Menuju konten utama

Ketua IPW Neta S. Pane Meninggal, Sempat Terkonfirmasi COVID-19

Neta S. Pane sempat dirawat di rumah sakit karena terkonfirmasi COVID-19 dan meninggal dunia pada Rabu (16/6/2021).

Ketua IPW Neta S. Pane Meninggal, Sempat Terkonfirmasi COVID-19
Netta S Pane. antara/Dok. Pri

tirto.id - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Saputra Pane meninggal dunia di usai 56 tahun, Rabu, 16 Juni 2021. Yon Moeis, kerabat Neta, membenarkan informasi tersebut.

"Betul, tadi (meninggal) sekitar pukul 10.40 WIB di RS Mitra Bekasi Barat," Yon saat dihubungi reporter Tirto, Rabu (16/6/2021). Dia melanjutkan, Neta sempat dirawat di rumah sakit sejak 5 Juni karena positif COVID-19. Ia merupakan Ketua Presidium IPW sejak 2004 hingga akhir hayatnya.

Cikal bakal IPW lahir di awal reformasi, beberapa saat setelah rezim Orde Baru jatuh. Saat itu sejumlah aktivisnya terlibat dalam menggalang berbagai seminar dan diskusi tentang perlunya Polri yang mandiri, profesional, dan terpisah dari ABRI. Di awal 2000, lembaga ini diberi nama Indonesia Police Watch (Lembaga Pengamat Polri).

IPW merupakan lembaga swadaya masyarakat atau LSM. Lembaga ini berkedudukan di Jakarta dan nantinya mempunyai cabang di sejumlah daerah (saat ini dalam proses pembentukan). Anggota lembaga ini terdiri dari para pengamat, wartawan, pakar, dan kalangan akademisi yang peduli dengan masalah Korps Bhayangkara.

Neta Pane dikenal sebagai seseorang yang vokal mengkritisi lembaga kepolisian. Ia menilai lembaga kepolisian harus memiliki kredibilitas yang baik agar dipercaya oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan mengawasi kinerja lembaga ini termasuk beberapa pejabat di dalamnya.

Aktivis kelahiran Medan, 18 Agustus 1964 ini sebenarnya memulai kariernya di bidang jurnalistik dengan menjadi reporter di Surat Kabar Harian (SKH) Merdeka di Jakarta pada 1984. Di harian ini ia mengabdi selama 7 tahun hingga menduduki jabatan sebagai Redaktur Pelaksana di 1991.

Selepas dari SKH Merdeka, Neta menjadi asisten Redpel di Harian Terbit, Jakarta pada 1993 dan kemudian menjadi Redpel koran Aksi Jakarta. Ia mencapai jabatan tertinggi di bidang media adalah dengan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Surat Kabar Jakarta tahun 2002-2004.

Setelah kenyang berkarier di dunia jurnalistik, Neta kemudian aktif menjadi seorang aktivis hingga menjabat sebagai Ketua Presidium IPW.

Melalui IPW, putra pasangan Tapi Rumondang Siregar dan Endar Pane ini mengkritisi beberapa kasus kepolisian yang cukup menggegerkan seperti kasus rekening gendut sejumlah pejabat kepolisian, para perwira Polri yang diduga menerima suap dari Gayus Tambunan, hingga mengomentari tindakan polisi saat memeriksa Anas Urbaningrum. Ia menilai bahwa Polri dipecundangi oleh partai politik.

Baca juga artikel terkait IPW atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Abdul Aziz