tirto.id - Iran baru-baru ini kembali mengeluarkan ancaman baru terkait perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran menyebut bahwa mereka akan mulai menyerang fasilitas perminyakan dan teknologi di berbagai negara di Teluk jika AS kembali menyerang mereka.
Menukil The Guardian, ancaman tersebut diungkap oleh Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan mulai menjadikan fasilitas minyak, kabel bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) di tujuh negara di kawasan Teluk jika Iran kembali diserang.
"Jika terjadi perang, kabel-kabel, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan juga bisa menjadi sasaran. Jika konflik kembali pecah, kami akan menerapkan rencana yang lebih luas,” kata Rezaei kepada media lokal Iran.
Jika terjadi, maka hal ini akan menandai eskalasi perang yang lebih luas. Sejauh ini, Iran telah menargetkan fasilitas militer milik AS dan Israel di kawasan Teluk untuk melawan balik. Namun, dengan ancaman ini, jenis target serangan Iran akan meluas.
"Tidak boleh ada skenario di mana jalur kehidupan ekonomi Iran diserang, sementara arsitektur ekonomi yang memfasilitasi serangan tersebut tidak tersentuh,” lanjut Rezaei.
Ancaman ini diungkap Teheran di tengah spekulasi bahwa pertempuran dalam Perang AS-Israel melawan Iran berpotensi berlanjut. Media AS sebelumnya melaporkan bahwa para pejabat senior dan militer AS tengah menggodok rencana serangan baru yang berpotensi dilakukan sebelum maupun setelah pemilu sela pada November.
Di sisi lain, Mehdi Mohammadi selaku penasihat tokoh garis keras yang memimpin negosiasi Iran dengan AS, Mohammad Ghalibaf, menuding Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyepakati rencana serangan tersebut secara prinsip, namun tidak dapat menjamin keberhasilannya.
Mohammadi mengatakan rencana tersebut belum pasti terjadi. Namun, jika pada akhirnya betulan terjadi, ia mengancam Iran akan membuat skala perang jadi lebih luas dari sebelumnya.
"Kami akan mendobrak batasan waktu dan ruang dalam konflik ini. Perang akan berlangsung lebih lama dan mencakup wilayah geografis yang lebih luas daripada yang diperkirakan oleh pihak musuh,” katanya.
Ancaman dari pihak Iran ini juga terjadi bersamaan dengan latihan militer gabungan skala besar antara AS dan Israel. Laporan media Axios menyatakan puluhan pesawat tempur Israel diterbangkan mendekati perbatasan Iran pada awal pekan ini.
Pada Senin (19/10/2026), Benjamin Netanyahu dilaporkan telah bertemu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Israel. Pertemuan itu disebut telah digunakan keduanya untuk membahas waktu dan tujuan serangan gabungan, termasuk pengaruh politik serangan terhadap peluang Netanyahu untuk terpilih kembali sebagai perdana menteri.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan mulai bersiap untuk operasi militer lanjutan. Kantor berita Fars yang dekat dengan (Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menyatakan bahwa Teheran telah mengeluarkan instruksi baru kepada berbagai unit militer dan operasionalnya. Instruksi itu disebut memuat ketetapan “bahwa jika terjadi perang luas yang baru—yang melibatkan pembunuhan pejabat Iran serta jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil—maka respons Iran tidak akan terbatas pada target militer saja, melainkan juga mencakup target-target politik.”
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































