Ketika Ibu Tunggal Membangun Keluarga

Oleh: Yulaika Ramadhani - 8 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Faktor terpenting dalam mengasuh anak bukanlah identitas atau jenis kelamin orang dewasa yang terlibat, tetapi kualitas asuhan serta konsistensinya
tirto.id - "Ibu dan bapak beserta anak-anaknya". Demikianlah Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata "keluarga". Memang ada arti lain dalam KBBI, namun pengertian di atas dirujuk sebagai yang pertama dan utama.

Rumusan KBBI itu sedikit banyak memperlihatkan gambaran dominan tentang apa arti keluarga yang berkembang di masyarakat. Gambaran itu memperlihatkan keluarga sebagai sekumpulan individu yang tergabung oleh relasi perkawinan dan hubungan darah, yang hidup dan berinteraksi dalam satu rumah tangga, serta menjalankan perannya masing-masing.

Namun, tidak selamanya gambaran keluarga persis seperti yang ditulis oleh KBBI. Rumah tangga dengan orangtua tunggal adalah juga kenyataan yang ada di sekitar kita. Data yang cukup signifikan bisa ditemui di Amerika Serikat.

Berdasar catatan U.S Census Bureau tahun 2016, anak di bawah usia 18 tahun yang tinggal bersama orangtua tunggal terdapat di 11 juta keluarga di Amerika. Sebagian besar, 8,5 juta keluarga, hidup dengan ibu saja. Dan 2,5 juta keluarga hidup dengan ayah saja. Dari sensus diketahui bahwa terdapat 49 persen ibu yang dari awal memutuskan berkeluarga dengan mengadopsi anak saja (tanpa menikah dengan pasangannya), sedang 51 persen sisanya merupakan ibu tunggal akibat perceraian atau kematian suami.

Baca juga: Tingkat Perceraian di Indonesia

Perceraian memang masih menjadi penyebab dominan orangtua tunggal. Hermia Anata Rahman dalam penelitian yang berjudul Pola Pengasuhan Anak yang Dilakukan oleh Single Mother (Kajian Fenomenologi tentang Pola Pengasuhan Anak yang Dilakukan oleh Single Mother di Kelurahan Sukoharjo) menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab banyaknya ibu tunggal di Indonesia adalah perceraian. Data BPS mengonfirmasi penelitian itu. Pada 2015 saja BPS mencatat terdapat lebih dari 345 ribu kasus talak dan cerai di Indonesia.

Tentu saja tidak mudah menjadi orangtua tunggal. Kendala dan tantangannya lebih berat ketimbang mengasuh anak berdua. Khusus para ibu yang menjadi orangtua tunggal, mereka juga masih sering menghadapi stereotipe yang tidak mengenakkan sebagai seorang janda.

Kendati demikian, keluarga dengan orangtua tunggal tidak selalu lebih buruk dari keluarga yang masih memiliki orangtua lengkap. Sejumlah penelitian telah mengungkap unsur-unsur terpenting dalam mengasuh anak tidaklah monolitik. Selain tidak melulu ditentukan oleh identitas atau jenis kelamin orang dewasa yang terlibat, ternyata yang lebih penting adalah kualitas asuhan serta konsistensinya selama bertahun-tahun.

Susan Golombok dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Family Psychology tahun 2016 mencoba mencari tahu mengenai perkembangan psikologis anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal karena pilihan (single mother by choices).

Baca juga: Mengapa Perceraian Terjadi?

Golombok mempelajari 51 keluarga ibu tunggal dan dibandingkan dengan 52 keluarga dengan sepasang orangtua. Unsur yang diukur dalam penelitian adalah kualitas hubungan ibu dengan anak. Dari wawancara yang ia lakukan ditemukan frekuensi terjadinya konflik antara anak dengan ibu tunggal ternyata lebih rendah dibanding anak yang dibesarkan sepasang orangtua.

Sedang jika dilihat dari cara mengatur dan mengasuh anak antar-kedua kelompok tersebut (orangtua tunggal dan orangtua lengkap) tidak ditemukan perbedaan signifikan. Baik anak yang hidup bersama ibu tunggal maupun yang dibesarkan kedua orangtua sama-sama diberikan pendidikan dan kesejahteraan yang sama. Golombok menyimpulkan konsistensi dalam pengasuhan anak inilah yang butuh ditekankan kepada setiap orangtua, baik orangtua tunggal maupun lengkap.

infografik single parenting


Nyatanya, selain bersama ibu tunggal, anak-anak juga bertumbuh bersama orang dewasa lainnya seperti nenek, kakek, guru, pelatih sepakbola, atau juga guru spiritual yang masing-masing mempunyai kapasitas mendukung perkembangan anak.

Dalam penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti Universitas Columbia dan Universitas Princeton, ditemukan hanya 17 persen ibu tunggal yang melaporkan bahwa mereka membesarkan anak-anak mereka sepenuhnya sendirian. Kebanyakan mereka juga dibantu ayah anak (meski tidak serumah), orang tua mereka sendiri, kerabat atau teman lainnya.

Baca juga: Ambisi dan Kekangan Orangtua Berakibat Buruk pada Anak-Anak

Menyikapi hal ini, psikolog klinis Kyle Pruett dari Pusat Studi Anak Universitas Yale menyarankan agar ibu tidak terlalu kaku menghadapi perbedaan cara mengasuh "orangtua penolong" tersebut.

“Ibu pertama-tama harus belajar menerima bahwa ‘orangtua penolong’ mereka akan memiliki gaya pengasuhan yang berbeda dari mereka dan sebaiknya jangan didorong untuk memiliki perilaku pengasuhan yang [harus selalu] sesuai dengan yang ia terapkan. Upaya duplikasi bahkan bisa menjadi bumerang,” kata Kyle.

Hal ini berlaku juga untuk ayah yang hidup terpisah dengan anak dan mantan istrinya. Terlepas dari urusan atau masalah romantik antardua orangtua tersebut, mereka bertiga (ayah-ibu dan "orangtua penolong") idealnya bisa melakukan kerja tim dengan peran masing-masing, dengan gaya asuh masing-masing.

Selain itu, "orangtua penolong" ini juga berperan sangat penting meningkatkan pertumbuhan intelektual anak. Sebuah tinjauan di Journal of Community Psychology baru-baru ini menemukan bahwa mentor, termasuk saudara, guru atau orang dewasa lain yang terlibat, mempunyai peran dalam memajukan prestasi akademik anak. Ibu tunggal yang berkolaborasi bersama mereka, mempunyai kapasitas luas dalam mengajarkan gagasan, pengalaman baru dan sama-sama bisa saling memantik untuk berpikir kritis.

Baca juga: Orangtua Tidak Perlu Buru-Buru Menyekolahkan Anak

Elemen terakhir, berpikir kritis, ini merujuk perbedaan gaya pengasuhan dan mendidik. Jika saling terbuka, berkomunikasi, dan secara berkala melakukan evaluasi, para orang tua itu dapat menguji premis-premis pendidikan dan pengasuhan yang selama ini dipraktikkan.

Ibu tunggal juga butuh memahami bahwa pengetahuan bisa ditemukan dan dikembangkan di mana saja dan dengan siapa saja, tidak hanya di museum atau di bangku sekolah, tapi juga saat makan malam bersama kakek neneknya, saat bermain bersama saudara sepupu, atau selama perjalanan dari latihan sepakbola bersama kolega si ibu. Kuncinya, kata periset, memperhatikan apa yang diminati anak-anak dan mengikuti jejak mereka. Hal ini diungkapkan juga oleh Anne Martin, seorang psikolog di Universitas Columbia, bahwa pertumbuhan anak tidak melulu ditentukan oleh orangtua, tapi juga lingkungan.

"Anak perlu merasa aman di lingkungannya untuk tumbuh secara intelektual dan emosional."

Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Zen RS