Menuju konten utama

Ketika Sam Allardyce Mengikuti Jejak Sven Goran Eriksson

Para manajer tim nasional Inggris selalu mendapatkan tekanan yang sangat besar dari berbagai pihak. Mereka selalu berada dalam sorotan pers dan publik di negaranya bahkan dunia internasional. Bagaimana mereka menghadapinya?

Ketika Sam Allardyce Mengikuti Jejak Sven Goran Eriksson
Sven Goran Eriksson. [Foto/Andrew Tobin/Focus Images]

tirto.id - Mencari nafkah di sepakbola Eropa adalah pekerjaan yang sangat berat. Apalagi jika anda berkecimpung di negara dengan penduduk serewel Inggris—sebuah negara yang mengaku sebagai perumus awal sepakbola modern tetapi sudah tak memenangkan gelar selama 40 tahun terakhir.

Apalagi jika anda adalah manajer tim nasional Inggris.

Coba tanyakan itu kepada Sven-Goran Eriksson, manajer yang menangani tim nasional Inggris antara 2001 hingga 2006.

“Jika anda menjadi pelatih klub-klub seperti Gothenburg, Benfica, atau Lazio [klub-klub yang pernah dilatih Eriksson], maka anda memiliki ratusan ribu fans. Namun, jika anda melatih Inggris, anda punya 53 juta orang di belakang anda yang harus dipuaskan. [...] Itu adalah tekanan yang sangat besar, tapi tentu saja, ia datang satu paket dengan pekerjaan itu,” papar Eriksson kepada Newsweek.

Pernyataan Eriksson dikeluarkan seusai mundurnya Roy Hodgson dari kursi tim nasional Inggris pada pertengahan tahun ini, menyusul kegagalan tim nasional Inggris di Euro 2016. Sembari mengeluhkan panjangnya kompetisi Inggris yang membuat pemain kelelahan, Eriksson tak lupa menitipkan pesan kepada calon suksesor Hodgson.

“Saran saya sederhana saja : milikilah pikiran yang kuat. Anda harus selalu mengerjakan segala sesuatunya berdasarkan pemikiran anda dan terus mempertahankan itu sebisa mungkin. Jangan pernah goyah oleh tekanan dari luar, apalagi jika anda mengalami kekalahan,” tegas Eriksson.

Football Association/FA (asosiasi sepakbola Inggris) akhirnya menunjuk Sam Allardyce, mantan pelatih Sunderland dan Bolton Wanderers, sebagai penerus tampuk manajer Hodgson. Namun, belum lagi baku hantam dengan lawan-lawan tangguh di pertandingan sesungguhnya, Allardyce keburu terkapar akibat skandal yang menimpanya.

Sam Allardyce hanya bertahan selama 67 hari sebagai manajer tim nasional Inggris. Beberapa waktu lalu, mantan bos Bolton Wanderers dan Sunderland ini terpaksa meninggalkan jabatan setelah rekaman dirinya disebar oleh salah satu media ternama Inggris, Daily Telegraph.

Allardyce tertangkap kamera tengah berbagi resep-resep jitu untuk mengakali aturan transfer pemain kepada beberapa “pebisnis” yang ternyata merupakan wartawan investigasi yang sedang menyamar. Tak pelak, Allardyce menuai banyaknya kecaman dan berujung pada pelengserannya dari kursi manajer Inggris.

“Kesialan” Allardyce, ironisnya, bukanlah kasus yang pertama kali menimpa seorang manajer timnas Inggris. Rekam jejak Allardyce sebagai korban penyadapan ternyata sudah didahului oleh Sven-Goran Eriksson sendiri.

Pria berkebangsaan Swedia itu sempat curhat panjang lebar tentang kualitas tim nasional Inggris kepada seorang “sheikh” kaya raya dari Timur Tengah. Sayangnya, sang “sheikh” ternyata merupakan reporter spesialis penyamar dari harian News of The World—yang kini sudah tutup karena kerap melanggar kode etik jurnalistik.

Selayaknya modus yang dipakai wartawan Telegraph untuk “menjebak” Allardyce, Mazmer Mahmood—wartawan News of The World yang menyaru sebagai sang “sheikh”-- menyamar sebagai seorang pengusaha kaya asal Timur Tengah dan mengundang Eriksson ke dalam sebuah makan siang mewah di Burj Al-Khalifa, hanya lima bulan sebelum Piala Dunia 2006 bergulir.

Mahmood berpura-pura ingin membeli klub Aston Villa di Liga Inggris dan meminta bantuan Eriksson untuk memuluskan rencananya. Eriksson bahkan bersedia untuk menangani Aston Villa jika Inggris sampai menjuarai Piala Dunia 2006.

Eriksson sempat menjamin bahwa proses takeover klub yang bermarkas di kota Birmingham itu akan berjalan lancar, karena Doug Ellis, chairman Aston Villa saat itu, sudah tak memiliki kuasa apa-apa serta “sudah terlalu tua dan sakit-sakitan”.

Tak tanggung-tanggung, Eriksson bahkan mengaku sanggup mendatangkan superstar David Beckham ke Aston Villa. Ia mengaku memiliki hubungan yang sangat erat dengan Beckham.

