tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengumumkan dukungannya kepada Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk mengarungi pemilu di Israel pada akhir Oktober 2026. Para analis menilai dukungan ini juga dapat dimaknai sebagai sinyal politis terhadap potensi akhir perang kedua negara itu melawan Iran.
Dukungan Trump kepada Netanyahu itu diumumkan pada Minggu (18/10/2026). Melalui media sosial miliknya, Trump menyanjung kinerja Netanyahu selaku PM dan mendorong warga Israel untuk mewujudkan periode pemerintahan Netanyahu ke-7.
“Bibi Netanyahu telah kuat, berani, dan brilian dalam menghadapi oposisi yang luar biasa, termasuk yang datang dari Israel sendiri. Terlepas dari semua itu, dia telah bertahan,” tulis Trump.
Dalam pesan dukungan itu, Trump juga menyanjung Netanyahu sebagai sekutu yang selama ini diperlukan oleh AS. Hal itu diungkap kendati hubungan kedua pemimpin negara itu dilaporkan beberapa kali mengalami ketegangan sepanjang tahun ini.
“Mohon izinkan surat ini untuk mewakili dukungan penuh dan total saya kepada Bibi Netanyahu dalam pemilihan kembali sebagai Perdana Menteri Israel. BIBI NETANYAHU TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN ANDA!” tulis Trump.
Seturut Al Jazeera, para analis menilai pesan dukungan ini dapat dibaca sebagai sinyal yang berpotensi memengaruhi kelanjutan perang AS-Israel melawan Iran. Perang yang berlangsung sejak Februari 2026 itu kini terus mengalami kebuntuan. Dukungan Trump kepada Netanyahu tampaknya tak meredakan hal itu.
Sinyal Ketegangan AS-Israel Mereda
Menurut Sanam Vakil, direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara pada lembaga think tank Chatham House, menyebut dukungan Trump kepada Netanyahu dapat dilihat sebagai sinyal meredanya ketegangan antara kedua pemimpin negara tersebut. Hal ini berpotensi berpengaruh terhadap perang.
Perang AS-Israel melawan Iran sebelumnya pecah setelah dua negara sekutu itu melancarkan serangan yang meluas di Iran pada 28 Februari lalu. AS menjelaskan serangan itu sebagai operasi pencegahan yang didasarkan pada klaim Israel bahwa Iran tinggal satu langkah lagi untuk mendapatkan senjata nuklir.
Sejak itu, pertempuran berlangsung dan membuat jalur distribusi energi dari Asia Barat terganggu, memicu kenaikan harga minyak mentah yang dirasakan seluruh negara di dunia.
Namun, seiring berlangsungnya pertempuran, hubungan Trump dan Netanyahu dilaporkan beberapa kali mengalami ketegangan. Media-media AS melaporkan bahwa ketegangan itu dipicu oleh perbedaan visi dan pendekatan keduanya atas perang yang berlangsung.
Netanyahu disebut berulang kali mendorong dilanjutkannya operasi pemboman di Iran. Adapun Trump lebih memaksa Teheran lewat sanksi dan tekanan ekonomi.
Dalam keterangannya untuk Al Jazeera, Sanam Vakil menyebut dukungan Trump terhadap Netanyahu baru-baru ini dapat dibaca sebagai sinyal adanya penyelarasan politik antara keduanya. Hal itu juga berpotensi membuka kembali opsi aksi militer gabungan AS-Israel di masa depan.
Terlebih, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membuat pernyataan pada Minggu lalu bahwa Netanyahu masih terus mendorong AS untuk kembali memulai serangan ke Iran. Melalui akun X miliknya, Araghchi menuduh Netanyahu berniat menjadikan serangan ke Iran sebagai jalan untuk mencegahnya masuk penjara.
“Netanyahu mendorong Amerika ke dalam perang lain untuk menghindari penjara, apa pun konsekuensinya bagi Israel — apalagi bagi Presiden AS,” tambahnya.
Media-media AS juga belakangan melaporkan bahwa militer AS kini tengah merancang operasi militer baru ke Iran. Laporan CNN, misalnya, menyebut operasi itu melibatkan penggunaan bom non-nuklir terbesar milik AS dan berpotensi dilakukan baik sebelum maupun setelah pemilu sela di AS.
Meski begitu, Sanim Vakil menyebut dukungan Trump kepada Netanyahu “tidak serta merta berarti bahwa kedua pemimpin negara itu telah menyetujui operasi” militer gabungan baru. Hanya saja, potensi untuk melakukan hal itu jadi makin terbuka.
Sementara itu, di sisi lain, Vakil mengatakan dukungan itu juga berpotensi membuat upaya penghentian perang melalui diplomasi tersendat. Hal ini dikarenakan, Teheran kini berpotensi menilai bahwa “tidak ada perbedaan berarti antara tujuan AS dan Israel” terhadap perang yang berlangsung.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































