Menuju konten utama

Netanyahu Menang atau Kalah di Pemilu Israel 2026?

Hasil sementara pemilu Israel 2026 menunjukkan Likud unggul, tetapi blok Netanyahu belum meraih mayoritas. Simak proyeksi kursi dan peluang koalisi.

Netanyahu Menang atau Kalah di Pemilu Israel 2026?
Kolase Foto Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot. foto/AFP/AP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hasil sementara pemilu Israel menunjukkan Likud, partai Benjamin Netanyahu unggul dalam perolehan suara dan proyeksi kursi parlemen. Meski begitu, Netanyahu belum bisa dipastikan menang ataupun kalah dalam perebutan kekuasaan.

Koalisi pendukung perdana menteri tersebut belum mencapai mayoritas yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Hasil penghitungan suara sementara dan exit poll menunjukkan, persaingan ketat antara blok Netanyahu dan kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel.

Pemilu yang digelar pada Selasa (27/10/2026) itu menjadi ujian politik bagi Netanyahu, yang telah lama memimpin Israel dan menghadapi kritik terkait kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, perang berkepanjangan, serta kebijakan wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks.

“Blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak. Ini adalah keruntuhan total. Publik telah meminta mereka untuk pergi,” ujar tokoh oposisi lainnya yang juga mantan perdana menteri, Yair Lapid dikutip The Guardian, Rabu (28/10/2026).

Menurut AP News, hasil jajak pendapat saat pemilih keluar dari tempat pemungutan suara, menunjukkan penurunan dukungan terhadap partai-partai ultra-Ortodoks.

Hasil Quick Count Pemilu Israel 2026

Berdasarkan data sementara yang dilaporkan Anadolu Agency, Rabu(28/10/2026) dari penghitungan sekitar 49,7 persen suara, blok pendukung Netanyahu diproyeksikan memperoleh 56 kursi di Knesset dari 120 kursi yang diperebutkan.

Blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 49 kursi, sedangkan partai-partai yang didominasi kelompok Arab diproyeksikan memperoleh 15 kursi.

Secara perolehan partai, Likud yang dipimpin Netanyahu tercatat unggul dengan proyeksi 27 kursi, disusul Partai Yashar pimpinan Eisenkot dengan 21 kursi.

Namun, kemenangan Likud sebagai partai dengan perolehan kursi terbanyak tidak otomatis menjamin Netanyahu kembali menjadi perdana menteri. Dalam sistem parlementer Israel, pemerintahan harus dibentuk melalui koalisi yang memiliki dukungan mayoritas anggota Knesset.

Kunci penentuan pemenang pemilu Israel bukan hanya partai yang memperoleh suara terbanyak, melainkan kemampuan membentuk koalisi pemerintahan. Knesset memiliki 120 kursi, sehingga sebuah koalisi membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk menguasai mayoritas parlemen.

Dengan proyeksi 56 kursi, blok Netanyahu masih kekurangan lima kursi untuk mencapai mayoritas. Blok oposisi yang dipimpin Eisenkot, dengan proyeksi 49 kursi, juga belum dapat membentuk pemerintahan sendiri. Kedua kubu harus mencari dukungan dari partai lain untuk memastikan calon perdana menteri mereka dapat memimpin pemerintahan.

Situasi tersebut membuat pemilu kali ini belum menghasilkan pemenang yang jelas. Meski Likud unggul sebagai partai tunggal, dukungan terhadap koalisi kanan dan kelompok religius yang selama ini menopang pemerintahan Netanyahu diperkirakan melemah dibandingkan parlemen sebelumnya.

Partai-partai yang didominasi warga Arab menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan pemerintahan Israel berikutnya. Berdasarkan proyeksi dalam penghitungan sementara, kelompok tersebut diperkirakan memperoleh 15 kursi. Jumlah itu berpotensi menjadi penentu apabila salah satu blok utama berhasil memperoleh dukungan mereka.

Secara matematis, blok oposisi Eisenkot yang memiliki proyeksi 49 kursi dapat mencapai 64 kursi apabila memperoleh dukungan dari seluruh 15 anggota parlemen yang diproyeksikan berasal dari partai-partai Arab. Jumlah tersebut melampaui ambang mayoritas 61 kursi.

Namun, dukungan itu belum tentu terwujud dalam kesepakatan politik. Netanyahu secara terbuka menolak membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab. Di sisi lain, Eisenkot menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bekerja sama dengan mereka dengan persyaratan tertentu.

Pemilu Israel

Pemilu Israel. foto/Reuters/Nir Keidar / Anadolu

Pemilu Menjadi Ujian bagi Kepemimpinan Netanyahu

Pemilu 2026 menjadi ujian politik bagi Netanyahu, perdana menteri yang paling lama menjabat dalam sejarah Israel. Hasil pemungutan suara mencerminkan penilaian masyarakat terhadap kepemimpinannya, terutama setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang berlangsung sesudahnya.

Serangan Hamas tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan 251 orang disandera. Peristiwa itu menjadi salah satu isu utama dalam kampanye pemilu, khususnya mengenai kegagalan sistem keamanan Israel dalam mengantisipasi serangan.

Netanyahu menghadapi kritik karena menolak pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan pada 7 Oktober. Pihak oposisi menilai pemerintahannya harus bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Sebaliknya, pendukung Netanyahu berpendapat bahwa ia telah memimpin Israel melewati situasi keamanan yang sulit dan mencapai sejumlah keberhasilan militer.

Selain persoalan keamanan, pemilu juga dipengaruhi perdebatan mengenai pengecualian wajib militer bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks. Kebijakan tersebut telah lama menjadi bagian dari kesepakatan politik antara Netanyahu dan partai-partai religius yang mendukung pemerintahannya.

Di tengah perang berkepanjangan dan meningkatnya beban militer, kebijakan pengecualian tersebut semakin dipersoalkan. Eisenkot berjanji mengakhiri pengecualian de facto bagi kelompok ultra-Ortodoks, sedangkan partai-partai religius yang selama ini mendukung Netanyahu berupaya mempertahankannya.

Baca juga artikel terkait PEMILU atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Reporter: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra