tirto.id - Arab Saudi dilaporkan menolak permintaan Israel untuk ikut terlibat dalam operasi militer melawan kelompok Houthi. Penolakan Arab Saudi ini disampaikan secara tegas oleh Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) meskipun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri yang disebut berupaya mendapatkan persetujuan Riyadh melalui perantara Amerika Serikat. Apa alasannya?
Penolakan tersebut terjadi ketika serangan Houthi dilaporkan semakin mengancam keamanan Arab Saudi, termasuk keselamatan warga sipil, penumpang pesawat, dan jemaah umrah yang hendak menuju Makkah.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan ratusan orang terluka. Di tengah situasi itu, sejumlah ulama, mufti, dan pemimpin lembaga Islam dari berbagai negara menyampaikan kecaman terhadap serangan Houthi serta menyatakan dukungan kepada Arab Saudi.
Saudi Tolak Bantuan Militer Israel untuk Lawan Houthi
Menurut laporan Haaretz yang mengutip sumber diplomatik anonim pada Senin, 13 Oktober 2026, Netanyahu berupaya memperoleh izin Arab Saudi agar Israel dapat menyerang sasaran-sasaran Houthi di Yaman. Upaya tersebut disebut dilakukan melalui perantara Amerika Serikat.
Israel berharap keterlibatan militernya bersama Arab Saudi dapat memperkuat hubungan bilateral sekaligus menjadi langkah awal menuju kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik.
Namun, Mohammed bin Salman dilaporkan tidak bersedia memberikan persetujuan tersebut. Sumber yang dikutip Haaretz menyebut putra mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi itu khawatir keterlibatan Israel dalam perang melawan Houthi akan mendapat respons negatif dari masyarakat Saudi.
Arab Saudi dan Israel sendiri belum memiliki hubungan diplomatik resmi. Pemerintah Saudi berulang kali menyatakan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel bergantung pada penyelesaian persoalan Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina.
PM Netanyahu sendiri disebut ingin memperluas hubungan Israel dengan negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi. Akan tetapi, sikap pemerintahannya terhadap pembentukan negara Palestina menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya normalisasi tersebut.
Para Pemimpin Islam Kutuk Houthi atas Serangan yang Ancam Jemaah Umrah dan Lainnya
Di tengah meningkatnya serangan Houthi, dukungan terhadap Arab Saudi datang dari sejumlah tokoh agama dan pemimpin lembaga Islam di berbagai negara. Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, Abdullatif Al-Asheikh, dilaporkan menerima pesan dukungan dari 176 menteri, ulama, mufti, serta pimpinan lembaga Islam dari lebih dari 70 negara.
Pesan-pesan tersebut mengecam serangan Houthi yang menyasar wilayah Saudi, termasuk serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Para tokoh tersebut menilai serangan terhadap bandara dan fasilitas sipil membahayakan keselamatan masyarakat, penumpang pesawat, serta jemaah yang sedang melakukan perjalanan ibadah. Mereka juga menyoroti risiko terhadap keamanan dua kota suci umat Islam, yakni Makkah dan Madinah.
Dalam pernyataan yang dilaporkan Arab News pada 12 Oktober 2026, para tokoh Islam itu menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah Arab Saudi untuk menjaga kedaulatan wilayah, keamanan, dan stabilitas negara.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah jatuhnya korban dari kalangan jemaah umrah. Ulama asal Bangladesh, Nasrullah Al-Badr, dilaporkan tewas ketika sedang dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah umrah di Makkah.
Ia disebut mengenakan kain ihram berwarna putih saat menjadi korban serangan tersebut. Kabar ini menambah kekhawatiran mengenai keselamatan orang-orang yang melakukan perjalanan ke Tanah Suci, terutama ketika fasilitas transportasi udara ikut menjadi sasaran serangan.
Para tokoh Islam yang menyampaikan kecaman menilai serangan terhadap fasilitas sipil tidak hanya mengancam nyawa manusia, tetapi juga berpotensi menghambat umat Islam menjalankan ibadah.
Bandara merupakan jalur penting bagi jemaah dari berbagai negara yang hendak menuju Arab Saudi, sehingga gangguan keamanan di fasilitas tersebut dapat berdampak pada perjalanan dan keselamatan penumpang.
Mufti Agung Arab Saudi sekaligus Ketua Dewan Ulama Senior, Saleh bin Fawzan bin Abdullah Al-Fawzan, turut mengecam serangan Houthi. Ia menilai tindakan yang membahayakan masyarakat dan mengancam tempat-tempat suci umat Islam merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai agama.
“(Serangan-serangan tersebut adalah) salah satu kejahatan terbesar yang diancam dengan siksaan pedih oleh Allah Yang Maha Kuasa." ucapnya dikutip Arab News (13/10/2026).
Al-Fawzan juga menyampaikan doa agar Arab Saudi dan negara-negara Muslim dilindungi dari serangan serta kekerasan.
Kecaman serupa sebelumnya juga disampaikan Liga Muslim Dunia. Pada 8 Oktober 2026, Sekretaris Jenderalnya, Mohammed Al-Issa, mengutuk serangan Houthi terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Organisasi tersebut menyatakan solidaritas kepada Arab Saudi dan mendukung langkah yang diambil untuk melindungi keamanan warga serta penduduk yang tinggal di negara itu.
Kecaman terhadap serangan Houthi tidak hanya datang dari para pemimpin agama. Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Turki juga menyampaikan kecaman bersama atas serangan yang menargetkan wilayah Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid.
Dalam pernyataan pada 12 Oktober 2026, keempat negara tersebut menyebut serangan itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan Arab Saudi, keselamatan warga sipil, serta stabilitas kawasan. Mereka meminta serangan dihentikan tanpa syarat dan menyatakan dukungan terhadap langkah-langkah yang sah untuk melindungi keamanan kerajaan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































