Seri Komikus Indonesia

Komik Zaldy Armendaris di Antara Seks, Cinta, dan Kota

Infografik Komik Cinta Klasik
Panorama Jakarta dalam komik Zaldy Armendaris berjudul "Kabut Pagi"; 1968. FOTO/Istimewa
Oleh: Irfan Teguh - 10 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Komik roman Zaldy Armendaris menggambar cinta dan kota dalam peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru.
tirto.id - Untuk keperluan penulisan di Jurnal Kalam No. 16 edisi “Menilik Tokoh” yang terbit tahun 2000, Seno Gumira Ajidarma mencoba menghubungi Zaldy Armendaris sebagai sosok yang karyanya ia telaah.

“Tapi orangnya agak aneh,” ujar seseorang yang memberikan nomor telepon rumah Zaldy kepada Seno.

Mulanya Seno optimis dapat berbicara langsung dengan Zaldy. Orang yang memberikan nomor telepon rumah itu memberi tahu bahwa Zaldy tinggal sendirian dan dipastikan ia yang akan mengangkat telepon.

Namun, saat Seno menghubungi nomor tersebut, telepon diangkat oleh seseorang yang berkata, “Dia (Zaldy) sedang pergi, tapi dia tidak akan mau diwawancara, dia tidak suka publikasi.”

Seno menjelaskan bahwa tujuannya untuk penelitian bukan publikasi. Dan orang itu berkata lagi, “Dia tidak akan mau.”

Wawancara Seno dengan Zaldy tidak pernah terjadi, tapi tulisannya yang bertajuk “Dunia Komik Zaldy” tetap tayang di Jurnal Kalam edisi Juni 2000. Tiga bulan setelah tulisan itu terbit, lewat Kompas, Seno mengetahui bahwa Zaldy meninggal dunia pada September 2000.

Zaldy Armendaris adalah salah satu komikus terkenal Indonesia warsa 1970-an. Sikapnya yang tertutup membuat masyarakat sedikit mengetahui profil pribadinya. Orang-orang hanya mengetahui bahwa ia lahir pada 1942 dan meninggal tahun 2000.

Meski demikian, karya-karya Zaldy era 1970-an amat populer dan namanya disebut-sebut termasuk ke dalam The Big Five bersama komikus lain yaitu Jan Mintaraga, Ganes T.H, Sim, dan Hans Jaladara.

Popularitas Zaldy salah satunya tergambar pada hampir setiap komiknya yang menyantumkan sapaan: “Salam untuk penggemarku di seluruh Nusantara”. Sapaan tersebut bisa diartikan bahwa pembacanya amat luas.

Salah satu karyanya yakni Setitik Airmata Buat Peter bahkan sempat diangkat ke layar lebar oleh Rapi Films dengan judul Airmata Kekasih. Film tersebut beredar pada 1971 dan dibintangi Suzanna yang saat itu namanya terkenal berkat film Bernapas Dalam Lumpur (1970).


Jika Ganes T.H dan Hans Jaladara menggarap komik silat, Zaldy dan sejumlah komikus lainnya terkenal sebagai pembuat komik roman, atau Arswendo Atmowiloto menyebutnya sebagai genre Cinta Jakarta. Sementara Marcel Bonnef, peneliti komik Indonesia asal Perancis, menyebutnya roman remaja.

Istilah roman remaja yang dilekatkan Bonnef, menurut Lilawati Kurnia dalam Kota Urban Jakarta dalam Komik Zaldy (2016), bukan tanpa alasan. Kata “remaja” memang sengaja dipilih untuk menggantikan kata “pemuda” yang berkonotasi progresif dan revolusioner.

“[kata ‘pemuda’] merupakan konotasi yang terpatri di benak masyarakat Indonesia dari sejak masa revolusi kemerdekaan sampai era Sukarno,” tambahnya.

Berbeda dengan Arswedo dan Bonnef, Seno Gumira Ajidarma menyebut karya Zaldy sebagai “Komik roman dari dunia sehari-hari, karena bahasa yang hidup di masyarakat memang sudah selayaknya diakui” (Jurnal Kalam No. 16 Th. 2000).




Cinta yang Meranggas

“Tidak seharusnya bercinta, karena cinta adalah risau, risau adalah penderitaan, penderitaan adalah musnah, musnah adalah kematian,” kata Ingrid, tokoh dalam komik Jangan Ucapkan Selamat Tinggal, salah satu karya Zaldy yang dikutip Seno.

Ucapan salah satu tokoh rekaan Zaldy tersebut menegaskan pandangan Seno tentang komik roman Zaldy yang menggambarkan dunia cinta, tapi cinta yang tidak mempunyai harapan. Orang-orang saling mencinta, namun nasib mereka hancur tak bersisa.

Seno menyigi 18 komik Zaldy dan menemukan bahwa kisah-kisah cinta yang dihamparkan komikus itu hanya dua: kasih tak sampai dan cinta segitiga. Dari cinta semacam itu, tak heran jika Seno menyebut dunia komik Zaldy sebagai “dunia berlinang-linang, tokohnya sendu, dan selalu siap untuk bersedih.”

Seno menambahkan bahwa di luar dua pola percintaan tersebut, dalam komik Zaldy pun ada aspek-aspek yang selalu mengiringi, yaitu seks, kehidupan malam, lagu, dansa, dan perempuan—semuanya menggambar sebuah kecenderungan baru yang sama sekali berbeda dengan pola lama.

Sebagai contoh, perempuan digambarkan tak lagi hadir sebagai peran pelengkap, tapi mengambil peran yang lebih dominan sebagai pusat penceritaan dan membuat laki-laki seolah-olah hanya objek cinta mereka. Atau amsal lain seks; hubungan ini, dalam catatan Seno, salah satunya digambarkan Zaldy sebagai cara untuk merusak diri karena kekecewaan dalam hubungan cinta.

Sementara menurut Lilawati Kurnia—yang membandingkannya dengan karya sastrawan Jerman, Bertolt Brecht, tentang ware liebe (cinta komoditi) dan wahre liebe (cinta sejati)—kisah-kisah cinta dalam komik Zaldy menunjukkan pola konstelasi cinta yang berubah dari cinta sejati ke cinta sebagai komoditi.

Lebih lanjut ia berargumen bahwa pola cinta seperti itu dilatari perubahan ideologi yang semula konservatif ke liberal yang mendasarkan hubungan antarmanusia pada uang dan barang.

“Dunia cinta dalam komik-komiknya sangat mungkin mencerminkan sesuatu dari masyarakat Indonesia pada awal Orde Baru, ketika segala-galanya berubah dengan tiba-tiba, dan banyak orang tergagap-gagap melakukan orientasi baru. Dalam pencarian itu, Zaldy dan penggemarnya bertemu,” tulis Seno.


Mengenang Kota

Karya-karya komik roman Zaldy yang hadir pada akhir 1960-an sampai 1980-an, menurut Lilawati Kurnia, berhasil merekam masa peralihan dari Sukarno ke Soeharto dalam bentuk gambaran ibu kota Jakarta yang menjadi memori kolektif perjalanan bangsa.

Cerita-cerita yang dirangkai hampir tak bisa dipisahkan dengan lanskap kota Jakarta yang menunjukkan jejak pembangunan dari dua orde tersebut, dan digambar Zaldy secara teliti. Sebagai contoh, dalam sejumlah komiknya terdapat Lapangan Banteng, Gereja Katedral, dan Jakarta Fair. Selain itu, terdapat juga pertokoan di Pasar Baru, klub malam di Jalan Hayam Wuruk, dan Wisma Nusantara di Jalan Thamrin.

Gambaran ruang-ruang Jakarta itu, tambah Lilawati Kurnia, memperkuat konstelasi cinta liberal yang dirangkai Zaldy dengan menghadirkan ruang fisik yang telah dibentuk modernitas Barat.

“Keberadaan kota Jakarta di dalam karya-karya Zaldy dalam visualisasi kota menentukan jalan cerita atau narasi di dalamnya,” imbuhnya.

Di balik sosoknya yang dianggap misterius, terutama oleh generasi yang tak sezaman dengannya, Zaldy kiranya salah satu komikus yang amat teliti dalam menggarap detail perubahan era. Ia juga sangat rinci dalam membangun hubungan antartokoh dan latar dalam kisahnya.

Baca juga artikel terkait KOMIK atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight