Konflik Persahabatan Berujung Happy Ending

Kontributor: Glenny Levina, tirto.id - 27 Nov 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Seiring waktu, konflik persahabatan disikapi berbeda. Persahabatan orang dewasa tak mudah diciptakan dan dipertahankan seperti pada masa sekolah dulu.
tirto.id - Lizzy (Elizabeth Bennet) tak habis pikir ketika Charlotte Lucas berencana menikahi pria yang baru dikenalnya sekaligus dirasa kurang pantas untuk perempuan baik hati dan cerdas itu.

Menurut Lizzy, pernikahan harus melibatkan cinta, sedangkan bagi sahabatnya ada pertimbangan yang lebih masuk akal ketimbang “sekadar” cinta.

“Tidak semua dari kita mampu jadi romantis. Aku ditawari rumah yang nyaman dan perlindungan. Ada banyak hal yang patut disyukuri. Umurku 27 tahun, tak punya uang, dan tak ada prospek. Aku sudah jadi beban bagi orang tuaku dan aku takut. Jadi jangan menghakimiku, Lizzy. Jangan berani-berani menghakimiku!” ujar Charlotte murka.

Kebingungan dan kemarahan antarsahabat ini bisa kamu rasakan di Pride & Prejudice (2005), film drama romantis berlatar tahun 1800-an.

Tontonan favorit soal konflik persahabatan juga muncul di episode-episode sitkom Friends (1994–2004). Banyak pertengkaran seru sekaligus menggelikan antara Monica dan Rachel. Mulai dari pertengkaran merebutkan Jean-Claude Van Damme yang berakhir dengan saling pukul hingga kejar-kejaran karena Rachel tak mau pindah dari apartemen Monica.

Header Diajeng Konflik Persahabatan
Header Diajeng Konflik Persahabatan. foto/IStockphoto


Kisah-kisah dengan bumbu konflik antarsahabat ini tentunya happy ending. Layaknya dua orang dewasa yang berhasil menyelesaikan konflik dengan baik, persahabatan mereka pun kembali indah. Bahkan makin erat.

Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., menerangkan, “Persahabatan yang sehat itu idealnya saling percaya dan melindungi rahasia masing-masing sahabat. Meskipun jarang bertemu, percakapan intens terjadi sehari-hari. Saling menghargai dan mengingat hal yang baik tapi tidak memaksa keyakinan dirinya harus dilakukan oleh sahabatnya. Dan selalu ada dalam berbagai situasi sahabatnya.”

“Nggak perlu di-maintain, sahabat ideal nggak perlu ditanyain tiap hari kabarnya. Yang bisa langsung dicurhatin tanpa ini-itu, tanpa harus dibaik-baikin. Yang kalau sahabatnya punya salah, langsung dikasih tahu. Bukan diomongin di belakang,” kata Andhita Siswandi (38), ibu 4 anak yang juga seorang fashion designer dan content creator.

Namun biasanya, menurut Samanta, topik pengkhianatan, kekecewaan, ketidakkompakan, kurangnya intensitas komunikasi, dan perubahan value hidup yang tak lagi bisa ditoleransi, yang membuat seseorang memutuskan suatu hubungan persahabatan.

“Pernah banget mengalaminya. Ada geng persahabatan yang sekarang jadi jauh karena konflik yang ternyata nggak bisa diselesaikan dengan kembali berteman, makanya jadi menjauh,” kisah Debbyani Nurinda (28).

Seiring waktu, konflik persahabatan disikapi berbeda. Persahabatan orang dewasa tidak mudah diciptakan dan dipertahankan seperti persahabatan pada masa sekolah atau kuliah dulu.

Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan nilai persahabatan, menurut Samanta, cenderung karena adanya proses pendewasaan dan prioritas value yang berubah juga, bukan hanya karena perubahan zaman.

Header Diajeng Konflik Persahabatan
Header Diajeng Konflik Persahabatan. foto/istockphoto


Andhita sendiri mengaku hanya punya satu geng. “Dari SMA dan kuliah. Kita berempat, seumuran semua, 38-39 tahun. Persahabatan ini sudah lebih dari 20 tahun. So far nggak ada pertengkaran yang berarti. Paling cuma salah ngomong yang mengakibatkan satu orang sakit hati. Tapi kita selalu bisa mengatasi dan minta maaf. Biasanya langsung bicara dari hati ke hati dan bermaafan.”

Kim Finnie, CSSW, LCSW, Pendiri dan pemilik Bridge to Balance, pusat konseling yang mengkhususkan diri dalam bidang perawatan kesehatan mental memberikan pandangan.

Banyak reaksi kita terhadap konflik dengan sahabat berasal dari pikiran dan perasaan awal yang muncul dalam pikiran. Kamu mungkin merasa marah dan bereaksi tanpa berpikir panjang, menyerang dan memperburuk konflik.

“Asumsi dan penalaran emosional mudah dibuat ketika emosi negatif memuncak. Namun, dengan mengambil langkah mundur dan mencoba untuk berbelas kasih kepada sahabat dan diri sendiri, kamu dapat menempatkan dirimu pada posisi menghadapi konflik dengan cara yang lebih produktif,” ungkapnya.

Kim menjelaskan lebih lanjut, mindfulness adalah salah satu cara untuk mencapai bagaimana kamu bereaksi terhadap konflik. Hal ini memungkinkanmu untuk lebih sadar akan apa yang kamu pikirkan dan bagaimana kamu menerima emosi yang ada.

Samanta memberi contoh, "Dalam sebuah konflik, untuk menyampaikan kepada sahabat bahwa apa yang ia lakukan adalah salah tanpa harus menyakiti hatinya, perlu menggunakan kalimat asertif. Kalimat secara jelas, tegas, dan lugas tanpa menyerang atau menyakiti orang lain. Caranya, dengan sandwich communication, di mana kita memulai percakapan dan dibuka dengan hal-hal baik tentang dirinya, lalu isinya kita bahas apa saja hal yang menjadi kekhawatiran kita. Kemudian, diakhiri lagi dengan memuji hal-hal positif dari sahabat."

Banyak orang begitu takut akan konflik sehingga lebih memilih untuk mengakhiri persahabatan. Namun sebenarnya ketika kita berdiskusi secara terbuka dan berempati tentang masalah dalam hubungan, kita cenderung mengalami lebih banyak kedekatan.

Bagaimana dengan kisah persahabatanmu?

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan menarik lainnya Glenny Levina


Kontributor: Glenny Levina
Penulis: Glenny Levina
Editor: Yemima Lintang

DarkLight