Menuju konten utama

Sosok Gadi Eisenkot, Musuh Netanyahu di Pemilu & Arah Politiknya

Gadi Eisenkot digadang menjadi musuh utama Benjamin Netanyahu untuk mendapatkan jabatan perdana menteri Israel berikutnya. Simak profilnya.

Sosok Gadi Eisenkot, Musuh Netanyahu di Pemilu & Arah Politiknya
Mantan kepala staf tentara Israel, Gadi Eizenkot, berbicara dalam peluncuran kampanye pemilihan partai Yashar di Hod HaSharon, Israel tengah, pada 30 Juni 2026. foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Politisi Israel, Gadi Eisenkot, belakangan menyita perhatian publik setelah digadang-gadang jadi sosok yang mampu menyaingi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilu. Ia disebut memiliki peluang untuk mengakhiri periode panjang Netanyahu jadi pemimpin negara Zionis itu. Namun, bagaimana latar belakangnya dan seperti apa rupa arah politiknya?

Pada Selasa (27/10/2026), Israel menggelar pemilu parlemen mereka. Hasil pemilu itu akan jadi penentu apakah legitimasi Netanyahu sebagai PM di sana dapat bertahan atau justru berakhir.

Seperti dalam pemilu-pemilu sebelumnya, Netanyahu telah bertaruh pada kemenangan koalisi partai sayap kanan ekstrem dan ultra-ortodoks yang dipimpin partainya, Likud. Namun, kali ini pemilu Israel digelar di tengah popularitas Netanyahu yang menurun.

Kebijakan Netanyahu terhadap Gaza dan Tepi Barat yang diduduki di Palestina dalam tiga tahun terakhir, juga bagaimana pemerintahannya melakukan perang melawan Iran, telah menjadikannya semakin tidak populer. Kecaman internasional ke Israel atas topik-topik tersebut turut berpengaruh pada dinamika politik dalam negeri wilayah itu.

Di tengah situasi tersebut, Gadi Eisenkot muncul sebagai tokoh oposisi Netanyahu. Mantan petinggi militer Israel ini telah membangun pengaruh politik yang berpotensi mengubah struktur kekuasaan di wilayah itu.

Eisenkot dikampanyekan sebagai sosok yang berbeda dari Netanyahu. Banyak outlet berita internasional menganggapnya sebagai politisi yang lebih moderat dan mampu membawa angin segar pada stabilitas kawasan. Benarkah demikian?

Profil Gadi Eisenkot dan Arah Politiknya

Menukil CNN, Eisenkot merupakan politisi baru dalam lanskap politik Israel. Ia terbilang baru jadi politisi setelah karier panjangnya di Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Karier militer Eisenkot mencapai puncaknya pada 2015 hingga 2019 lalu ketika ia menjabat kepala staf militer di bawah pemerintahan Netanyahu. Jabatan itu didapat Eisenkot setelah lebih dari tiga dekade meniti karier di IDF.

Setelah pensiun dari militer, Eisenkot lalu menjadi politisi pada 2022. Kala itu ia bergabung dengan aliansi Persatuan Nasional Israel pimpinan Benny Gantz dan menjadi anggota parlemen melaluinya.

Serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 kemudian mengubah arah politik Eisenkot. Peristiwa itu sempat membuat Eisenkot bergabung dalam kabinet perang darurat bentukan Netanyahu untuk memerangi Hamas.

Akan tetapi, kabinet ini justru jadi titik balik hubungan Eisenkot dengan Netanyahu. Pada 2024, Eisenkot mengundurkan diri dari kabinet darurat, menyebut ketidaksepahaman strategi politik dan militer sebagai alasannya.

CNN melaporkan, Eisenkot tidak sepakat dengan pendekatan Netanyahu terhadap konflik melawan Hamas di Gaza. Ia menuding Netanyahu sengaja memperpanjang konflik dan membahayakan para sandera demi kepentingan politik.

Hal itu kemudian membuat Eisenkot mendirikan Partai Yashar pada 2025. Partai ini menjadi kendaraan politiknya untuk menggoyahkan pengaruh Netanyahu dalam politik Israel.

Setahun terakhir, ia juga digambarkan sebagai sosok yang berlainan dengan Netanyahu. Salah satu yang paling kontras adalah latar belakangnya.

Jika Netanyahu digambarkan banyak pihak sebagai politisi yang lahir dari komunitas elite politik Israel, Eisenkot justru sebaliknya. Ia digambarkan seorang Yahudi-Mizrahi, kelompok Yahudi beretnis Timur Tengah dan Afrika yang jarang mendapat posisi politik yang setara dengan kelompok Yahudi-Eropa.

Latar belakangnya sebagai seorang Yahudi-Mizrahi itu sebenarnya jarang digunakan Eisenkot untuk berkampanye. Namun, para analis menilai hal ini jadi salah satu faktor yang membuat dukungan kepadanya berkembang. Israel selama ini tak pernah memiliki pejabat PM dari kelompok etnis itu dan Eisenkot berpotensi jadi yang pertama dalam sejarah.

Sementara itu, janji kampanye Eisenkot sejauh ini berfokus pada isu domestik dan akuntabilitas. Terkait akuntabilitas, Eisenkot membangun reputasi sebagai sosok yang mengedepankan hal itu sejak masih menjabat petinggi militer.

Pada 2016, ketika ia masih jadi kepala staf militer, Eisenkot mendukung penyelidikan dan pengadilan militer terhadap Elor Azaria, tentara Israel yang menembak penyerang Palestina yang terluka hingga tewas di Hebron. Eisenkot kala itu mendukung penindakan hukum atas peristiwa itu dengan alasan membela disiplin dan etika militer, ketika Netanyahu bersikap sebaliknya.

Hal serupa juga tampak dalam janji kampanyenya kini. Jelang pemilu pada Selasa, Eisenkot menjanjikan pembentukan komisi penyelidikan negara untuk mengusut kegagalan Israel dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Langkah ini merupakan hal yang berkebalikan dengan Netanyahu yang terus menolak ide tersebut.

Masih terkait akuntabilitas, ia juga telah membuat janji untuk menindak tegas para pemukim Israel pelaku penyerangan di Tepi Barat yang diduduki. Ia menyebut para pemukim itu sebagai “teroris Yahudi”, sembari menuduh pemerintahan saat ini telah bertindak membatasi ruang gerak aparat keamanan untuk menindak mereka.

Selain itu, perbedaannya dengan Netanyahu juga terletak dari caranya membangun pengaruh politik di Israel. Berbeda dengan Netanyahu, Eisenkot membangun dukungan melalui kerja sama dengan partai-partai kiri, kanan, dan tengah. Dalam beberapa skenario, hal ini memungkinkan potensi koalisi pemerintahan dengan partai-partai Arab.

Hal itu berbeda dengan Netanyahu yang terus bergantung pada koalisi sayap kanan ekstrem dan ultra-ortodoks. Koalisi ini telah berulang kali menolak ide kerja sama dengan partai-partai etnis Arab dan mendelegitimasi potensi tersebut seiring waktu.

Eisenkot juga digambarkan sebagai sosok politisi Israel yang memandang upaya diplomasi sebagai hal yang penting untuk dibarengi bersama operasi militer. Hal ini menjadi salah satu kritik utama Eisenkot terhadap Netanyahu.

Akan tetapi, kendati penggambaran sosok Eisenkot yang berbeda dari Netanyahu, namun eks petinggi IDF itu dinilai punya kesamaan dengan lawan politiknya itu dalam hal terkait Palestina. Eisenkot juga menjadi politisi Israel yang menolak solusi dua negara.

Dalam salah satu wawancara terbarunya, Eisenkot menyebut siapa pun yang masih mendukung solusi dua negara atas konflik Palestina-Israel adalah pihak yang “berkhayal”.

Ia berjanji untuk mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza dalam 18 bulan jika ia terpilih. Hal ini, katanya, akan ia raih baik melalui penerapan gencatan senjata ala Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ataupun “operasi militer kreatif”.

Selama menjabat sebagai petinggi militer Israel, Eisenkot juga digambarkan sebagai salah satu yang berhaluan keras.

Ia telah lama dikaitkan dengan “Doktrin Dahiyeh”, doktrin militer untuk menggunakan kekuatan yang sangat besar untuk menargetkan infrastruktur sipil demi mencegah serangan militer di masa depan. Ia juga disebut mendukung penggunaan operasi intelijen untuk melemahkan kemampuan musuh tanpa memicu konflik berskala penuh.

Doktrin serangan berskala penuh dengan klaim pencegahan selama ini telah digunakan Israel dalam menjalankan berbagai operasi militer mereka. Mereka menggunakan klaim itu dalam memecah perang melawan Iran pada Februari lalu. Mereka juga menggunakannya dalam operasi genosida yang telah membunuh lebih dari 74.000 orang di Gaza.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar