Kisah Wonder yang Menguras Air Mata dan Tawa

Oleh: Aulia Adam - 10 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
Bagaimana film penguras air mata bekerja sama dengan humor? Jawabannya ada di Wonder.
tirto.id - Julia Roberts. Owen Wilson, dan Jacob Tremblay. Tiga nama yang dipampang besar-besar dalam poster resmi Wonder, sebuah drama keluarga keluaran Lionsgate. Tak ada keterangan lainnya di poster berwarna biru itu, kecuali sebaris kalimat: “Bersiaplah untuk bertemu Auggie Pullman." Juga “berdasarkan buku laris The New York Times," dan tanggal tayang film: 17 November.

Di sana berdiri seorang anak kecil menghadap ke kanan, dengan helm astronot. Sekilas tampak biasa saja, kecuali siluet mata, pipi, dan hidungnya yang tampak dari balik helm.

Dengan keterangan sederhana itu, Wonder kelihatan percaya diri sekali dapat menarik minat penonton hanya dengan tiga nama tersebut.

Ketiga orang itu memang nama besar. Julia Roberts dikenal sebagai aktor drama kawakan, menarik perhatian di sejumlah filmnya: Runaway Bride, Eat Pray Love, August: Osage County, The Normal Heart, dan salah satu film ikonik 1990-an: Pretty Woman.

Owen Wilson juga nama besar di genre komedi Hollywood. Meski juga membintangi genre lain, termasuk aksi, Wilson dalam kariernya selalu konsisten dengan karakter kocak, termasuk dalam film Shanghai Noon bersama Jackie Chan, atau I Spy bersama Eddie Murphy.

Sementara Jacob Tremblay, adalah bocah yang menarik perhatian industri film melalui perannya dalam Room. Ia berhasil merebut sejumlah penghargaan internasional karena peran itu, seperti Screen Actors Guild Award for Outstanding Performance by a Male Actor in a Supporting Role.

Kualitas tiga aktor utama ini memang tak perlu dipertanyakan lagi. Basis penggemarnya juga banyak. Jadi, boleh saja percaya diri. Lalu, cerita apa sebenarnya yang diangkat Wonder?


Roberts, Wilson, dan Tremblay adalah nama-nama besar dari genre drama keluarga. Kolaborasi ketiganya, seperti bisa ditebak, akan terlibat di area sana. Roberts sebagai Ibu, Wilson suaminya, dan Tremblay jadi sang anak: Auggie Pullman, bocah 10 tahun yang keranjingan pakai helm astronot karena tidak percaya diri dengan wajahnya.

Konflik utama film ini memang ada pada Auggie—ia seorang yang terlahir dengan kelainan bentuk wajah. Dalam kasus Auggie, nama medisnya Treacher Collin Syndrome. Sejak kecil, Auggie harus menjalani banyak sekali operasi agar organ-organ di wajahnya berfungsi: mata bisa melihat, kuping bisa mendengar, dan punya saluran pernapasan yang baik.

Lagi, sebagaimana bisa ditebak, Wonder memang dipersiapkan jadi penguras air mata. Seluruh elemen film dibangun untuk membuat penonton bersimpati. Namun, ketimbang mengorek-ngorek sisi sedih dari konflik keluarga Pullman, sang sutradara Stephen Chbosky, justru menumpuk unsur komedi di sepanjang film.

Cerita tentang tumpukan operasi yang bisa jadi senjata utama bikin mewek itu justru cuma terselip, kalau tidak salah salah, hanya tiga kali, itu pun hanya lewat sebaris-dua baris dialog Auggie. Tak ada adegan mengerikan yang melibatkan pisau operasi atau tangisan lebay Julia Roberts yang melibatkan ingus dan sesunggukan parah.

Infografik Wonder


Sejak dibuka saja, Auggie langsung menampakan kelainan bentuk wajahnya sebagai sebuah punch line dalam kisah hidupnya yang ia anggap sebuah komedi. Unsur humor lainnya tentu saja datang dari Owen Wilson. Nyaris tak ada yang tak lucu dari semua dialog Wilson sepanjang film diputar, termasuk dialog-dialognya dengan Auggie, yang di saat bersamaan juga hadir sebagai nasihat pamungkas.

Namun, sebagaimana film-film Hollywood serupa yang mengangkat suatu kelainan tertentu—misalnya autisme, down syndrome, alzheirmer—Wonder juga punya peluang besar terjebak dalam upaya mengglorifikasi karakter utama mereka. Maksudnya, tak sedikit film drama yang mengangkat tema serupa justru menjadikan kelainan-kelainan itu sebagai “kekuatan super” tokoh utamanya untuk punya hidup lebih baik. Misalnya karakter autisme dari film The Accountant yang diperankan Ben Affleck.

Baca juga: Memahami Autisme Lewat Film

Namun, Chbosky nyaris bisa mengatasi masalah ini. Auggie memang tampil terlalu baik dan sangat amat pintar, terlalu sempurna untuk sosok bocah 10 tahun—baik yang punya Treacher Collin Syndrome atau yang tidak. Namun, ia juga tampil dengan segala kerentanannya: Auggie benci kalau orang lain membandingkan penderitaannya dengan penderitaan mereka, tapi di saat bersamaan, ia sadar kalau dunia ini tak selamanya tentang dirinya yang bersedih karena kondisi wajahnya. Sebab orang lain juga punya masalahnya masing-masing, dan sangat tidak bijaksana untuk membanding-bandingkannya.

Pesan itu jadi lebih mudah dipahami karena struktur multi-narasi yang disuguhkan novel originalnya berjudul sama karya R.J. Palacio. Film ini tak melulu ditampilkan dengan suara Auggie sebagai narator. Beberapa tokoh lain juga punya kesempatan menyuarakan perspektifnya. Cara ini ampuh membangun cerita yang lebih dalam—sehingga Chbosky tak perlu menumpuk adegan bersedih-sedih, fokus pada humor-humor saja, tapi tetap berhasil menyajikan sebuah film penguras air mata.

Di luar itu, film ini juga melempar perspektif penting tentang memperlakukan orang yang lahir berbeda. Chbosky justru tak membangun harapan palsu bagi mereka: orang seperti Auggie memang mustahil hidup tanpa olokan, diskriminasi, bahkan sumpah-serapah yang menyarankan mereka bunuh diri. Pemicu-pemicu depresi itu mustahil dielakkan. Sebab berharap Bumi ini sekonyong-konyong damai adalah nyaris utopis.

Namun, bukan berarti hidup bahagia adalah sebuah kemustahilan bagi mereka yang berbeda. Ia memang senang pakai helm astronot, karena tak mau melihat orang lain kaget karena melihat mukanya. Ia sadar kalau dengan penampilan yang beda, Chewbacca—salah satu karakter mirip primata dalam Star Wars—tetap keren dan jadi idola dari Star Wars.

Pada film Wonder, simbol helm astronot jadi keseimbangan yang ditampilkan Auggie. Membuat film ini juga mampu menyeimbangkan antara keadaan menguras air mata dengan tawa.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra