Menuju konten utama
Piala Dunia 2018

Kontra Taktik yang Disiapkan Kroasia untuk Mengalahkan Rusia

Rusia memakai taktikultra defensif saat melawan Spanyol, tentu menarik menunggu kontrataktik yang disiapkan Kroasia.

Kontra Taktik yang Disiapkan Kroasia untuk Mengalahkan Rusia
Ilustrasi Rusia vs Kroasia. tirto.id/Mojo

tirto.id - Status tuan rumah kerap mendatangkan keuntungan tersendiri. Kali ini Rusia ingin mencoba meneruskan tren baik yang kerap dialami tim tuan rumah Piala Dunia.

Selama tujuh penyelenggaraan terakhir, lima tim tuan rumah melenggang hingga fase semifinal. Italia (1990), Perancis (1998), Jerman (2006) dan Brazil (2014) adalah contohnya. Tim-tim ini memang tim besar, karena itulah muncul teori: Afrika Selatan tim kecil, makanya gagal lolos ke semifinal. Namun Rusia tak perlu berkecil hati, mereka bisa saja menengok tim kecil lainnya, Korea Selatan, yang sukses mengguncang Piala Dunia 2002 dengan lolos semifinal saat menjadi tuan rumah.

Sejauh ini trennya positif bagi Rusia. Secara mengejutkan mereka menyingkirkan Spanyol dan mengulang rekor lolos ke perempatfinal pada Piala Dunia 1970 saat mereka masih berbendera Uni Soviet. Prestasi terbaik negeri itu adalah lolos ke semifinal Piala Dunia 1966.

Agar bisa menulis ulang sejarah itu, mereka mesti menaklukkan Kroasia di Fisch Stadium, Sochi. Masalahnya, bersama Belgia, tim yang dikapteni oleh Luka Modric ini merupakan tim tersolid kali ini. Mereka belum terkalahkan dan baru kebobolan dua gol.

Adaptasi Taktik Lawan

Sedikit yang membayangkan Rusia bisa menekuk Spanyol. Rusia masuk ke turnamen sebagai tim dengan peringkat terendah kedua setelah Arab Saudi. Berada di di grup relatif ringan, Rusia memang diprediksi bisa lolos dengan mudah. Mereka menggebuk Arab Saudi 5-0 dan Mesir 3-1. Namun melawan tim kuat, Uruguay, giliran mereka yang digilas 3-0.

Kekalahan dari Uruguay menegaskan mutu tim Rusia memang masih belum kompetitif. Mudah untuk mengatakan bahwa kekalahan dari Uruguay adalah bukti bahwa dua kemenangan awal mereka hanya karena faktor lawan yang lebih jelek, bukan karena Rusia yang kuat.

Ada pola tertentu ketika Rusia bertemu tim yang kualitasnya lebih di bawah. Ketika berjumpa Saudi dan Mesir, Rusia begitu agresif. Saat melawan Uruguay, mereka mencoba memainkan pola yang sama namun gagal total. Atas dasar itulah saat melawan Spanyol mereka bermain ultradefensif.

Formasi 4-2-3-1 yang biasa dipakai berubah menjadi 5-4-1 dengan menumpuk lima pemain di belakang dengan menyisakan striker tunggal Artem Dzyuba di depan. Taktik ini sukses. Dari 1200an umpan yang dibuat Spanyol, hanya satu kali yang sukses menembus barisan kokoh pertahanan Rusia ini.

Cara bertahan Rusia saat melawan Spanyol inilah yang menjadi perhatian Kroasia. "Ya, kami telah menyaksikan hampir semua pertandingan mereka," kata pemain depan Kroasia Ivan Perisic, dikutip dari Reuters. “Melawan Spanyol mereka menggunakan sistem yang berbeda, tetapi Anda harus beradaptasi dengan setiap tim yang Anda lawan. Jadi mereka pikir itu adalah taktik terbaik untuk mereka, dan saya pikir mereka membuat keputusan yang tepat."

Kroasia tentu saja berusaha untuk beradaptasi dengan taktik Rusia. Pujian Perisic atas pilihan taktik adaptif yang diambil Rusia juga bisa dibaca sebagai kesediaan Kroasia untuk beradaptasi pula dengan pilihan taktikal lawannya.

"Kemampuan beradaptasi sangatlah penting dalam sepakbola modern," kata Gareth Southgate.

Bermain Bertahan atau Menyerang, Rusia?

Saat Stanislav Cherchesov menumpuk lima bek dan empat gelandang, yang membuat jarak pemain depan dengan garis pertahanan konstan sekitar 20 meteran, untuk mematikan Spanyol, para pemain Rusia sebetulnya tak nyaman gaya main itu.

"Saya benar-benar harus meyakinkan [pemain saya] bahwa inilah satu-satunya jalan keluar," katanya dikutip dari The Guardian. “Kami tidak suka struktur permainan bertahan seperti ini, tapi inilah yang harus kami lakukan dengan tiga pemain belakang. Syukurlah pemain saya mengerti apa yang saya katakan kepada mereka."

Formasi tiga bek Cherchesov bukan hal baru. Saat kali pertama membesut Rusia, hal pertama yang dia ubah adalah struktur pertahanan dari pakem empat bek menjadi tiga bek.

"Kami belum pernah mencapai apa pun dengan empat bek di belakang," kata Cherchesov ketika menjelaskan keputusannya itu pada 2016 lalu. “Selain itu, hampir setengah tim Liga Utama Rusia, bermain dengan tiga pemain bertahan. Jadi kami ingin fleksibel. Kami bisa mengalahkan Spanyol dengan taktik ini. Dan inilah sepakbola. Memang kamu mau apa?”

Saat menghadapi Spanyol, ia membuat empat perubahan pada susunan pemain utama. Struktur pertahanan Rusia berubah-ubah antara 5-4-1 menjadi 3-5-2, ketika Aleksandr Samedov dan Aleksandr Golovin, bergantian menekan lini belakang Spanyol.

Hal lain yang menonjol adalah Rusia cenderung menekan sisi terkuat lawannya. Saat itu, 56 persen bola diarahkan ke sayap kanan, 21 persen ke tengah dan 23 persen ke sayap kiri. Saat itu kekuatan lini serang Spanyol memang ada di sayap kiri lewat Jordi Alba. Pemain Barcelona ini sering melakukan overlapp. Karena itulah Cherchesov mengeksploitasi kekosongan ini. Ia bahkan sering menggeser pemain no.10, Alexandr Golovin, bermain di kiri membantu Igor Samedov dan penyerang Artem Dzyuba yang bermain melebar.

Yang menjadi sorotan adalah second-line Rusia terlalu lamban saat proses serangan balik. Ketika bola lambung diumpan ke Dzyuba, bola muntahnya jarang disambut gelandang akibat jarak antara tengah dan depan terlalu jauh. Kreatifitas saat menyerang seperti saat melawan Mesir dan Arab Saudi nyaris tak pernah muncul. Tembakan ke arah gawang Spanyol nyaris semuanya berawal dari bola-bola mati.

Skema bola-bola panjang memang menjadi tumpuan Rusia saat menekuk Mesir dan Saudi. Tipikal direct vertikal dari belakang, bukan dibuang ke sayap kemudian dibalikkan lagi dengan crossing. Rusia juga tak bermain dengan umpan-umpan terobosan di depan gawang. Saat ada peluang, kecenderungannya mereka akan langsung menembak. Itulah mengapa hampir 67 persen peluang tembakan pada empat pertandingan terakhir dilakukan di luar kotak penalti. Itu artinya lini kedua Rusia mesti diantisipasi oleh Kroasia.

Infografik Rusia vs Kroasia

Kroasia Bermain dengan Dua Playmaker

Cara Zlatko Dalic memoles dua gelandang terbaik mereka, Ivan Rakitic dan Luka Modric, menarik untuk dicermati. Saat melawan Nigeria, ia memakai formasi 4-2-3-1 atau sering terlihat seperti 4-2-4. Uniknya, alih-alih menempatkan keduanya atau salah satunya sebagai gelandang serang, dia menempatkan Modric dan Rakitic lebih ke dalam dalam posisi sebagai poros ganda. Dua gelandang tengah ini diberi diberi tanggung jawab mendistribusikan bola ke empat pemain depan: Ivan Perisic, Ante Rebic, Mario Mandzukic dan Andrej Kramaric.

Upaya ini efektif secara defensif, sebab mampu menghadang lini tengah Nigeria yang mengandalkan kecepatan dan bola-bola daerah. Namun dengan memasang dua pemain bertipikal playmaker jauh di belakang, Kroasia kurang kuat sepertiga akhir. Modric dan Rakitic lebih banyak mengirim umpan-umpan panjang. Untuk mendapatkan bola, Madzukic dan Rebic meski turun sampai ke bawah.

Zlatko Dalic kemudian mengubah skema dengan memasukan gelandang bertahan Marcelo Brozovic. Dengan kehadiran seorang gelandang bertahan murni, otomatis posisi Rakitic dan Modric jadi lebih tinggi, formasi pun berubah jadi 4-1-4-1.

Struktur inilah yang dipakai saat menghancurkan Argentina dengan skor 3-0. Melawan Argentina, Kroasia lebih memilih bermain sabar menunggu lawan menaikkan garis pertahanan. Titik terlemah dieksploitasi adalah posisi sayap. Argentina kebetulan kala itu memakai formasi 3-4-3, dengan dua bek sayap yang selalu overlapp.

Di sinilah peran Rakitic dan Modric yang juga bergerak lebih naik mengisi ruang antara gelandang dan bek sayap Argentina. Posisi Enzo Perez terlalu naik dan menimbulkan situasi 2vs1 antara Rakitic dan Modric versus Javier Mascherano. Alhasil aktifitas dua pemain praktis tak tersentuh. Mereka diizinkan untuk membuat umpan-umpan diagonal sederhana namun krusial ke lebar lapangan menuju Perisic dan Rebic.

Melawan Islandia, Kroasia merotasi pemain dengan mengganti Rakitic dengan Kovacic. Yang bisa dipelajari dari laga ini adalah Kroasia memang mengontrol penguasaan bola, 63 persen berbanding 37 persen. Namun sama seperti tim lain yang berjumpa Islandia, Kroasia selalu mentok saat memasuki sepertiga area lawan. Dua gol kemenangan ke gawan Islandia semua diawali dari proses serangan balik dengan bola lambung, bukan build-up yang merayap dengan melewati lini tengah.

Formasi 4-1-4-1, atau terlihat 4-3-3, kembali dipakai melawan Denmark. Tim Dinamit itu berusaha membatasi pasokan bola kepada Rakitic dan Modric. Namun dengan cerdik, Dalic menanggapinya dengan memposisikan dua bek tengah, Domagoj Vida dan Dejan Lovren, menaikkan posisinya agar mendekat pada Rakitic dan Modric.

Dengan merapatnya lini belakang ke posisi Modric dan Rakitic, maka jarak dua gelandang itu menjadi dekat dengan Mandzukic. Melalui formasi 4-1-4-1, dengan Brozovic sebagai gelandang bertahan, Modric-Rakitic leluasa melakukan kerja sama dengan Manduzkic, dan pada saat yang sama bisa tetap membiarkan Perisic dan Rebic di sisi sayap tetap bermain melebar.

Taktik ini cukup efektif karena mendorong Denmark bermain lebih lebar dan tidak menyempit di tengah, tempat Christian Eriksen berada. Kerenggangan ruang yang ditinggalkan Modric-Rakitic dengan Brozovic dan dua bek tengah mestinya bisa dimanfaatkan Denmark, namun mereka enggan mengambil resiko. Denmark enggan berjudi mendorong salah satu atau salah dua gelandang bertahannya untuk naik mendekati Eriksen, karena itu sama saja membiarkan Modric dan Rakitic leluasa di sepertiga pertahanan mereka.

Pada empat pertandingan sebelumnya, Kroasia selalu menghadapi ujian yang taktik. Dari Nigeria yang mengandalkan kecepatan, Argentina dan Denmark yang menitikberatkan pada kekuatan individuan pemain utamanya (Messi dan Eriksen), serta Islandia yang memakai garis pertahanan rendah. Dan semua ujian itu bisa dilalui dengan kemenangan.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan