Kisah Jatuh Bangun Kaum Imigran di Inggris

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 30 Okt 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Dipelopori ide Partai Konservatif yang melihat kaum imigran dapat dijadikan sebagai lumbung suara, pada 1980-an mereka mulai dilibatkan dalam politik.
tirto.id - Beberapa tahun lalu, dalam acara "Who Do You Think You Are?" yang diselenggarakan BBC untuk mengungkap asal-usul tokoh, komedian asal Skotlandia bernama Billy Connolly terkejut saat mengetahui dirinya memiliki hubungan dengan India.

Selalu meyakini nenek dari neneknya, Florance, lahir di Irlandia atau Skotlandia, BBC memberi tahu Connolly bahwa eyangnya tersebut lahir di India, di Bengaluru, sebagai anak dari prajurit Kerajaan Inggris yang dikirim ke India pada 1856 bernama Daniel Doyle dan istrinya, Margaret.

Dan Margaret, putri seorang prajurit Inggris lainnya yang dikirim ke India bernama John O'Brien, lahir dari rahim seorang pribumi India beragama Kristen bernama Matilda.

Artinya, tanpa disadari, Connolly memiliki hubungan kekerabatan dengan India. Ada puluhan atau bahkan ratusan sepupu jauh komedian pemilik gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE) yang saat ini tinggal di India dan berstatus sebagai warga negara India.

Meskipun mengejutkan bagi Connelly, tutur David Gilmour dalam bukunya The British in India: A Social History of the Raj (2018), hal ini sesungguhnya lumrah. Bahkan tak hanya India, tetapi juga banyak negara lain.

Pada masa puncak kejayaannya yang merentang sejak abad ke-18 hingga tahun 1950-an, Inggris benar-benar menguasai dunia. Dari 203 negara yang saat ini eksis di Bumi, 63 negara di antaranya pernah diperintah langsung oleh Inggris.

Sekitar 20 negara lainnya pernah dikuasai Inggris dalam tempo singkat, seperti Indonesia. Dan tak kurang dari tujuh negara lainnya dibentuk atas pengaruh atau kuasa Inggris.

Artinya, langsung atau tidak, sebentar atau lama, sepertiga bangsa di dunia pernah dikuasai Inggris. Hal ini kemudian melahirkan ungkapan "matahari tak pernah terbenam di Kerajaan Inggris".

Sayangnya, tulis Gilmour, "entah apa yang terjadi, dalam tataran pribadi, kelumrahan ini tersingkir dari ingatan kolektif masyarakat Inggris dan dunia."

Ketika Rishi Sunak, anak seorang imigran asal India yang tiba di tanah Britania via Afrika Timur pada 1960-an, menjadi Perdana Menteri Inggris untuk menggantikan Liz Truss, kelumrahan ini terasa mengejutkan.

Kemudian memercik sentimen rasialisme di sebagian kalangan publik Inggris. Uniknya, seperti klaim Priti Gandhi, Pemimpin Partai Bharatiya Janata India, dirayakan sebagai "kebangkitan kekuatan India dan Hindu di tataran global". Mereka merasa seolah-olah Sunak merupakan warga India.


Peran Besar Kaum Imigran di Inggris

Bagi Shetall Sharma dalam "Immigrant in Britain" (Dispora Studies, 2012), Inggris "selalu menjadi negeri imigran", atau merujuk E. R. Baithwaite dalam "The 'Colored Immigrant' in Britain" (Color and Race, 1967), Inggris "merupakan negeri yang dibangun, tak bisa disepelekan, oleh kelompok-kelompok imigran."

Ini misalnya dibuktikan dengan keberadaan Dadabhai Naoriji (1892-1895), Mancherjee Bhownagree (1895-1905), Sharpurji Saklatvala (1922-1923), dan Sinha Raipur (1919-1928) yang menjadi anggota parlemen Inggris. Juga dengan didaulatnya Mohammed Abdul Karim alias "the Munshi" sebagai sekretaris kesayangan Ratu Victoria.

Kenyataan ini, pada masa awal eksistensi Inggris, tak pernah mau diakui Inggris. Menurut Caroline Elkins dalam Legacy of Violence: A History of the British Empire (2022), hal ini terjadi karena orang-orang dari berbagai bangsa yang hijrah ke tanah Britania umumnya datang secara terpaksa.

Dan atas keterpaksaan tersebut, mereka hidup untuk mengisi "kasta" terendah kehidupan sosial masyarakat Inggris.

Inggris kedatangan "tamu" pertamanya dalam rupa para pelaut dari pelbagai etnis dan bangsa pada awal abad ke-17 sebagai pekerja pada kapal-kapal ekspedisi Inggris. Mereka kemudian bermukim di kota-kota pelabuhan seperti Cardiff, Liverpool, dan London.

Didasari sentimen rasialisme dan keterbatasan permukiman, Inggris tak mau imigran yang berprofesi sebagai awak kapal tersebut tinggal atau menetap di Inggris. Mereka kemudian mengeluarkan Merchant Shipping Act pada 1823.

Aturan ini, tulis Ian R. G. Spencer dalam British Immigration Policy: The Making of Multi-racial Britain (1997), "bertujuan memberi sanksi/denda berat terhadap perusahaan/pemilik kapal yang tak memulangkan awak non-Inggris mereka ke negeri asal [setelah perjalanan dilakukan]."

Namun, aturan tersebut tak berhasil menekan laju pertumbuhan kedatangan imigran. Bahkan, "diiringi pertumbuhan pesat ekonomi Inggris sesaat setelah Perang Dunia Pertama, imigran--khususnya asal Asia dan Afrika--kian membanjiri Inggris," tulis Spencer.

Imigran-imigran tersebut, uniknya, justru didatangkan sendiri oleh Kerajaan Inggris, bukan oleh pengusaha/pemilik kapal swasta, guna meningkatkan kapasitas armada laut/kekuatan militer kerajaan. Mereka umumnya berasal dari negara-negara koloni Inggris.

Sesaat, membanjirnya imigran di Inggris tak menghasilkan masalah tetapi justru keberuntungan. Ini terjadi karena selain diberdayakan untuk meningkatkan kapasitas armada laut/kekuatan militer kerajaan, mereka juga dipekerjakan sebagai penambang batu bara yang sangat penting dibutuhkan mesin-mesin kapal dan pabrik-pabrik.

Perlahan hal ini membuat para imigran mampu memiliki tempat tinggal sendiri di Inggris. Nahas, pada tahun-tahun antara Perang Dunia I dan II, bahan bakar mesin berganti dari batu bara menjadi minyak yang membuat banyak pekerja tambang batu bara kehilangan pekerjaannya.

Setelah kehadiran minyak, keterampilan yang berbeda dibutuhkan dan negara menomorsatukan penduduk asli Inggris untuk dijadikan pekerja, maka terciptalah sentimen buruk kepada para imigran.


Timbul anggapan bahwa rumah-rumah yang telah dimiliki imigran, atas kondisi ekonomi mereka yang memburuk, seharusnya dialihkan pada penduduk pribumi. Ini menjadi alasan kerusuhan rasial antara penduduk asli dengan imigran pada 1919 di Glasgow, South Sields, London, Liverpool, Cardiff, Barry, dan Newport.

Berbagai kerusuhan itulah yang akhirnya mendorong Inggris merilis Aliens Act pada 1919 untuk membatasi kedatangan imigran. Dilanjutkan dengan Aliens Order pada 1920 untuk melarang pelayar yang datang ke Inggris singgah tanpa memberikan bukti bahwa mereka penduduk Inggris.

Namun, lagi-lagi, aturan tersebut tak bisa diimplementasikan terlalu lama. Musababnya, sebagaimana dipaparkan Stephen Small dalam "Race, Immigration, and Politics in Britain: Changing Policy Agendas and Conceptual Paradigms" (Comparative Sociology, 2006), ekonomi Inggris menggelembung sesaat sebelum Perang Dunia II berakhir.

Kondisi ini membutuhkan sumber daya manusia yang banyak, juga dipengaruhi oleh gerakan hak sipil dan menggaungnya suara-suara persamaan ras, maka terjadilah gelombang imigrasi ke Inggris. Tahap pertama pada akhir 1940-an dan 1950-an, serta "twice migrants" yang terjadi pada 1960-an dan 1970-an.

Pada gelombang pertama, imigran umumnya didatangkan langsung oleh Inggris dari India. Proses ini terbantu oleh kecemasan sebagian penduduk India tentang masa depan mereka atas usaha Inggris menciptakan dua negara berbeda di tahan Hindustan, yakni India dan Pakistan.

Amanullah Khan, ayahanda Walikota London Sadiq Khan, merupakan imigran kelompok ini, yang tiba dari tanah Hindustan sisi Pakistan untuk menjadi sopir bus di London. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai teknisi pesawat tempur Pakistan gara-gara perpecahan bangsanya dengan India.


Infografik Mozaik Riwayat Imigran di Inggris
Infografik Mozaik Riwayat Imigran di Inggris. tirto.id/Tino


Sementara gelombang kedua didatangkan Inggris dari Uganda, Kenya, dan Tanzania. Menariknya, imigran yang didatangkan dari Afrika ini bukanlah kaum pribumi Afrika, tetapi warga India yang sebelumnya didatangkan Inggris ke Afrika sebagai pegawai negeri serta pengusaha untuk menghidupkan perekonomian.

Orang-orang ini tumbuh menjadi keluarga-keluarga makmur dengan pendidikan tinggi. Maka ketika kaum "bangsawan" Afrika ini ditarik ke Inggris, mereka menempati "kasta" yang lebih tinggi dibandingkan imigran-imigran lain.

Yashvir Sunak, ayahanda Rishi Sunak, merupakan kaum "bangsawan" Afrika keturunan India. Ketika hijrah ke Inggris, ia menjadi seorang dokter sembari menemani istrinya atau ibunda Rishi Sunak, Usha Sunak, menjalankan Sunak Pharmacy, sebuah perusahaan farmasi.

Rishi Sunak yang lahir di Southampton, dapat menimba ilmu di salah satu sekolah bergengsi di Inggris, Winchester College, untuk kemudian dilanjutkan di Oxford University.

Pada awalnya, meskipun kesetaraan ras semakin gencar digaungkan, Inggris tak mau para imigran--terutama yang berasal dari India--terlibat dalam dunia politik. Namun, dipelopori ide Partai Konservatif yang melihat kaum imigran dapat dijadikan lumbung suara, maka pada 1980-an mereka mulai dilibatkan dalam politik.

Terlebih, kembali merujuk E. R. Baithwaite dalam "The 'Colored Immigrant' in Britain", para imigran ini secara alamiah kemudian melahirkan anak-anak "asli Inggris yang sedari lahir fasih berbahasa serta berbudaya Inggris [sehingga] tak pantas dianggap 'orang asing'."

Akhirnya, ide Partai Konservatif tersebut menggiring Sadiq Khan (Partai Buruh, Pakistan, Islam) terpilih menjadi Walikota London pada 2016, dan Rishi Sunak (Partai Konservatif, India, Hindu) sebagai Perdana Menteri Inggris pada 2022.

Hal ini menegaskan kembali kata-kata Shetall Sharma dalam studinya, bahwa Inggris memang merupakan negeri imigran.

Baca juga artikel terkait IMIGRAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight