Kontroversi Skuter Listrik: Dibutuhkan sekaligus Digugat

Pengguna Grab Wheels atau skuter listrik melintasi trotoar di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (13/11/2019). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Faisal Irfani - 18 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Di luar Indonesia, skuter elektronik menjadi bahan perdebatan yang serius.
tirto.id - Tewasnya dua pengendara GrabWheels pada Minggu (10/11) kemarin telah membuka diskusi lebih luas ihwal sejauh mana skuter listrik diatur. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan regulasi tentang skuter listrik akan keluar tahun ini.

Dalam regulasi yang nantinya dituangkan lewat bentuk peraturan gubernur (pergub) itu, rencananya skuter listrik hanya diperbolehkan melintas di jalur sepeda. Pergub juga bakal mengatur jam operasional skuter.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menyambut baik aturan tersebut. Ia bahkan menganjurkan kepada daerah lain untuk mengikuti langkah DKI Jakarta.


Untung Besar Layanan Micro-Mobility

Skuter elektrik merupakan salah satu alat transportasi berbasis teknologi kiwari yang termasuk dalam bagian micro-mobility. Sejak 2015, menurut laporan firma riset pasar McKinsey, investasi yang dikeluarkan untuk mengembangkan produk micro-mobility mencapai $5,7 miliar.

Ada dua faktor yang menyebabkan mengapa micro-mobility berekspansi begitu cepat. Pertama, produk dari micro-mobility—seperti skuter elektrik sampai layanan ride-sharing—memudahkan aktivitas masyarakat, terutama yang tinggal di kota-kota urban. Kedua, micro-mobility dinilai berpotensi menghasilkan keuntungan besar.

Potensi pasar micro-mobility memang tak main-main. Pada 2030 nanti, micro-mobility diprediksi bernilai $200-$300 miliar di Amerika Serikat, $100-$100 miliar di Eropa, dan $30-$50 miliar di Cina. Produk skuter elektronik, menurut Boston Consulting Group, diperkirakan menyumbang $40-$50 miliar (2025).

Salah satu pemain yang menonjol dalam bisnis skuter elektronik ialah Bird, perusahaan micro-mobility asal Santa Monica, California, AS.

Ide skuter elektronik yang dibikin Bird bermula dari ketertarikan putri Travis VanderZanden, pendiri Bird sekaligus mantan petinggi Uber, terhadap skuter konvensional, demikian tulis Will Yakowicz dalam “14 Months, 120 Cities, $2 Billion: There's Never Been a Company Like Bird. Is the World Ready?” yang terbit di Inc (2019).

Kesukaan sang putri akan skuter lantas memunculkan inspirasi bagi VanderZander: Bagaimana bila skuter dilengkapi dengan mesin sehingga orang-orang dewasa bisa mengendarainya secara mudah?

Tak lama kemudian, VanderZander memesan beberapa skuter listrik yang dibikin oleh Alibaba, pabrikan asal Cina. Ia terus memesan sampai akhirnya ia terkesima dengan produk Xiaomi M365 yang, menurutnya, “seperti dibuat oleh Steve Jobs.”

Pada April 2017, berbekal modal $3 juta, Bird meluncurkan skuter listriknya. Ada sekitar 10 buah skuter yang dilepas Bird saat itu. Namun, perkembangannya sangat tak terduga. Dalam beberapa hari, skuter Bird menjadi viral. Di jalanan sampai pinggir pantai, orang-orang dengan begitu antusias memakai skuter Bird.

Kemudahan yang ditawarkan menjadi salah satu faktor penting mengapa Bird cepat mengambil hati masyarakat Santa Monica. Anda hanya butuh memasang aplikasi Bird di gawai untuk menyewa skuter yang ada. Biayanya pun murah: satu dolar—tergantung kota. Ketika sudah selesai memakai, Anda tak perlu repot memikirkan bagaimana mengembalikannya: taruh di mana saja sesuka Anda.

Seiring dengan meningkatnya popularitas, kekacauan juga segera muncul mengiringinya. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan pengguna skuter hingga pelanggaran hukum [mengendarai di trotoar]. Pihak Bird sampai harus membayar $300 ribu guna menyelesaikan tuntutan atas sembilan kasus pidana yang menyertakan nama mereka.

Di media sosial, penolakan terhadap skuter Bird turut terdengar nyaring. Akun Instagram bernama @BirdGraveyard, misalnya, memuat banyak foto yang menggambarkan skuter-skuter itu dibakar, dilempar dari atap, hingga dilindas truk.

Meski demikian, hal tersebut nyatanya tak menghentikan laju Bird sebagai pemain utama skuter elektronik. Sekitar 14 bulan sejak pertama kali diluncurkan, Bird telah berhasil mengumpulkan pendapatan tahunan sebesar $100 juta. Nilai valuasinya pun turut melonjak hingga menyentuh angka $2 miliar.

“Bird adalah contoh klasik dari sebuah startup yang terlihat seperti mainan dan orang-orang begitu mudah meremehkan maupun mengabaikannya,” terang David Sacks, seorang eksekutif PayPal yang juga jadi investor di Bird. “Ini merupakan transportasi murah dan cocok untuk kota-kota [besar].”

Tak sekadar untung besar, Bird juga mampu melebarkan sayap bisnisnya ke lebih dari 120 kota di seluruh dunia. Dari kota-kota kecil macam Arkansas sampai yang besar seperti Paris maupun Tel Aviv. Bila ditotal, Bird memiliki 10 juta skuter yang tersebar di kota-kota itu.

“Misi kami sangat kuat: menghilangkan mobil dari jalan, mengurangi kemacetan, sampai emisi karbon,” tegas VanderZanden. “Setiap kota di dunia bisa memperoleh manfaat dari itu.”


Ditolak karena Faktor Keamanan

Pencapaian Bird mendorong perusahaan lainnya untuk mengambil langkah yang sama. Pasar skuter elektronik di ranah global pun diramaikan dengan nama-nama seperti Lime, Jump, Lyft, Spin, Razor, Skip, Scoot, Yellow, hingga Taxify.

Banyaknya pemain skuter elektronik menjadi respons atas naiknya permintaan masyarakat akan alat transportasi ini. Pasalnya, skuter elektronik dinilai bisa mengurai sengkarut kemacetan yang ada di kota-kota besar. Selain itu, skuter praktis digunakan serta dipandang lebih ramah lingkungan.

Data dari National Association of City Transportation Officials (NACTO), LSM yang berfokus pada isu transportasi, menyebut sebanyak 38,5 juta perjalanan memakai skuter tercipta sepanjang 2017 di 100 kota di Amerika. Jumlahnya melonjak lebih dari dua kali lipat setahun kemudian—84 juta.

Namun, perjalanan skuter elektronik tak selamanya mudah. Penolakan muncul di mana-mana karena penggunaan yang tak tepat sehingga memunculkan banyak kecelakaan maupun rusaknya fasilitas publik. Laporan Consumer Reports, sebagaimana diberitakan Bloomberg, memperlihatkan bahwa terdapat sekitar 1.500 insiden yang melibatkan skuter elektronik sejak akhir 2017.

Yang paling mengejutkan tentu kabar tewasnya presenter sekaligus YouTuber asal Inggris, Emily Hartridge, kala ia mengendarai skuter di kawasan Battersea, London barat daya. Emily meninggal setelah tertabrak truk.

Di Austin, Texas, pemerintah setempat menangguhkan lisensi penyewaan skuter elektronik serta meninjau kembali fasilitas keamanannya. Terdapat sekitar 14 ribu skuter elektronik yang tersebar di Austin. Pemerintah kota Nashville juga mengambil pendekatan serupa setelah kecelakaan yang menewaskan pengendara skuter.

Tak cuma di AS, resonansi penolakan terhadap skuter menggema pula sampai Eropa. Di Kopenhagen, Denmark, ambil contoh, masyarakat kesal dengan para pengguna skuter yang dianggap membahayakan pejalan kaki karena mereka sering mengemudi dengan mabuk. Ada sekitar 7.000 skuter yang tersebar di Denmark sejak pemerintah pertama kali memberlakukan masa uji coba pada 17 Januari lalu, demikian catat The Guardian.

Bergeser ke Paris, kelompok sipil bernama Apacauvi melayangkan gugatan kepada perusahaan skuter elektronik setelah kecelakaan yang menimpa Isabelle van Brabant. Isabelle ditabrak pengendara skuter di taman Les Halles pada Mei kemarin. Pergelangan tangannya patah di dua tempat. Walikota Paris, Anne Hidalgo, menyebut fenomena skuter tak ubahnya “perilaku anarkis.”

Aparat langsung menindak tegas. Bila ada skuter yang diparkir sembarangan, melaju di trotoar, sampai melanggar batas kecepatan yang sudah ditentukan (20 km/jam), polisi bakal mengeluarkan denda. Sejauh ini, polisi telah menerbitkan ribuan surat tilang serta menyita lebih dari 500 skuter. Paris sendiri menjadi tempat berkumpulnya puluhan ribu skuter.

Sedangkan di Inggris, orang tidak bisa sembarangan mengendarai skuter. Mereka hanya diperbolehkan beroperasi di tanah pribadi. Aturan di Inggris menempatkan skuter sebagai Personal Light Vehicle (PLEVs), atau kendaraan bermotor. Artinya, skuter harus tunduk pada semua persyaratan yang melekat pada kendaraan bermotor, seperti pajak, plat nomor, sampai kemampuan memberi sinyal. Jika masih ada yang membawa skuter ke jalanan, polisi sudah menyiapkan denda sebesar £300.

Isu yang ditekankan atas penolakan skuter elektronik adalah soal keamanan. Masyarakat menilai bahwa skuter elektronik belum cukup memiliki fasilitas keamanan yang baik. Kondisi kian bertambah buruk manakala perusahaan dianggap tidak memperhatikan faktor ini dengan maksimal.

Penelitian yang digarap Jon-Patrick Allem dan Anuja Majmundar berjudul “Are Electric Scooters Promoted on Social Media with Safety in Mind? A Case Study on Bird's Instagram” mengonfirmasi hal tersebut. Dari 324 unggahan Bird di Instagram, yang dikumpulkan dari rentang September 2017 sampai November 2018, hanya terdapat 6,17 persen foto yang menggambarkan pengguna skuter memakai alat pelindung.

Gambaran tersebut, tulis Allem dan Anuja, menjelaskan bahwa upaya mempromosikan “berkendara dengan aman” tidak dikerjakan secara serius oleh pihak Bird.



Perlu Regulasi Jelas

Terlepas dari suara kontra yang bermunculan, keberadaan skuter elektronik, di kota-kota besar, dipandang dapat menjadi jalan keluar atas permasalahan urban seperti kemacetan maupun polusi udara.

Analis Deloitte, Rasheq Zarif, berpendapat seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin butuh kecepatan, termasuk urusan transportasi. Menurutnya, seperti dilaporkan USA Today, skuter elektronik menjawab kegundahan sebab dapat menawarkan efisiensi dalam berkendara.

Sebetulnya tak semua daerah alergi terhadap skuter. Sebagian besar dari mereka seperti New Jersey, Barcelona, San Francisco, Sydney, hingga Chicago berupaya merangkul skuter—walaupun dengan satu-dua syarat—untuk membantu mengatasi masalah seperti kemacetan sekaligus mempermudah mobilitas masyarakatnya.

Pertentangan terhadap skuter elektronik sebenarnya bisa dicegah selama kedua pihak, pemerintah dan perusahaan rintisan, berada di bawah satu payung yang sama—bila memang tujuannya untuk mempermudah aktivitas masyarakat.

Dari pemerintah perlu adanya regulasi yang komprehensif maupun batasan-batasan yang jelas tentang penggunaan skuter. Sementara perusahaan melengkapinya dengan fasilitas yang proporsional (tempat parkir, misalnya). Ketika keduanya sudah bertemu di titik yang tepat, maka penolakan maupun kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti kecelakaan, mungkin bisa diminimalisir.

Indonesia memang belum terkena dampak invasi skuter sebagaimana negara-negara di Eropa maupun Amerika. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika pemerintah dan perusahaan rintisan yang ada sudah membicarakan lebih serius perihal nasib teknologi transportasi semacam ini. Supaya, ke depan, kejadian seperti tewasnya dua pengendara skuter di Jakarta tidak terulang kembali.

Baca juga artikel terkait SKUTER LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight