memberikan izin masuk warga Israel melalui calling visa, yakni persetujuan lintas kementerian dan lembaga yang panjang. Hal ini membuat pemberian visa kepada warga Israel umumnya tergolong sebagai pemberian izin khusus.
Namun, turis Israel kerap menggunakan status kewarganegaraan ganda sebagai jalan masuk ke Indonesia. Mereka telah menggunakan paspor kewarganegaraan lain mereka untuk lolos pemeriksaan imigrasi di Indonesia.
Hal serupa juga diterapkan Israel terhadap warga negara Indonesia. Warga Indonesia yang hendak ke Israel juga diharuskan melalui mekanisme pengajuan izin yang lebih ketat dan panjang.
Pada pertengahan Oktober lalu, pesawat kargo Ethiopian Airlines dipaksa putar balik ketika hendak terbang ke Israel dari Etiopia. Otoritas Israel kala itu melarang pendaratan pesawat itu setelah mengetahui pilot pesawat adalah warga negara Indonesia.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