“Mungkin musim ini atau musim depan [transfer Beckham]. Tapi jika ia memang ingin pergi, maka Real Madrid pasti akan menjualnya. Senin depan saya akan bicara dengannya tentang transfer ini. Maksudku, bukan tentang Aston Villa. Ini saat yang berat untuk David, sudah musim ketiganya tanpa memenangkan apapun. Ia tak yakin kondisi di Madrid akan membaik. Beberapa pemain bintang sudah menua, dan Madrid sudah mempekerjakan lima pelatih dalam tiga setengah tahun terakhir,” beber Eriksson seperti dikutip dari Telegraph.

Eriksson bagai tak mampu menjaga mulutnya saat berbicara dengan Mahmood. Dalam percakapan tersebut, pelatih berambut putih itu juga membeberkan keburukan pemain-pemainnya seperti Wayne Rooney, Michael Owen, dan Rio Ferdinand.

“[Kekurangan Rooney] adalah sikap temperamentalnya. Ia datang dari keluarga miskin. Ayahnya dulu seorang petinju. Ia sebenarnya juga bisa jadi petinju juga,” ujar Eriksson. Sementara itu, Eriksson berseloroh bahwa Ferdinand adalah pemain yang “malas” dan mengatakan bahwa Owen hanya bertahan di Newcastel United karena klub itu mampu membayarnya dengan tinggi.

Peristiwa penyadapan ini tidak serta-merta mengakhiri karier Eriksson. Ia masih diberi kesempatan memimpin Inggris di Piala Dunia 2006 meskipun selepas turnamen itu ia lengser dari posisi manajer timnas Inggris. Namun, kasus penyadapan ini cukup mengganggu persiapan tim nasional Inggris, mengingat pemain-pemain yang disebutkan oleh Eriksson merupakan pemain inti di skuadnya.

The Guardian memberitakan bahwa Eriksson sampai harus meluangkan satu hari penuh untuk menelepon para pemainnya dan meminta maaf kepada mereka satu per satu. Meskipun begitu, FA saat itu masih mendukung penuh Eriksson karena kasusnya sebenarnya hanya ada dalam ranah etika semata dan tidak menyangkut pelanggaran aturan hukum seperti yang saat ini tengah dihadapi Allardyce.

Pesona Sang Manusia Es

Eriksson dan Allardyce sebenarnya mewakili dua pribadi yang berbeda. Eriksson adalah seorang berwatak kalem dan flamboyan, sedangkan Sam Allardyce adalah tipikal kelas pekerja Inggris yang lebih energik dan selalu tampak bersemangat. Ketenangan Eriksson membuatnya dijuluki sebagai Iceman (Sang Manusia Es).

Sikap flamboyan inilah yang menjadi perbedaan utama antara Eriksson dan Allardyce serta manajer-manajer Inggris lainnya. Eriksson dikenal sebagai seorang penakluk wanita. Kharisma Eriksson tidak kalah dibandingkan para pemainnya seperti David Beckham, Michael Owen, hingga John Terry. Hal ini membuatnya dikenal dekat dengan banyak wanita.

Eriksson berkali-kali diketahui berselingkuh dengan wanita-wanita cantik dan terkenal. Uniknya, kasus perselingkuhan Eriksson seringkali merebak beberapa saat sebelum atau sesudah Inggris mengikuti turnamen-turnamen besar di tingkat internasional.

Huffington Post mencatat, tepat lima minggu sebelum terjun ke Piala Dunia 2002, Eriksson diketahui berselingkuh dengan seorang selebritis bernama Ulrika Jonsson. Dua tahun kemudian, seusai kalah di perempatfinal Euro 2004 setelah disingkirkan tuan rumah Portugal, Eriksson kembali berselingkuh dengan Faria Alam yang saat itu menjabat sebagai sekretaris FA.

Perselingkuhan Alam dan Eriksson adalah kasus yang sangat menghebohkan khalayak Inggris, karena di saat yang bersamaan, Alam juga menjalin cinta dengan Mark Palios, chief executive FA saat itu. Terungkapnya perselingkuhan segitiga ini berdampak pada mundurnya Palios dari kursi chief executive FA.

Eriksson? Maaf, jabatannya masih aman. Ia bahkan kembali mendapatkan perpanjangan kontrak untuk menangani Inggris hingga Piala Dunia 2006.

Kontroversi yang melingkupi karier Eriksson terbukti tidak sampai membunuh kariernya. Berbeda dengan kasus Allardyce yang telah menyerempet ranah hukum, kontroversi Eriksson “hanya” beredar di seputaran etika saja.

Eriksson masih tetap melatih hingga saat ini, meskipun selepas menangani Inggris, ia belum pernah lagi menangani klub-klub besar atau timnas terkenal. Di sisi lain, menarik ditunggu nasib apa yang kelak akan menimpa karier kepelatihan Allardyce.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan lainnya dari Putu Agung Nara Indra

tirto.id - Olahraga
Reporter: Putu Agung Nara Indra
Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti